The Third Team Series : Casino Alias (Part 1)


Third Team Agent Cast :

JI ChangWook, Bang Sung Joon,

Kim Minhee, Kim Woobin,

Ahn Jaehyun, and Cha Seungwon.

Supporting Cast:

Song Jiyeon, Lee Minho, Kim Jaejjong,

Other Artist (Cameo)

Author: Alicia Kim /@Qraelf

Editor : Ririnsetyo



Lee MinHo’s House

Basket ball court

Seoul

“Shoot Jaehyun!! Shhooottt!!!!” teriak Minhee, ia frustasi, melihat Jaehyun yang hanya terdiam ketika menerima bola basket yang diberikan Minho.

“Berikan bolanya padaku!” giliran Sung Joon yang berteriak, pria yang tak kalah geram dari Minhee itu sudah bersiap menerima bola dari Jaehyun. Namun terlambat, Jongsuk yang berdiri di depan Sung Joon menepisnya dengan mudah, hingga bola itu kini melayang dan ditanggap cepat oleh Woobin.

“Aaarrghh!!!” Minhee kembali berteriak, mengacak rambutnya yang kuning keemasan hingga tatanannya berantakan. Minhee tidak bergabung dalam permainan Basket kali ini, ia hanya duduk di bangku penonton bersama Jiyeon, beberapa pelayan datang membawa nampan berisi air mineral, juice dan handuk.

“All Berry Vanilla Juice.” Minhee menatap Jiyeon sekilas, menerima sebotol juice yang disodorkan kekasih sahabatnya itu.

“Ahn Jaehyun! Kau itu laki-laki apa bukan? Kenapa tingkahmu seperti anak perempuan!” umpat Minhee untuk kesekian kalinya, gadis itu sudah berdiri bertolak pinggang. Ia sangat kesal, karena Jaehyun lagi-lagi dengan mudah membiarkan Woobin mengambil alih bola dari tangan pria itu.

“Kalian tidak bosan mengajari Jaehyun bermain basket? Sepertinya dia sama sekali tidak tertarik.” Jiyeon tersenyum samar, mata beningnya menatap khawatir ke arah Jaehyun yang kini tengah dimarahi oleh 4 kakak laki-lakinya sekaligus.

“Dia harus bisa melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh anak laki-laki seumurannya. Kami hanya ingin dia menguasai olahraga favorit kaum laki-laki itu, jika perlu kami juga akan membuatnya berkencan dengan seorang gadis,” ucap Minhee panjang lebar, ia menatap para pria di lapangan basket terbuka di halaman belakang rumah Minho yang sanga luas itu, perlahan mendekati bangku penonton.

“Ahn Jaehyun! Kau membuatku frustasi!” teriak Sung Joon, ia yang paling geram dengan Jaehyun. Minhee dan Jiyeon memberikan air mineral dan Juice pada pria-pria tinggi di depan mereka.

“Bukankah aku sudah bilang ribuan kali, jika aku tidak menyukai basket atau apapun yang membuat aku berkeringat.” Jaehyun mengeser tubuhnya, berdiri di samping Jiyeon yang baru saja memberinya sebotol juice apel kesukaannya. Tersenyum saat Jiyeon mengusap pelu di wajahnya dengan handuk, tak sadar jika Woobin sudah mendesah kesal karena untuk kesekian kalinya Jaehyun mensabotase kekasihnya.

“Lagipula untuk apa mengejar satu bola yang bisa kau beli di toko berapapun kau mau.” tambah Jaehyun lagi, wajahnya cemberut, menyandarkan kepalanya di atas kepala Jiyeon.

“Tenanglah aku akan mendapatkan gadis suatu hari nanti walau aku tidak suka berolahraga, Jiyeon Noona juga tidak suka berolahraga dan lihat… dia mendapatkan Woobin Hyung, lalu dimana letak kesalahanku?”

Ne… berhenti memarahi adik-ku. Kalian berlebihan.” ucap Jiyeon seraya merangkul lengan Jaehyun, Woobin yang ingin menyela terlihat menahan lidahnya saat Jiyeon menatapnya galak.

“Sepertinya basket terlalu berat untuk Jaehyun.” ucap Minho, laki-laki itu mengeleng pelan, tangannya bergerak menyeka keringat dengan handuk.

“Minho benar ini terlalu berat unuk Jaehyun.” Jiyeon memalingkan wajahnya, menatap Jaehyun dengan senyum cantiknya. “Jaehyun-nie aku akan mengajarimu membuat cupcake saja, bagaimana?” Jaehyun mengangguk antusias, ia ingin memeluk Jiyeon namun seseorang menarik ujung kaos yang dipakainya, membuatnya terhuyung kebelakang.

“Sudah cukup mensabotasi Jiyeon-ku, Ahn Jaehyun.” ucap Woobin yang sudah berdiri di depan Jiyeon, menyembunyikan gadis-nya itu di belakang pungungnya.

Hyung… dia Noona-ku.”

“Aku tidak peduli.”

Noona….” rengek Jaehyun, ia berusaha mengintip Jiyeon dari balik bahu Woobin yang bidang.

Oppa kau berlebihan, Jae….” ucapan Jiyeon terhenti dalam sekejab, ia yang baru saja hendak keluar dari balik punggung Woobin, terlihat mengurungkan niatnya, mendapati Woobin yang menatapnya tajam, dingin dan tak terbantahkan.

Semua orang di sana tertawa, Sung Joon yang paling keras, pria itu bahkan membuat gerakan mengusap kedua tangan di pipi bersama Jungsok, membuat Jaehyun kesal bukan kepalang. Jaehyun berusaha menarik Jiyeon namun niatnya segera ditepis Woobin, pria itu benar-benar menjaga Jiyeon-nya dari tangan jahil Ahn Jaehyun.

“Aku tidak percaya mereka berdua adalah agent yang hebat.” bisik Minho, ia merangkul Minhee erat dan membiarkan gadis itu bersandar di bahunya.

“Apalagi aku.” Minhee hanya mengeleng, tak kuasa menahan tawa menatap tingkah Woobin dan Jaehyun yang kekanakan.

Woobin, Minhee, Sung Joon, Jongsuk dan Jaehyun menghentikan kegiatan mereka seketika, meraih handphone mereka masing-masing yang tergeletak di atas sebuah meja kaca, di depan bangku penonton.

Dutty
calls.” ujar Sung Joon, semua agent mengangguk bersamaan.

Noona aku harus pergi, jaga dirimu. Noona tenang saja, aku akan menjaga Woobin hyung dengan segenap jiwa dan ragaku… aauuwww….” ucapan Jaehyun terhenti, ia mengaduh, mengusap kepalanya yang baru saja mendapat pukulan kecil dari Woobin. Pria yang kini sudah menatap Jiyeon lekat, terbersit rasa tidak rela untuk pria itu yang sudah harus meninggalkan Jiyeon lagi padahal baru kemarin mereka bertemu.

Come
on Woobin kita harus bergegas.” Minhee berteriak, gadis itu memeluk Minho sekilas, menautkan bibir mereka singkat lalu mendekati Woobin.

“Jiyeon….” ucap Minhee, memohon pada gadis itu untuk membuat Woobin rela meninggalkannya.

Eoh,
Oppa pergilah aku akan baik-baik saja.” Jiyeon tersenyum yakin, tangannya mengusap lengan Woobin lembut.

Woobin tanpa perintah ikut tersenyum, ia mengulurkan tangannya, mengusap wajah Jiyeon sesaat sebelum mengecup puncak kepala gadis itu. “Jaga dirimu selama aku tidak ada.” Jiyeon mengaangguk.

“Aku akan mengantar Jiyeon ke apartementnya dengan selamat, kau tenang saja Woobin-ah.” ucap Minho, ia tahu jika Woobin selalu mencemaskan Jiyeon selama dia bertugas, sama seperti dirinya yang selalu mencemaskan Minhee, Minho bahkan berfikir sebentar lagi dia akan gila akan hal itu.

“Terima kasih, Minho.”

“Selama ini kau selalu menjaga kesayanganku dengan sangat baik, jadi tidak masalah… lagipula Jiyeon benar-benar gadis yang menyenangkan.” ucap Minhoo tulus, pria itu baru saja kembali mendapat kecupan dari Minhee.

Semua agent pun bersiap, mereka melangkah tergesa meninggalkan Jiyeon dan Minho yang mendesah gelisah di belakang sana.

“Minho, apa selama ini kau pernah berfikir untuk mengencani seorang agent rahasia sebelumnya?

“Tidak, sebelum aku bertemu dengan Kim Minhee.” jawab Minho yang mendapat anggukan setuju dari Jiyeon, sesaat sebelum mereka berjalan menuju beranda.

****

3rd team masuk dalam kendaraannya masing-masing. Woobin dengan Jaehyun, Sung Joon dengan Jongsuk sementara Minhee mengendarai mobilnya sendiri, berjalan beriringan menembus ramainya jalanan kota Seoul dipagi hari.

“What We got?” tanya Minhee yang berkomunikasi dengan rekan-rekanya yang berada di Ops atau pun berada di kendaraanya masing-masing, menggunakan telepone satelite khusus dari dalam Red Lexus NX turbo limited edition miliknya.

“Penyergapan pabrik Cocaine terbesar se-Asia, Changwook hyung sudah berada disana bersama Cheonsa noona.” jawab Jaehyun dari dalam Black GMC Terrain yang dikendarai Woobin.

Back up?” tanya Sung Joon dari White Audi Q7 yang ia kendarai melebihi batas kecepatan, membuka jalan untuk kedua rekan yang berada di belakang kendaraannya.

“Stand By in their position.” jawab Jaehyun tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya.

“Jongsuk-ah, apa kau membawa senjatamu?” tanya Minhee yang tetap Fokus dalam mengendarai kendaraanya.

Of Course darling.” jawab Jongsuk menyeringai, menatap Tools Kit di belakang kursi yang ditempati oleh Sung Joon.

“20 Minutes Guys!” ujar Woobin mengingatkan.

“Hold On, Jaejoong call.” Minhee menekan tombol pada kemudinya, untuk menjawab panggilan dari Kakak paling tampan, serta melupakan tombol lainnya untuk meng-Hold percakapannya dengan rekan sesama agen nya.

“Kim Minhee Speaking!”

“SUDAH KU KATAKAN UNTUK TIDAK MENGENDARAI MOBIL DENGAN KECEPATAN TINGGI!!! MEMANGNYA APA YANG KALIAN SEMUA LAKUKAN SAMPAI HARUS MENGENDARAI KENDARAAN SEPERTI ITU!!!!!”

“AAGGHH!!” Minhee, Woobin, Jaehyun, Jongsuk dan Sung Joon yang mendengar teriakkan Jaejjong mengerang tertahan, mereka mengelengkan kepala seraya berharap rasa berdengung di telinga mereka akan segera hilang.

Oppa!!!” teriak Minhee yang tak kalah nyaring di telinga para agent lainnya. “Bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Kau bisa membuat telingaku tuli!” protes Minhee.

“Diam Kau! Bisakah tak mengendarai mobilmu dengan kecepatan 120 Km per jam?! Hey! ini bukan jalanan bebas hambatan!!” Jaejoong tak kalah sengit.

“KIM WOOBIN, BANG SUNG JOON, Aku melihat mobil kalian juga, lihat saja akan ku beri pelajaran kalian bertiga!!”

Oppa Saranghae.” Minhee mematikan sambungan telepone antara dirinya dan Jaejjong begitu saja, kembali melajukan mobilnya kencang menuju tempat kejadian perkara.

Woobin, Sung Joon dan Minhee memarkir mobilnya dengan sembarang, mereka keluar tergesa menuju bagasi mobil masing-masing yang telah diubah dengan sedemikian rupa untuk menyimpan senjata dan beberapa perlengkapan lainya. Mereka mengeluarkan senjata laras panjang yang akan mereka gunakan, memakai masker yang menutupi setengah dari wajah mereka, kacamata, jaket khusus anggota NTS dan rompi anti peluru, sebelum bergabung bersama Changwook dan Cheonsa. Dapat terlihat oleh para Agent, mobil kepolisian, beberapa Agent NTS, sudah bersiap siaga menunggu aba-aba untuk menyerang. Seungwon sedang bertugas keluar negeri, sehingga kepemimpinan diambil alih oleh Woobin dan Minhee.

“Status?” Woobin mendekati Changwook yang sedang berkoordinasi dengan Cheonsa dan beberapa Agent lainnya, diikuti oleh beberapa Agent dibelakangnya.

Good and ready for Command!” jawab Changwook.

“Siapkan anggota yang lain, kita akan melakukan penyergapan sebentar lagi.”

“Minhee, kau bersamaku. Sung Joon, Jongsuk bawa beberapa anggota menuju pintu belakang, pastikan tak ada satupun yang berhasil lolos. Changwook, kau dari sisi kanan. Terakhir Cheonsa, Jaehyun kalian dari sisi kiri.” para Agent langsung berlari menempati posisi masing-masing.

“Status Guys?!” tanya Minhee.

Ready in position.”

Lets do this!” ujar Woobin.

“EVERYBODY MOVE!!!!!” teriak Minhee, membuat semua pasukan dari segala arah menerobos masuk kedalam pabrik Cocaine.

“POLICE!! POLICE!!! GET DOWN ON THE FLOOR!!” teriak Woobin diikuti Minhee yang berlari dengan senjata laras panjang HK416. Para anggota kepolisian, NSS dan NTS pun ikut berlari mengikuti Minhee dan Woobin.

“Police Everbody out!!” teriak salah satu gembong memberi tahu kedatangan polisi kepada rekan-rekanya.

“NTS!! Get Down!!” teriak Minhee yang berlari kearah lain, menjauh dari Woobin. Minhee dapat melihat seorang gembong Cocaine menaiki sisi belakang Truck yang diduga menyimpan ratusan kilo Cocaine sedang mengarahkan Shutgun kepada Woobin.

“DOR!! DOR!!” dengan cekatan Minhee menembakan amunisi dari AR 15 miliknya dan tepat mengenai tangan dan kepala salah satu anggota gembong Cocaine tersebut.

Terjadi baku tembak antara para anggota gembong Cocaine dan para aparatur negara itu. para anggota gembong Cocaine tersebut menggunakan senjata laras panjang dengan berbagai macam jenis, AK47, Remmington 700, dan masih banyak lagi.

“DOR!! DOR!! DOR!!”

Para anggota gembong narkoba mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, menembakkan semua amunisi yang mereka punya ke arah para agent.


“DORR DOOR!! DORR!!”

“Minhee menunduk!!” teriak Jaehyun yang mengarahkan senjatanya pada Minhee. Minhee menundukkan tubuhnya bertepatan dengan Jaehyun yang menembakkan senjatanya mengenai salah satu anggota gembong Cocaine yang berada dibelakang Minhee.

“Ahn Jaehyun, mana rasa hormatmu?!” protes Minhee.

“Rasa hormat apa?!” Changwook menjitak kepala Minhee dan meninggalkannya begitu saja, Minhee mendengus kesal kemudian kembali fokus pada misi utama mereka.

“DOR!! DOR!! DOR!!”

“Jongsuk-ah dibelakangmu!” Jongsuk pun menunduk, memutar tubuhnya dengan cepat, menembakkan senjatanya lebih cepat dari gembong Cocaine tersebut.

Are We Clear?!” teriak Woobin ketika sudah tak mendengar lagi suara tembakan.

“Clear!!”

“Clear!!”

“Clear!!”

****

Press Confrence

Outside Cocainee Fabric

Para anggota NTS berjejer rapi di belakang puluhan mobil kepolisian, tidak terlalu menampakakkan diri dan masih dengan kacamata dan masker khusus yang menutupi hampir dari seluruh wajah mereka. Kepala Polisi akan membuat pengumuman untuk para wartawan yang sudah berkumpul di luar gedung penangkapan. Para wartawan itu datang dari berbagai kalangan, mulai dari wartawan televisi, surat kabar, hingga wartawan radio, baik local maupun mancanegara, mereka berdiri teratur di depan para team kepolisian. Puluhan lampu blitz dan suara gesekan dari kamera yang dibidik mulai terdengar, Woobin selaku ketua mengangguk pelan saat Choi Siwon, kepala Polisi penyergapan hari ini bersiap memberikan keterangannya.

Jaehyun yang berdiri di sebelah Minhee terdengar mendesah pelan. “Noona kenapa kita harus memakai masker dan berdiri paling belakang? Padahal jika mereka semua melihat wajahku, aku pastikan mereka semua akan terpesona.”

“Jaehyun Sayang… jika kau ingin semua orang tahu wajahmu, maka kau harus memilih profesi sebagai model atau actor, bukan agent rahasia negara.” Minhee mengacak rambut Jaehyun pelan, melirik Woobin yang sudah menatap muak ke arah Jaehyun yang kini sudah bersandar manja di bahu Minhee.

Siwon menggenggam satu kantong Cocaine seberat 1 kilogram di tangannya, sebagai barang bukti sitaan dari penangkapan hari ini, sedangkan sisanya sudah diamankan didalam mobil kepolisian, terlalu berbahaya jika dipublikasikan semuanya.

“Pada jam 12 siang ini, Tim taktis narkotika Kepolisian bekerjasama dengan NSS dan NTS berhasil menyita hampir 1000 kilogram Cocaine, diperkirakan bernilai lebih dari 300 juta Dollar. Kami juga menangkap beberapa tersangka yang kami percayai berhubungan dengan Kartel narkoba terbesar di Asia.” jelas Siwon, puluhan lampu blitz kembali menerpa wajahnya.

“Sir, bukankah ini adalah pencapaian terbaru dari kepolisian untuk membongkar kejahatan narkoba diseluruh Asia?” tanya salah satu wartawan wanita.

“Itu yang dikatakan mereka, dan aku berterima kasih pada seluruh agent terbaik yang membantu untuk membongkar kejahatan ini.” jawab Siwon.

“Kami juga mendengar ada baku tembak yang terjadi didalam sana, apa ada yang terluka?”

“Satu tersangka tewas, satu Agent menderita luka ringan, dan dua orang dari pihak kepolisian dinyatakan tewas ditempat.” terang Siwon.

“Apakah anda dapat mengkonfirmasi rumor bahwa Steven Chang juga tewas dalam kejadian ini?!” tanya salah satu wartawan pria.

“Steven Chang adalah salah satu gembong narkotika yang mempunyai peran penting dalam setiap pembuatan serta pengedaran Cocaine. Kami tidak menemukan keberadaannya pada operasi kali ini, namun kami menemukan Darwis Chun yang kami curigai menjadi tangan kanan Steven Chang pada setiap kegiatan yang ia lakukan.” jelas Siwon lagi.

“Darwis Chun ditemukan tewas di tempat kejadian, kami belum bisa memberikan detail penyebab tewasnya Darwis Chun. Laporan Otopsi yang dilakukan oleh salah satu Agent NTS akan kami konfirmasi lagi.” ujar Siwon.

“Apakah….”

DORR!!!—-

Suara tembakan tiba-tiba terdengar membuat semua wartawan yang berkumpul disana sontak menjerit histeris, disana tak jauh dari Minhee yang sudah diposisi tiarap seorang agent pria jatuh terkapar dengan darah yang mengucur dari tubuhnya, ia sekarat. Polisi dan anggota team tiarap, sebagian berlindung di balik mobil kepolisian. Semua orang semakin panik, berlarian untuk menyelamatkan diri, mereka semua masih terlalu takut jika ada penembakan lainnya setelah ini, mereka tak mau menjadi korban selanjutnya.

Woobin mengerakkan kepalanya cemas, ia tidak menemukan Minhee di sisi tubuhnya. Suara teriakan Woobin yang meneriakkan gadis itu, hilang timbul bersama suara para wartawan yang menghambur kocar kacir. Namun sesaat kemudian Woobin bisa menangkap sosok Minhee, gadis itu duduk bersimpuh didepan tubuh seseorang yang terkapar di tanah. Perlahan Woobin berdiri mendekati Minhee, dia sudah mengeluarkan senjatanya dan tetap waspada. Mata sipit Woobin melebar, menatap sosok berdarah yang ada di pangkuan Minhee.

“Changwook….”

Stay with me!” Minhee menekan dada Changwook dengan jemarinya yang kini sudah berlumuran darah, pandangannya mengabur, nafasnya tersumbat menatap Changwook yang mulai terlihat kesulitan bernafas.

“I NEED AMBULANCE!!!” Minhee berteriak tanpa mengalihkan pandangannya dari Changwook.

“Ber—lin—dung….” Changwook sekarat, nafasnya satu-satu, mata hitam pekatnya mulai meredup bahkan nyaris tertutup.

“Hubungi ambulance sekarang juga,” Woobin memberi perintah.

“Minhee, Changwook akan dibawa dengan mobil kepolisian, ditengah perjalanan dia akan dipindahkan ke ambulance yang sedang meluncur kemari. Jongsuk! Cepat kemari.”

Jongsuk segera menghampiri Woobin, ia menatap Woobin sekilas lalu mengangguk mengerti. Jongsuk berjongkok, melepaskan rompi dan kemejanya, mengambil alih Changwook dalam pangkuannya. Ia merobek lalu melilitkan kemejanya diluka tembak Changwook, menekan nadi terdekat dari posisi luka agar darah tidak semakin mengalir deras dari sana. selajutnya Jungsok sudah mengangkat tubuh Changwook, memasukkannya ke dalam mobil polisi yang segera melaju kencang meninggalkan tempat itu.

****

“Apakah kalian baik-baik saja?” Jongsuk menatap Woobin dan Minhee serta Sung Joon yang datang menghampiri mereka.

We Good!” jawab Woobin, ia mengalihkan pandanganya, menatap Minhee yang sedang memandangi tangan dan rompi yang dikenakan gadis itu kini telah berlumuran darah milik Changwook.

“Kita akan menemukan siapa yang melakukan penembakan, kau tenang saja” Sung Joon mengusap pundak Minhee, mengambil sisa kemeja Jongsuk seraya menyeka darah di tangan Minhee.

“So What we Got here?” tanya Minhee yang berusaha untuk Fokus, Minhee menatap ke arah Jongsuk yang sudah kembali ke pekerjaannya bersama Shin Yeojin yang sempat tertunda karena aksi tembakan barusan, ia tengah memeriksa jenasah Darwin Chun.

“Its Trough and Through” ujar Jongsuk yang mengangkat tubuh bagian atas Darwin Chun untuk memperlihatkan lubang akibat peluru yang menembus dari dada hingga punggung belakang. Woobin dan Minhee pun berjongkok untuk melihat luka yang terdapat pada Darwin Chun dengan jelas.

“Looks to be a large caliber?” ujar Shin Yeojin, salah satu pekerja Forensik yang membantu Jongsuk melihat besarnya lubang yang terdapat ditubuh Darwin Chun

“50 mm kaliber yang sepertinya cocok dengan senjata yang berada disana.” Woobin, Minhee dan Sung Joon menolehkan kepalanya menatap sebuah senjata laras panjang yang terdapat di atas sebuah Drum kosong berwarna merah.

“Tidak ada bubuk mesiu atau luka bakar disekitar sini.” Jongsuk menunjuk ke arah sekitar lubang yang terdapat pada tubuh Darwin Chun. “Means, the shot was fired from a distance
over 5-10 meters.” ujar Cheonsa yang baru saja bergabung bersama mereka.

“Jaehyun?” tanya Sung Joon, mereka hampir melupakan Jaehyun.

“With Changwook, dia merasa sangat khawatir dan memutuskan ikut ke rumah sakit.” jawab Cheonsa, membuat semua agent mengangguk lalu kembali focus pada mayat Darwin Chun.

“Jika dilihat dari bentuk luka, bisa disimpulkan ia mendapat tembakan dari punggungnya lalu menembus dadanya.” Jongsuk mengangguk, ia setuju dengan yang dikatakan Yeojin

“Steven Chun kehilangan Drugs sekaligus tangan kananya dihari yang sama.” gumam Woobin.

*****

NATIONAL FORESIC And CRIME SCENE INVESTIGASTION BUILDING

National Forensik terletak terpisah dari markas besar NTS, sebuah laboratorium super lengkap milik negara. Berdinding kaca setebal 5 centimeter, anti peluru, dilengkapi alat keamanan super lengkap berteknologi cangih. Laboratorium khusus untuk memeriksa semua bukti kasus kejahatan, dari sidik jari, jenis peluru suatu senjata, melacak jenis bahan kimia yang terkandung dalam suatu zat hingga hal2 terkecil yang tidak pernah bisa di bayangkan bisa di periksa di laboratorium cangih ini.

Minhee menemui Sung Joon yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat kejadian perkara, dia bertugas memeriksa bukti-bukti yang sudah didapat, dia juga ditugaskan untuk meneliti lebih jauh kondisi jenasah Darwin Chun

“Apa yang kau dapat?”

“Aku baru saja menyelesaikan pemeriksaan mengenai senjata yang dicurigai sebagai alat untuk membunuh Darwin Chun.” Sung Joon menunjuk senjata laras panjang yang berada dihadapannya.

“Terdapat dua peluru yang hilang, dan menurut Volati Organik terdapat kecocokan dengan luka yang terdapat ditubuh nya.” jelas Sung Joon.

“Sidik Jari?”

“Dua, tapi tidak tercatat dalam data.” jawab Max, seorang analyst laboratorim yang sejak tadi berada bersama mereka, ia dipercaya oleh Third Team untuk membantu Sung Joon.

“Baiklah Good job, aku akan mencari Woobin.” Minhee melangkahkan kakinya meninggalkan Sung Joon.

“Minhee-ya” Minhee yang baru saja hendak berbalik mengurungkan niatnya, menatap Sungjun yang memperhatikan pakaiannya.

“Aku membawa pakaian ganti, jika kau mau… kau bisa memakainya.”

“Tidak perlu, aku selalu menyiapkan pakaian ganti di dalam tasku. Beri tahu Woobin aku ada di ruang ganti, jika kau bertemu dengannya.” Minhee tersenyum lalu melangkah meningalkan ruangan.

“Bagaimana keadaan Changwook?” Max menatap Sung Joon.

In Surgery, aku berharap ia bisa bertahan.” Sung Joon tersenyum getir.

Yes me too.”

****

Minhee merapikan pakaiannya sekali lagi, ia baru saja keluar dari ruang ganti khusus wanita. Ia terdiam sesaat, mencium bau yang menyengat, seperti mau sulfur atau gas. Minhee mempercepat langakahnya, menelusuri selasar, mencari keberadaan Woobin.
Sirine tanda keadaan daruratpun sudah terdengar, gedung harus segera dievakuasi. Minhee mulai cemas saat tak juga menemukan Woobin, ia bahkan sudah berlari dari satu ruangan ke ruangan lain. Minhee pun meloloskan nafas leganya, mendapati Woobin berdiri di depan sana, pria itu sedang menatap ke dalam salah satu ruangan yang pintunya terbuka.

“Woobin-ah!” Minhee berlari mendekati Woobin yang melangkahkan kakinya kedalam ruang tersebut.

“Api tidak bereaksi dengan gas.” Minhee terkejut melihat Api yang masih menyala dengan normal dari salah satu alat laboratorium. “Mungkin ini bukan kebocoran gas biasa.” Woobin menatap Minhee dengan tatapan penuh tanya.

“Baiklah, kita harus menguji sesuatu.” Minhee meraih sebuah alat suntik yang berada di laci lab, memberikannya kepada Woobin.

“Kita akan memeriksanya dengan Gas Chromotography Mass Spectrometry untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang kita hadapi saat ini.”
Woobin menarik piston dari alat suntik untuk menghisap udara ke dalam tabungnya, mereka melangkahkan kaki mereka menuju ruangan yang berada disebelahnya.

“Kau benar ini bukan gas yang sebenarnya.” Minhee menatap layar monitor yang terdapat pada alat GCMC, memberikan hasil tes udara yang dilakukan oleh Woobin.

Mercaptoethanol digunakan untuk menguji biokimia dan analisis protein, kita tidak melakukan hal seperti itu ditempat ini.” Woobin menatap Minhee dengan tatapan khawatir.

“Apa para pegawai sudah dievakuasi?”

“Sudah, aku sudah memeriksanya, hanya tinggal kita berdua.”

Minhee dan Woobin berusaha menghubungi Jaehyun atau siapapun yang berada diluar gedung. Minhee mendesah kesal ketika menatap layar telepone gengamnya yang menunjukan no signal.

No Signal.” Minhee menunjukkan layar telepone gengamnya pada Woobin.

Same here.” ujar Woobin melakukan hal yang sama.

Minhee pun melangkahkan kakinya menuju telepon yang berada di ruang lab, berusaha menghubungi seseorang. “Line telepone terputus.” Minhee menatap Woobin dengan dahi berkerut. Woobin melangkahkan kakinya menuju komputer yang berada diujung ruangan, mengetikkan sesuatu namun hasilnya sama .

They Cut the internet connection.”

“Woobin-ah, aku mempunyai perasaan yang tidak enak mengenai ini semua.” Minhee menatap Woobin dengan cemas bersamaan dengan bunyi alarm yang mati.

“Apa yang kau pikirkan, apa kau menduga hal yang sama dengan ku?”

“Seseorang menyabotase gedung ini, membuat alarm palsu tentang kebocoran gas yang memaksa kita untuk mengevakuasi para pegawai.” Woobin menatap tajam ke arah Minhee.

Lets Split Up! Cari tahu bagaimana Mercaptoethanol masuk ke dalam gedung ini, jika kita bisa menemukan sumbernya kita akan mengetahui jawabanya.”

“Yang pasti Mereka berencana untuk mengambil kembali apa yang telah kita ambil. Take
care!” ujar Minhee yang kemudian memisahkan diri dengan Woobin untuk mencari tahu siapa yang terjadi.

****

Minhee melihat 6 orang petugas berseragam dengan membawa peralatan yang biasa digunakan oleh petugas dari perusahaan gas keluar dari lift. Minhee mempercepat langkahnya untuk menghampiri para petugas tersebut, namun seseorang membekap mulutnya serta menariknya dengan paksa kedalam ruangan untuk bersembunyi dibalik meja labolatorium.

“Woobin apa yang kau lakukan?” Minhee melepaskan tangan Woobin yang membekap mulutnya, menatap pria itu yang menempelkan telujuk di depan mulutnya sendiri.

“Mereka bukan berasal dari perusahaan gas, perusahan gas tidak akan membiarkan petugasnya membawa P226 MK25 9mm dibalik jaket atau saku belakang mereka.” Woobin menjelaskan dengan suara pelan. “Kau benar, mereka ingin mengambil apa yang telah kita ambil.”

“Lalu sekarang bagaimana?” Woobin tidak menjawab, ia sedikit bangkit dari posisinya untuk melihat keadaan sekitar.

“Dimana senjatamu?”

Looker room, you?”

Our 2nd office.” Woobin berdecak kesal.

Great, kita harus menghadapi mereka tanpa senjata.”

“Yang pasti aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Woobin kembali mengintai keadaan di depan sana.

Minhee dan Woobin mengintai keberadaan gembong Narkoba yang mendekati ruang senjata sitaan. Mereka mengambil 3 handgun, 3 Shot gun, 2 Machine gun dan satu senjata laras panjang rakitan yang disita oleh kepolisian saat penyergapan berlangsung. Senjata khusus untuk dapat menembus dinding Brangkas berlapis baja setebal 30 cm disetiap sisinya, Brangkas yang dilengkapi kunci Analog dan digital.

“Mereka menuju lift, sebaiknya kita pergi keruang persediaan senjata” ujar Minhee yang mengintai keberadaan mereka.

“Lewat Sini” Woobin berjalan dengan menundukan tubuhnya diikuti oleh Minhee agar tak terlihat oleh para gembong Cocaine tersebut.

Namun tanpa disadari seorang dari gembong narkoba melihat keberadaan mereka, para gembong narkoba tersebut pun berpencar. Tiga orang mengejar Woobin dan Minhee, sisa nya menuju ruang Safety room tempat 1000 kg Cocaine disimpan. Minhee dan Woobin melangkahkan kakinya dengan perlahan menelusuri lorong untuk mencapai ruang penyimpanan senjata. Mereka terkejut mendapati ketiga orang laki-laki kini sudah berada dihadapan mereka, dengan cekatan Mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang menghubungkan dengan ruangan lain.

Fire!” perintah salah seorang gembong Cocaine tersebut, ketiga gembong penjahat pun menembakan isi senjatanya ke arah Minhee dan Woobin yang berlari.

Minhee dan Woobin berlari dengan melindungi kepalanya dari pecahan kaca dari peluru yang diarahkan kepada mereka. Tanpa menghentikan langkahnya, Woobin memberi gesture menggunakan tangannya meminta Minhee untuk berpisah menuju ruang senjata rahasia, sementara Woobin mengalihkan perhatian para gembong narkoba tersebut.

Minhee berlari dengat cepat menuju lorong yang akan membawanya menuju ruang penyimpanan senjata rahasia NTS. Menekan security code seraya menatap ke arah sekitar guna mengantisipasi gembong narkoba tersebut muncul tiba-tiba. Setelah berhasil masuk, Minhee berlari menuju komputer yang berada disudut ruangan, mengetikan sesuatu sehingga membuat dinding kaca berubah warna menjadi gelap. Minhee meraih dua buah handgun serta senjata laras panjang semi Automatic yang terletak didalam lemari. Setelah meyakinkan semua nya siap, Minhee pun melangkahkan kakinya mendekati pintu.

Minhee menghentikan kegiatannya, ketika mendengar bunyi yang berasal dari Komputer, ia kembali mendekati komputer, membaca sebuah tulisan ” URGENT MESSAGE”. Minhee menghela nafas lega ketika mendapati pesan tersebut berasal dari Sung Joon yang berada di lantai 5 ruang forensik.

Sung Joon : Apa ada seseorang yang berada didalam gedung?

Minhee tersenyum membodohi diri, karena melupakan jika seluruh komunikasi terputus didalam gedung, Urgent Message tetap bisa digunakan oleh seluruh Agent dari sambungan rahasia.

Minhee : Aku bersama dengan Woobin, berada dilantai 4.

Sung Joon : Apa kalian bak-baik saja? Apa yang terjadi? Mereka mensabotase gedung dengan merekayasa kebocoran gas.

Minhee : Kami baik-baik saja, Aku berada diruang senjata rahasia, bagaimana denganmu?

Sung Joon : Good, beberapa orang datang dengan pakaian petugas dari perusahaan Gas dengan persenjataan Khusus.

Minhee : Aku akan menuju kesana, hang in there.

Minhee kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruang senjata khusus, ia berjalan mengendap-ngendap berusaha mencari Woobin.

“ddddddrrrrrdddtttt – Prank-prank”

Minhee mengeraskan rahangnya, mengarahkan senjata laras panjang yang ia pegang kesegala arah, melangkahkan kakinya dengan perlahan.

Where are you, Woobin?!”

Minhee menyembunyikan dirinya dibalik meja, ketika melihat Woobin ditodong senjata tepat dibelakang lehernya. Minhee pun berusaha untuk mencari kesempatan menembakkan senjatanya, namun ia urungkan dan memilih bangkit dari tempatnya, berjalan sangat perlahan untuk mendekat kearah salah satu anggota Gembong Cocaine tersebut.

BUUKKK!!!—

Minhee memukul leher anggota gembong Cocaine tersebut menggunakan bagian belakang senjata yang ia pegang. Membuatnya tersungkur serta senjata yang ditodongkan kepada Woobin pun terlepas begitu saja. Woobin pun segera membalikan tubuhnya menatap Minhee yang tersenyum manis kepadanya.

Miss me Partner?” ucap Minhee dengan nada yang menyebalkan, Woobin memutar kedua bola matanya kesal melihat Minhee yang membanggakan diri sendiri karena telah menyelamatannya.

To be Contined

Finally Episode 2 Now Showing.. hahahah 

Setelah perdebatan panjang antara Director dan Editornya, dengan ini  

Kami persembahkan Episode 2 Part 1 tayang juga *tebar Confeti11 #abaikan

Terimakasih kami ucakan pada Supporting Cast yang sangat berjasa sekali untuk kelangsungan hidup para Agent 3rd team

diantara nya adalah : 

Special Appreance :

Lee Minho  as Kim Minhee’s Boyfriend

Song Jiyeon as Kim Woobin’s GirlFriend

Kim Jaejoong  as Kim Minhee's Brother

Kim Jaejoong as Kim Minhee’s Brother

Thanks To :

Choi Siwon as Detective Choi Siwon

Choi Siwon as Detective Choi Siwon

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

3 Comments

  1. Tingkah woobin sama jaehyun menggemaskan duh. Udah kaya bocah yang lagi berebut permen 😀
    Gerbong2nya gak kenal takut, gedung NTS aja sampe disabotase. Percaya sama minhee dan woobin, mereka kan agent2 hebat.

    Like

    Reply
  1. The Third Team Series : Casino Alias (Part 2) | Kim's Cinema
  2. Twilight Tears | Kim's Cinema

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: