Twilight Tears


Special Movie : Twilight Tears

Previous Movie : Revenge Mission , Casino Alias

Created By  : Alicia Kim and Ririn Setyo

Cast : Kim Minhee, Kim Woobin and Song Jiyeon.

Based from : The  Third Team The Series

 

***

Minhee melangkahkan kakinya pelan dan tenang, wajah cantiknya yang terpahat nyaris tanpa cela, terhias senyum lebar yang terlihat sedikit dipaksakan. Ia terus melangkah di tanah basah di area taman rumah sakit, karena hujan yang turun lebat beberapa jam yang lalu. Tangan Minhee yang pucat mengenggam ujung dress kuning di atas lutut yang dipakainya, mengerat hingga memutihkan buku-bukunya, dalam deru desah nafas yang terdengar berat, menyesakkan, ia berguman samar.

 

Hi Sweet heart, its been a long day, right?”

 

Minhee merebahkan tubuhnya di atas tanah basah yang berumput, tak merasa peduli jika dress yang dipakainya akan basah dan kotor. Dalam hembusan nafas yang kian sulit untuk menguar dari rongga pernafasannya, Minhee menatap langit kelabu yang menaunginya. Seperti seminggu sebelumnya, ia selalu datang ke tempat ini diwaktu yang sama, menikmati udara sore dan jingga yang mengantung di ujung Mega, walau hari ini Minhee kurang beruntung, jingga tak menghiasi cakrawala.

 

“Kim Minhee apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh tidur disini, bajumu bisa basah dan kotor. Aku tidak mau mengantarmu pulang jika kau masih saja melakukan kebiasaan burukmu ini, mobil mahalku bisa tercemar.”

 

Minhee mengerjabkan matanya, terkejut mendapati sosok pria yang sangat dikenalnya sudah berdiri di depannya, berkacak pinggang dengan pandangan yang memicing.

 

“Kim Woobin?”

 

Eoh, iya aku. Memang siapa lagi?” Woobin terlihat kesal. “Berhenti menatapku seperti itu, aku bukan hantu, aku ini pria tampan.”

Minhee tersenyum saat Woobin menyisir rambut hitamnya dengan jari, menyunggingkan senyum sombong seperti biasa yang Minhee lihat selama ini. Woobin melipat tangannya di depan dada, mata sipitnya yang tajam kembali memicing.

 

“Tadi kau melihatku seperti hantu, sekarang kau tersenyum mencurigakan, apa aku terlihat aneh?” Minhee mengangguk, menahan tawa di ujung bibir, menatap rekan satu kantornya itu terdengar mengumpat.

 

Bukan… Kim Woobin bukan hanya sekedar rekan satu kantor Minhee, tapi mereka adalah sabahat baik, mereka sudah berteman sejak masih berada di Senior High School. Beberapa tahun yang lalu saat mereka masih mengenyam bangku kuliah, mereka berdua direkrut oleh NTS, sebuah lembaga professional agent rahasia milik negara. Menempa mereka hingga menjadi agent handal untuk negara mereka, Korea Selatan.

 

“Tenanglah Woobin-ah, kau selalu terlihat tampan dan mengemaskan dimataku.” Minhee kembali menahan tawa, mendapati Woobin yang tersipu, tersenyum malu-malu hingga terlihat semakin mengemaskan di mata Minhee.

 

“Untuk apa kau datang kemari? Jangan bilang kau hanya ingin mengotori bajumu, aku sangat tahu Nona Kim… kau tidak pernah suka jika dress mahalmu kotor.”

 

“Aku merindukanmu.” ucap Minhee dengan suara rendahnya, soket hitamnya menelusuri wajah tampan Woobin di tiap lekuknya, lekat nyaris tanpa berkedip.

 

Cih! Merindukanku? Yang benar saja, sejak kapan kau merindukanku?”

 

Woobin mencibir, pria tinggi itu pada akhirnya memilih untuk duduk di samping Minhee, menatap Minhee yang hanya diam tanpa sangahan apapun, seperti yang biasa mereka lakukan selama ini. Ada luapan penyesalan yang amat sangat di dalam mata Minhee yang sayu, seperti seorang adik yang melakukan kesalahan besar pada sang kakak yang sangat disayanginya.

 

Every day, no… every minutes, no… even every second i always miss you, Kim Woobin.” jawab Minhee lirih, ia menunduk, tak sanggup menatap ke arah Woobin.

 

Woobin tersenyum, ia menatap hangat sahabat sekaligus partnertnya itu, mengerakkan tangannya, mengusap bahu dan punggung Minhee yang mulai sedikit bergetar, lembut, hangat dan penuh kasih selayak usapan kakak laki-laki pada adik perempuannya.

 

“Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan. Selama ini hampir setiap hari aku selalu menghabiskan waktu bersamamu, berbagi cerita apa saja padamu, bahkan aku selalu menangis dipelukanmu.” Woobin mengangguk, tersenyum mendengar semua penuturan Minhee.

 

“Lalu?”

 

“Lalu? Kau masih bertanya padaku?” Minhee menolehkan wajahnya, meneteskan airmata brengsek yang tak mampu lagi bisa ia tahan, terisak saat jemari Woobin bergerak menghapus airmatanya dengan lembut.

 

“Kenapa kau melakukannya, Woobin-ah? Kenapa?” Minhee semakin terisak, Woobin menatap Minhee semakin lekat, ia bisa merasakan kekecewaan, amarah, dan penyesalan yang tersurat dari kata-kata Minhee saat ini.

 

“Aku melakukannya karena suatu kewajiban dan aku tidak pernah menyesalinya.” Woobin memundurkan tubuhnya, menumpukan pada kedua tangannya yang menyentuh rumput basah.

 

“Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya, family is family. Aku hanya melindungi anggota keluargaku.”

Minhee mengelengkan kepalanya, ini kesalahan, seharusnya Woobin tidak melakukannya. “Tapi tidak seperti ini,”

 

“Lalu seperti apa?”

 

“Maafkan aku….”

 

“Aku yakin jika kau ada diposisiku, kau juga akan melakukan hal yang sama.”

 

Woobin menegakkan punggungnya, menyentuh bahu Minhee, memaksa gadis itu untuk menatapnya. Minhee memaku, kembali menunduk, menangis terisak hingga dadanya sesak kala mendengar kalimat Woobin selanjutnya.

 

“Terima kasih karena membuat hari-hariku berwarna, terima kasih karena membuat perjalanan hidupku menjadi lebih indah, membuat semua yang ku lakukan menjadi lebih mudah. Kau selalu mendukungku, kau tahu… hal yang paling tidak pernah aku sesali disepanjang aku bernafas di dunia ini, adalah karena kau mengenalmu Kim Minhee.”

 

“Wanita yang selalu membuat tubuhku lebam karena pukulan saat dia merasa kesal dengan kakaknya, atau saat aku mengatakan jika idolamu Lee Soohyuk tidak tampan dan lebih mirip dengan Vampire.”

 

Minhee tertawa samar. “Kenapa kau selalu menerimanya dan tidak pernah mencegahku?”

 

“Karena aku tahu kau melakukannya bukan untuk menyakitiku, kau hanya melampiaskan kekesalan yang sialnya hanya aku saja yang tahu dan mengerti tentang hal itu.” Woobin terkekeh pelan. “Tenanglah ini semua akan aku jadikan kenangan manis di antara kita, aku akan mengingatnya hingga kita diizinkan untuk kembali bertemu.”

 

“Maafkan aku Woobin, karena aku kau harus meninggalkan Jiyeon sendirian.”

 

“Aku tidak khawatir dengan Jiyeon, dia gadis yang kuat kau tenang saja.” ujar Woobin santai.

 

“Pembohong.”

 

Woobin kembali terkekeh pelan, mengangguk mengiyakan ucapan Minhee. Kim Woobin pria yang diyakini Minhee akan gila dan mati jika kehilangan kekasihnya, Song Jiyeon.

 

“Baiklah aku mengaku, aku memang sangat mengkhawatirkannya, tapi bukankah kau akan menajaganya untukku?” Woobin tersenyum saat Minhee mengangguk. “Sejujurnya aku lebih khawatir padamu, aku tahu kau tidak bisa hidup tanpa aku. Seperti aku yang tidak bisa melakukan apapun jika tidak mendengar kabarmu dan tidak bisa menemukanmu di jarak pandangku.”

 

“Maafkan aku,” ucap Minhee lagi dengan susah payah, sebanyak apapun ia mengatakannya rasa luka itu tidak pernah berkurang, justru semakin merentas jatung, hancur tak tersisa.

 

“Iya aku tahu, kau sudah mengatakannya puluhan kali.”

 

Every day is a long day without you by me side.” Woobin mengangguk setuju, ia juga merasakan kehilangan yang sama seperti apa yang Minhee rasakan.

 

Don’t worry about me, lanjutkan hidupmu dan berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.” airmata Minhee kembali mengalir, lebih tak terkendali dari sebelumnya.

 

“Aku akan selalu mengunjungimu, menceritakan semua hal yang terjadi padaku dan kita juga akan mengingat semua hal bodoh yang sudah kita lakukan selama 10 tahun ini.” Woobin mengangguk setuju, tersenyum lebar hingga Minhee ikut tersenyum.

“Aku pasti akan menunggu kedatanganmu,” Minhee mengangguk dalam isaknya yang belum mampu beranjak.

 

“Jiyeon datang cepat apus airmatamu, bisakah kau mengajaknya bicara? Jika memungkinkan buat dia tertawa Minhee, aku mengandalkanmu.” ucap Woobin dalam satu tarikan nafas.

Minhee menoleh sekilas ke arah Jiyeon, namun didetik berikutnya ia sudah terpaku saat ia kembali menatap ke arah Woobin pria itu sudah tidak ada. Minhee tersenyum getir, perih, kosong. Dengan cepat Minhee menghapus airmatanya, kembali memalingkan wajahnya, melambaikan tangan pada sosok Jiyeon yang mendekatinya. Wajah Jiyeon sangat pucat, Minhee bahkan bisa melihat sisa airmata di pipi gadis itu. Sakit hingga Minhee merasa terlalu sulit untuk bernafas, ia terlalu merasa bersalah pada gadis yang selalu Woobin klaim sebagai Malaikat hatinya itu.

 

“Minhee kau sudah datang?” Jiyeon tersenyum, ia ikut duduk di atas rumput, tepat di samping Minhee yang menatapnya.

 

Eoh, baru saja.”

 

Minhee sedikit bergeser untuk memberikan space pada Jiyeon, selanjutnya Minhee hanya bisa diam, ia tak tahu apa yang harus ia katakan kepada kekasih sabahatnya itu. Jiyeon sangat terpukul, sejak beberapa hari yang lalu dia selalu menangis, duduk mematung dengan hanya terus melafalkan nama Kim Woobin.

 

“Bagaimana kabarmu?” Minhee memberanikan diri untuk bertanya sesuatu hal yang terdengar bodoh.

 

“Aku? Semakin lebih baik, berkat kau. Terima kasih banyak Minhee-ya, kau sangat baik pantas saja dia sangat menyayangimu.” Jiyeon tersenyum, tulus seperti biasa. Walaupun tak bisa dipungkiri, jika senyum gadis itu hampa tak bernyawa.

“Menyayangiku? Siapa? Woobin?” Minhee mencoba tertawa namun gagal, terdengar sangat sumbang. Ia menatap Jiyeon, kembali melafalkan kata-kata yang sama, selalu ia ucapkan pada gadis itu sejak seminggu yang lalu.

 

“Maafkan aku Jiyeon-ah, aku….”

 

“Berhentilah meminta maaf, kau sudah mengatakannya ribuan kali Minhee-ya.” Jiyeon kembali tersenyum, menatap Minhee yang ia tahu sedang menahan airmatanya.

 

“Aku yang menyebabkan Woobin seperti ini, seharusnya aku yang terbaring di sana Jiyeon bukan dia.” Minhee berusaha menahan airmatanya.

 

Benar seharusnya Minhee yang berada di dalam ruang ICCU bukan Woobin, seharusnya dia yang kini berjuang untuk hidup dalam koma panjang entah sampai kapan. 7 hari lalu di pesisir negeri Tirai Bamboo, 6 biji timah panas bersarang di tubuh Woobin, saat sedang menangani kasus terakhir mereka bersama NTS. Dalam keadaan terdesak, saat nyawa Minhee terancam Woobin merelakan dirinya untuk melindungi Minhee, menerima tembakan di tubuhnya, satu tembakan bahkan nyaris menghentikan detak jantungnya.

 

“Selama ini kau selalu menjaganya, melindunginya. Sekarang giliran dia yang melindungimu.”

Jiyeon berpaling, menatap lurus-lurus orang-orang yang berlalu lalang di taman rumah sakit. Ia mulai bisa sedikit berdamai dengan keadaan Woobin, pria dingin, kaku dan tak banyak bicara jika sedang bersamanya, pria yang telah mencuri seluruh hati dan pikirannya sejak 5 tahun yang lalu.

 

“Kau tahu, dulu tiap kali Woobin menceritakan tentang dirimu aku kesal, aku pikir dia jatuh cinta padamu. Tapi… setelah aku benar-benar mengenalmu, aku tahu Woobin menyayangimu bahkan sangat menyayangimu.” Minhee menatap Jiyeon yang masih menatap lurus ke depan.

“Aku justru merasa sebaliknya.” Jiyeon menolehkan wajahnya, menatap Minhee yang terlihat menahan senyum di wajahnya. “Jujur saja aku kesal padamu, mungkin sedikit cemburu karna Woobin selalu menceritakan semua hal tentangmu. Bagaimana kau tersenyum, berdandan, memasakkan makanan untuknya. Sampai saat ini aku bahkan tidak tahu, bagaimana kau bisa bertahan dengan sikap dan kelakuan anehnya yang ajaib. Woobin sangat beruntung memilikimu Jiyeon-ah, kau gadis yang luar biasa.”

 

“Woobin menceritakan semua tentangku padamu?” Jiyeon menatap Minhee, gadis bermata bening itu pada akhirnya tertawa. “Eoh, dia memang aneh Minhee-ya. Dia tidak pernah memujiku, tidak pernah mengatakan apapun saat menyantap masakanku. Dia bahkan tidak pernah mengatakan jika dia merindukanku, keterlaluan! Apa sejak dulu dia sekaku itu?”

 

“Sangat kaku, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa berteman dekat denganya.” Minhee mencibir, mengingat semua tingkah aneh Woobin diluar kebiasaan pria itu, jika sudah menyangkut tentang Song Jiyeon. “Tapi dibalik semua sifatnya yang dingin, kaku dan menyebalkan… sejujurnya dia adalah laki-laki yang hangat dan menyenangkan.”

 

“Aku masih sangat ingat jika hanya dia satu-satunya orang yang tidak beranjak dari sisiku ketika orangtuaku meninggal dunia, aku juga masih sangat ingat wajah bodoh Woobin yang berseri bahagia saat pertama kali dia bertemu denganmu.”

Jiyeon kembali tertawa, tawa pertama yang gadis itu perdengarkan setelah Woobin dinyatakan koma 7 hari yang lalu. Minhee tersenyum lega melihat Jiyeon yang masih tertawa, merasa jika beban yang menghimpitnya sedikit menguap.

 

“Jiyeon-ah.”

 

“Kau ingin meminta maaf lagi? Aku sangat yakin Woobin tidak suka jika kau terus menyalahkan dirimu sendiri. Aku memang sangat sedih, aku bahkan tidak bisa menemukan oksigen di paru-paruku saat mendengar kabar mengerikan itu. Aku tidak tahu apa aku bisa melanjutkan hidupku atau tidak, tapi seperti yang kau yakini, Woobin akan sembuh, dia pasti akan kembali, benar begitu?”

 

“Iya… aku yakin Woobin akan sembuh. Dia adalah pria yang sangat kuat dan aku yakin dia tidak akan pernah mengingkari janjinya padamu, padaku dan pada semua anggota NTS.” Minhee mengenggam jemari Jiyeon erat, menatap Jiyeon dengan tatapan sayang selayak seorang kakak kepada adiknya.

 

“Minhee-ya, apa Woobin mengatakan sesuatu sebelum dia koma?” Minhee tersenyum, kembali menahan airmata yang kembali sudah berkumpul di ujung matanya.

 

“Woobin tidak mengatakan apapun selain hanya menyebutkan namamu berulang kali, hingga kesadarannya menghilang.”

 

“Benarkah?” mata Jiyeon berembun, ia tak bisa menahan airmatanya, meloloskan buliran crystal yang kini sudah membasahi pipi pucatnya.

 

“Dia mencintaimu, sangat mencintaimu. Setiap hari dia selalu memintaku berjanji untuk menjagamu, jika sesuatu yang buruk menimpanya. Dan setiap hari pula aku akan selalu menjawab, jika aku akan menjagamu seperti dia menjagaku.”

Tanpa rencana Jiyeon memeluk Minhee, ia terisak dengan pelukan yang mengerat. Jiyeon benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika Minhee tidak ada, gadis yang menyakinkan dirinya jika Woobin akan kembali baik-baik saja, gadis yang sudah menjadi sahabat dekat dari kekasihnya sejak 10 tahun yang lalu.

 

“Terima kasih Minhee-ya, terima kasih.”

 

Minhee membalas pelukan Jiyeon, mengusap bahu bergetar gadis itu dengan airmata yang juga sudah terjun bebas dari kedua soket matanya. Minhee benar-benar belum bisa memaafkan dirinya sendiri, ia masih terlalu merasa bersalah pada Woobin dan Jiyeon, terkungkung dalam rasa penyesalan yang tak berperi. Ia bahkan merasa akan gila sebentar lagi, namun Minhee harus kuat dia harus lebih tegar dari Jiyeon demi janjinya pada Woobin, pada pria yang sudah menjadi sabahat, keluarga dan belahan jiwanya.

 

“Kim Woobin, cepatlah kembali.”

 

 

THE END

FF ini terinspirasi dari lagu – lagu mellow nya WESTLIFE dan YESUNG..

Akhirnya Alicia Kim mencetuskan ide bikin persahabatan antara dua KIM ini diuji.

Dengan sedikit negosiasi dan pertengkaran kecil antara

Director (KIM MINHEE)
dan Editornya (SONG JIYEON) ..

Akhirnya mba RirinSetyo membantu dengan tangannya untuk mengedit dan menjadikan OneShoot ini jadi lebih bernyawa. Hahahaha

ENJOY!

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. The Third Team – Casino Alias (Part 3 – End) | Kim's Cinema

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: