WITCH

collage_20150503220238716_20150503230916270

Special Movie : Witch

One Shoot

Author : Ririn Setyo and Alicia Kim

Cast : Kim Woobin,  Song Jiyeon and Kim Minhee

Special Appearance : Kim Jaejoong

Based from : The Third Team Series

*****

Kim’s House

Porch – Twilight

Berdiri mematung dengan buncahan rasa asing yang memacu detak jantung, adalah hal yang tengah menyelimuti hati Kim Woobin. Pria yang sepanjang hidupnya sulit sekali untuk tersenyum, saat ini justru tengah menarik kedua sudut bibirnya ke atas, bahkan deretan gigi putihnya yang rapi juga sudah terlihat. Tak berubah, tetap seperti itu hingga puluhan detik berlalu. Sangat aneh, berlebihan, dan tentu saja tidak biasa.

Kim Woobin seyogyanya tergambar seperti pria tidak waras. Woobin mulai melangkah, tubuhnya yang sangat tinggi terlihat bergoyang, ke kiri dan ke kanan. Ia juga mengacak rambut hitamnya yang berponi, tetap tersenyum lebar dan tidak peduli dengan sepasang iris coklat pekat yang sejak tadi menatapnya, memicing tajam dalam dugaan… mungkin kini Woobin sudah gila.

“Kau salah makan sesuatu?”

Woobin mengeleng, ia memilih untuk ikut duduk di sofa panjang di sisi si-penanya, daripada menjawab pertanyaan yang terlayang untuknya. Ia hanya mengedipkan mata, merangkul bahu si-penanya yang terlihat semakin muak dengan tingkahnya yang tak biasa.

Ah, aku sedang bahagia Minhee-ya.” Tawa Woobin dalam luapan kebahagian membahana di udara, selayang jingga yang mengantung di ufuk barat semakin memperindah suasana hati Woobin yang berbunga.

“Bahagia? Apa aku tidak salah dengar? Tapi sepertinya wajahmu saat ini lebih terlihat sebagai pria idiot gila, daripada pria yang tengah berbahagia.” Minhee menahan tawanya ketika melihat bagaimana cara Woobin menatapnya saat ini.

Aish! Aku serius Minhee, tapi kau tenang saja karena aku tengah bahagia, aku tidak akan berdebat denganmu.” Woobin kembali tersenyum, membiarkan angannya melesat cepat menembus cakrawala.

“Ya Tuhan Kim Woobin, haruskah aku memanggil Dokter Park untuk memeriksa keadaanmu? Sepertinya bukan aku yang sakit.” Minhee menyentuh keningnya sendiri. “Woobin-ah apa kau demam?” Minhee menyentuh kening Woobin.

Ah, tidak, kau tidak demam.” Minhee kembali menatap Woobin, sok polos dan terkesan bodoh. Ia tahu Woobin sedang jatuh cinta, dan sepertinya menggoda Woobin akan menjadi hobi barunya. Minhee bersiap menutup kedua telinga dengan tangan, sebelum Woobin benar-benar membentaknya karena kesal. Namun itu tidak terjadi, Woobin justru kembali hanya tersenyum.

“Baiklah aku akan membuatmu mengerti,” Woobin menegakkan punggungnya, wajahnya terlihat serius. “Begini….” sambung Woobin, ia sudah kembali tersenyum. Ah! Woobin benar-benar terlihat semakin tidak waras.

“Kemarin, saat ibu memintaku membelikan sebuquet bunga untuk menyambut kepulangan ayahku, aku bertemu dengannya,”

Tanpa perencanaan kedua sudut alis Minhee bertaut, guratan kebingungan dan sedikit rasa penasaran mulai mendatangi Minhee. Woobin tak melanjutkan kalimatnya, pria gila itu hanya terlihat menerawang jauh ke depan.

“Maksudmu kau bertemu dengan tukang bunga? Bukankah jika kau membeli bunga, selalu akan bertemu tukang bunga dan bukan tukang roti?” Minhee mendengus kesal, sahabatnya ini sejak dulu punya hobi yang tidak biasa. Jika bercerita sesuatu, selalu setengah-setengah dan tidak pernah tuntas.

Woobin pun mulai kesal, ia yang awalnya ingin memukul kepala Minhee hingga gegar otak terlihat terkejut. Mata sipitnya membulat, mulutnya sedikit terbuka, tergambar jelas jika Woobin tidak percaya dengan apa yang Minhee katakan selanjutnya.

“Ya Tuhan Kim Woobin, bisakah kau bicara yang jelas, jangan setengah-setengah. Katakan padaku, gadis seperti apa yang telah berhasil membuatmu seperti ini?”

“Dari mana kau tahu aku bertemu seorang gadis? Apa terlihat jelas di keningku?” Woobin memicing. “Atau sekarang kau bisa membaca pikiranku?”

Minhee memutar bolamatanya malas, ia mulai jengah dengan sikap Woobin, sahabatnya itu benar-benar terlihat bodoh dan tidak waras. “Kau meragukan kemampuanku sebagai sahabatmu, eoh? Kau lupa sudah berapa lama kita bersahabat? Lagipula aku tidak harus menjadi Edward
Cullen untuk tahu apa yang sedang kau alami, kau adalah laki-laki normal jadi tidak mungkin kau bersikap idiot seperti ini karena seorang pria bukan? Memangnya kau homo?”

“YAK!!!” pada akhirnya Woobin melayangkan pukulannya yang tertunda, tidak peduli saat Minhee mengaduh dan berteriak tidak terima.

Agghh!” Minhee mengelus kepalanya, menatap Woobin kesal hingga bibirnya lebih maju dari tempat yang seharusnya. “Kau menyakitiku, Woobin-ah.”

“Itu salahmu, kau mengejekku Minhee ingat itu.” jawab Woobin sengit, namun pada akhirnya tangan pria itu mengusap kepala Minhee yang tadi dipukulnya, membuat Minhee pada akhirnya tersenyum.

“Baiklah, ceritakan yang benar. Bagaimana wajahnya? Heem… apa dia cantik?” tanya Minhee dan Woobin pun kembali tersenyum lebar.

“Dia cantik, matanya bening… sangat indah hingga aku tak ingin berpaling. Dia juga sangat ramah,” Woobin terlihat berfikir sejenak. “Aku tidak tahu apakah dia selalu ramah dengan semua orang atau hanya denganku saja, yang pasti saat dia tersenyum aku merasa jantungku berulah, berdetak terlalu kencang hingga aku sulit bernafas.” Woobin menatap Minhee, ia terlihat tidak begitu yakin dengan kata-kata yang akan ia utarakan sebentar lagi.

“Apa mungkin dia seorang penyihir?”

Penyihir? Mungkin saja, karena dia berhasil menyihir hatimu dan membuatmu menjadi pria tidak waras.” Minhee mendengus kesal saat Woobin justru terlihat mengangguk setuju. Ya Tuhan Woobin benar-benar sudah gila, gumam Minhee dalam benaknya.

By
the
way, apa kau sudah berkenalan dengannya? Siapa namanya? Tinggal dimana dia?”

Woobin mengerjab, menatap Minhee malu-malu. “Eoh, aku lupa menanyakan namanya.” Woobin mengaruk tenguknya, menatap tak berdosa pada Minhee yang terdengar mengerang kesal.

“Kim Woobin kau benar-benar….” Minhee menahan emosinya, ia benar-benar kesal sekarang, bahkan ia merasa jika ubun-ubunnya sudah mulai terbakar.

“Aku tidak tahu bagaimana cara menanyakannya, Kim Minhee.”

“YAK!!!” satu pukulan Minhee berikan ke kepala Woobin, ia bangkit dari posisi duduknya, menghadap Woobin lalu mengulurkan tangannya. “Ulurkan tanganmu seperti ini dan perkenalkan dirimu, aku akan pastikan ia akan membalas uluran tanganmu dan memperkenalkan dirinya, simple bukan?”

“Kau yakin?”

“100% yakin.”

“Bagaimana jika dia menolaknya? Atau bagaimana jika ternyata dia memukulku?”

Minhee kembali menahan emosinya. “Tidak akan! Percaya padaku.”

Woobin akhirnya mengangguk setuju.

“Woobin-ah ada satu hal yang harus kau lakukan saat nanti kau berkenalan dengannya,” Minhee tersenyum penuh arti. “Kau harus tersenyum, tersenyum manis dan tulus, bukan senyum aneh yang sejak tadi kau lakukan dan benar-benar membuatku mual.”

Woobin memicing, ia kesal pada Minhee yang justru tertawa. “Ah, coba tersenyumlah sedikit Woobin-ah jangan sekaku itu.” Minhee mengulurkan tangannya, menarik paksa kedua sudut bibir Woobin, tak peduli saat pria itu mengerang kesal.

“Jika kau berkenalan dengan memasang wajah robotmu yang kaku dan pelit senyum, aku jamin dia akan memilih untuk menutup toko bunga itu untuk selamanya. Jadi aku mohon sahabatku yang tampan,” Minhee sedikit ragu dengan kalimat terakhirnya, namun ia mengabaikannya lalu menyentuhkan kedua tangannya di pipi Woobin. “Tersenyumlah untuk gadis itu, jika memang dia yang kau inginkan.”

Woobin terdiam, mengerjab seraya menjauhkan tangan Minhee dari pipinya. Selanjutnya Woobin sudah kembali tersenyum, sangat lebar hingga deretan gigi depannya terlihat. Sungguh berlebihan.

“Seperti ini?”

Aniani… itu terlalu kaku dan dipaksakan.”

“Seperti ini?” Woobin menganti senyumnya, tidak terlalu lebar, satu alisnya terangkat dan kepalanya miring ke kanan.

“YAK!!! KIM WOOBIN!!! Memangnya siapa yang akan kau ajak berkenalan? Bocah berumur 5 tahun?”

Final Minhee kesal luar biasa, putus asa, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki kekakuan yang sudah mengakar pada sahabatnya itu sejak dulu. Dalam rasa yang semakin membakar ubun-ubunnya Minhee melihat siluet dari pria lain di ruang tengah, Kim Jaejjong sang kakak laki-laki yang baru saja melintas di depannya.

“KIM JAEJJONG!!!”

Dalam hitungan detik wajah manis Jaejjong sudah menyembul di pintu beranda, pria yang memiliki senyum semanis Minhee itu memberikan pukulan kecil di kepala adik tersayangnya.

“Bersikaplah yang sopan pada kakakmu, Minhee.”

Aish!” Minhee mengusap kepalanya, meminta Jaejjong menatap Woobin yang terlihat masih berusaha tersenyum. “NeOppa tunjukkan senyummu pada Woobin.”

Jaejjong mengeryit, menatap Minhee binggung. “Apa?”

Ah, cepatlah.” Minhee memanggil Woobin, meminta pria itu untuk memperhatikan apa yang akan Jaejjong lakukan sebentar lagi.

“Apa susahnya… kau hanya perlu menarik kedua sudut bibirmu dan tersenyum.” ucap Jaejjong lalu tersenyum seperti yang Minhee minta.

“Sulit Hyung, dia menyihirku. Aku tidak bisa melakukan apapun saat dia sudah menatapku, apalagi saat dia sudah tersenyum.” Woobin menerawang. “Dia benar-benar penyihir Hyung, aku yakin itu.”

Jaejjong mengeleng pelan, ia merangkul pundak Minhee, mendesah seraya menatap prihatin ke arah Woobin yang kembali tersenyum sangat aneh di depannya. “Minhee-ah, ini sulit.” Minhee ikut mendesah, gadis itu mengangguk setuju.

“Aku tahu Oppa.” Minhee melepaskan rangkulan Jaejjong, mendorong pria itu untuk kembali ke dalam. “Tugasmu sudah selesai, kau bisa pergi sekarang.”

“Kau mengusirku?”

“Ayolah, Oppa, memangnya Oppa mau bertahan dengan manusia robot seperti Woobin? Demi Tuhan aku takut sekali jika nanti dia menjadi perjaka tua karena ke-kakuannya ini, jadi lebih baik Oppa menyingkir sebelum dia menularkannya pada Oppa-ku tersayang.”

Jaejjong menatap Woobin sekali lagi sebelum berlalu, namun ia terlihat mengurungkan langkah kaki seraya kembali menatap Minhee.

“Lalu apa kau akan menolongnya?” tanya Jaejjong dengan pandangan prihatin.

“Tentu saja, sebelum dia benar-benar menjadi pria gila.”

****

Jika membicarakan tentang keyakinan hati dan rasa percaya diri, sejatinya adalah dua hal yang selalu melekat erat pada diri Kim Woobin. Pria itu sejak dulu, bahkan mungkin sejak lahir, ia sudah mengidap penyakit mematikan tanpa celah untuk dapat disembuhkan, ia mengidap penyakit terlalu percaya diri. Ia selalu merasa sangat yakin jika dirinya sangat tampan, sangat pintar, sangat tinggi dan tidak terkalahkan.

Woobin memang sangat tinggi 188 centimeter, berotot dan tegab, dijamin jika dia melamar menjadi seorang model runway tanpa menunggu dua kali, Woobin pasti sudah diterima oleh agensi model profesional. Woobin juga terbukti sangat pintar, dengan otak jeniusnya ia bisa menciptakan alat super canggih berteknologi mutakir hingga ia direkrut oleh NTS, sebuah team agent rahasia untuk negara. Woobin juga menguasai Taekwondo, sabuk hitam. Ia juga mengusai Wushu dan Muangthai. Namun 1 hal yang tak seiring sejalan, Woobin bukanlah pria tampan.

Wajah Woobin sangat kaku, ekspresinya terlalu datar, rahangnya keras hingga selalu memberi kesan dingin dan tak tersentuh. Matanya sipit tanpa kelopak dan tertarik ke atas, memicing, selalu terlihat mengintimidasi lawan bicaranya. Dan karena wajah kakunya yang tidak tampan itulah, hingga kini Woobin tidak pernah sekalipun memiliki kekasih.

“Minhee-ah kira-kira apa yang sedang gadis penyihir-ku lakukan sekarang?”

Minhee tidak menjawab, ia lebih tertarik pada potongan besar Blueberry
Cheese
Cake di atas piring kecil yang tersaji di depannya, buatan Kim Raeyeong ibu angkat Kim Woobin sejak pria itu berumur 10 tahun. Minhee bahkan tidak berpaling, ia merasa kesal, berhari-hari setelah pertemuan Woobin dengan gadis yang di klaim pria itu sebagai penyihir, Woobin selalu bertanya hal yang sama, menceritakan tentang gadis penyihirnya berulang-ulang, hanya melihat dari kejauhan tanpa pernah berani untuk sekedar berkenalan.

Minhee mendesah gelisah, berusaha mengenyampingkan rasa tidak rela mendapati Woobin tengah dimabuk asmara, ia merasa takut kehilangan sosok sahabat yang sudah ada bersamanya selama hampir 5 tahun. Mungkinkah Minhee tengah dilanda rasa yang kerap kali merusak hubungan manis persahabatan? Eoh tentu saja tidak, Minhee hanya terlalu menyayangi Kim Woobin. Dan Minhee sangat sadar jika setiap orang berhak mempunyai kebahagiannya sendiri, termasuk Woobin dan sialnya kebahagian Woobin adalah alasan utama Minhee untuk tersenyum.

“Hari ini aku memutuskan untuk menemuinya Minhee, aku ingin berkenalan dengan gadis itu, bagaimana menurutmu?”

Menatap sang sahabat dari balik kaca yang menjulang kokoh dihadapannya Woobin bertanya, tanpa menoleh dan tetap sibuk merapikan tatanan rambut serta memastikan jika kemeja putih pas badan yang ia kenakan sudah terlihat pantas. Woobin membalikkan tubuhnya, matanya memicing menatap Minhee yang tengah menikmati cake buatan ibunya, gadis itu menyiratkan ketidak tertarikan sama sekali tentang apa yang kini tengah mengelayuti perasaannya.

Hey, setidaknya utarakan pendapatmu Minhee? Bagaimana penampilanku dan bagaimana senyumku?” Woobin berkacak pinggang, ia menampilkan senyum lebar berlebihan di wajah kakunya.

Yak! Hilangkan senyum aneh berlebihanmu, kau membuatku tak lagi berselera.” Minhee menaruh piring Cheese Cake di atas meja kaca di depannya, melipat tangan di depan dada, wajahnya tertekuk, menatap Woobin yang berjalan mendekatinya.

Aish, lalu aku harus bagaimana? Aku benar-benar ingin mengenal gadis itu, ayo bantu aku.” Woobin mengambil tempat di sisi Minhee, ia menampilkan aegyo yang justru membuat Minhee ingin memuntahkan isi perutnya

“Baiklah!” Minhee membenarkan posisi tubuhnya. “Apa perlu kau kutemani? Kita bisa berpura-pura tidak saling kenal, aku hanya akan memantau perkembangan kalian saja, bagaimana?”

“Bagaimana jika dia mengetahuinya?”

“Maksudmu dia tau kita saling mengenal? Itu tidak mungkin.” Minhee menyilangkan kedua tangannya. “Kau lupa sudah berapa kali aku melakukan tugas penyamaran? Dan hasilnya selalu memuaskan. Aku agent wanita terbaik di team kita, jangan lupakan itu. Jadi tidak mungkin dia akan mengetahuinya.” ucap Minhee tanpa keraguan, senyum sombong terulas di bibir tipisnya.

Woobin mengangguk setuju, ia masih sangat ingat jika Minhee, sahabat baiknya itu yang juga direkrut oleh NTS adalah salah satu agent yang disegani di dalam team karena kemampuan detectivnya yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ah, bagaimana jika aku berpura-pura ingin membeli bunga di tokonya lagi?”

“Kau benar itu yang aku maksud, kita akan datang terpisah, aku akan berpura-pura menjadi pembeli.”

“Lalu setelah itu? Kapan aku menanyakan namanya? Apa kita perlu memakai salah satu alat NTS untuk berkomusnikasi?”

Ahjussi tidak akan suka jika kita menggunakan alat-alat NTS untuk kepentingan pribadi.” Minhee mengeryit, membayangkan jika ketua mereka pasti akan berteriak karena mereka ingin meminjam alat team.

Handphone, kita bisa menggunakan handphone untuk saling berkomunikasi, bagaimana?” tuntas Minhee dalam wajah berserinya yang segera mendapat anggukan setuju dari Woobin.

****

Berbekal keyakinan seadanya, Woobin yang sejak 15 menit lalu berdiri memaku di depan pintu toko bunga sang gadis penyihir, pada akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk. Ia mulai tak tahan pada teriakkan Minhee yang hampir memecahkan gendang telinga, Woobin bahkan sangat yakin jika ia akan segera tuli sebelum ia menginjak usia 30 tahun. Woobin menarik nafas saat suara Minhee diseberang sana kembali terdengar, memerintahkannya untuk mendekati gadis yang berhasil membuat dunianya jungkir balik, menyelesaikan rencana perkenalan yang sudah disusun rapi oleh Minhee.

Di mulai dengan menyapa, tersenyum manis lalu mengulurkan tangan, mengenalkan dirinya pada sang gadis pujaan. Namun semua tak berjalan sesuai rencana, sekali lagi Woobin hanya terpaku, diam membisu, memperhatikan gadis di depannya yang tengah sibuk menata bunga. Dan semua terasa semakin sulit saat gadis itu pada akhirnya menyadari kehadiran Woobin di depannya, ia tersenyum, sangat manis, hingga Woobin merasa ada sekumpulan kupu-kupu cantik keluar dari bunga-bunga yang tertata rapi di belakang gadis itu.

Eoh Anda… selamat datang.” gadis itu kembali tersenyum, Woobin membeku, terpesona pada senyum gadis jelita yang membuat Woobin semakin yakin jika Tuhan benar-benar telah menurunkan satu malaikatnya ke dunia.

“Bagaimana, apa Ayahmu menyukai bunganya?” Woobin bertahan dalam diamnya yang kaku, membuat guratan halus terpatri di kening putih gadis itu.

Heem… Anda ingin membeli bunga lagi?” Woobin tetap diam, tak bergerak, menatap gadis si penjual bunga yang semakin terlihat binggung nyaris tanpa berkedip.

Puluhan detik berlalu dalam diam, hingga suara gemerincing dari lonceng yang tergantung di atas pintu memecahkan keheningan. Di kejauhan, tepat di depan pintu, seorang gadis cantik bersurai kuning keemasan menyeruak masuk, ia tersenyum hangat pada sosok gadis penjual bunga.

Hai Song Jiyeon, aku Kim Minhee.”

Dalam hitungan detik bahkan mungkin lebih cepat dari itu Woobin berpaling, menatap tak percaya sosok Minhee yang sudah berdiri disisi tubuhnya. Gadis itu tidak menatapnya dan Woobin semakin terkejut hingga menginginkan dirinya mempunyai kekuatan untuk berpindah tepat, sesaat setelah Minhee menuntaskan kalimatnya.

“Aku hanya ingin mengatakan jika pria kaku ini adalah sahabatku, dia ingin sekali berkenalan denganmu, namanya Kim Woobin. Semoga dikemudian hari kalian bisa lebih dekat.” Minhee menatap Woobin yang menegang dengan senyum cantiknya, ia menepuk pelan pundak sahabatnya itu seraya berbisik, sebelum berlalu begitu saja meninggalkan Woobin dan Jiyeon yang terkejut dibelakang sana.

“Sekarang giliranmu, jangan sia-siakan kesempatan ini dan membuat semua usahaku untuk mencari tahu nama dan segala hal tentang gadis penyihirmu berakhir tak berguna.”

Woobin mengaruk tengkuknya, ia menendang pelan udara kosong didepannya. Tak punya kalimat yang bisa terlontar dari kerongkongannya yang tersumbat, lidahnya pun sudah mati rasa. Woobin benar-benar malu dengan apa yang Minhee perbuat, ia bahkan berjanji akan membunuh Minhee setelah ini.

Hai aku Jiyeon… Song Jiyeon senang bertemu denganmu?”

Mata sipit Woobin membulat, menatap kaku pada jemari putih yang terulur di depannya. Woobin ingin sekali menyambutnya tapi ia merasa jika otot tubuhnya tak bisa digerakkan, jantungnya memompa sangat cepat hingga Woobin merasa sulit bernafas. Dan saat Woobin masih berkutat dengan jantungnya yang berulah, tiba-tiba tangan gadis yang terulur meraih jemarinya, mengenggamnya lembut. Seketika Woobin serasa berhenti bernafas, dunianya pun terasa tak bergerak, ia diam seperti patung.

“Temanmu bilang kau ingin berkenalan denganku, benar begitu Kim Woobin?” Menatap Woobin yang hanya diam dengan ekspresi wajah yang sangat kaku, Jiyeon terlihat tak mampu menahan tawanya. Ia tertawa lebar dan tidak menyadari jika ada satu rasa asing yang menyelinap ke dalam hatinya.

Dalam kekalutan yang meronakan wajahnya, Woobin berusaha untuk menguasai dirinya, menarik kedua sudut bibir, berdehem untuk melonggarkan tenggorokan seraya menyebutkan namanya. Mengakhiri acara perkenalan yang sungguh mendebarkan jiwa dan membuatnya hampir gila.

“Woobin… Kim Woobin.”

THE END

Ini adalah kisah WooYeon Couple bersama sahabat Woobin yang cantik— Kim Minhee,

berlatar dari kisah detective The Third Team.

Kisah Kim Woobin si pria tidak tampan yang mendambakan si cantik Song Jiyeon kkkkk

Buat Saiiya sech Woobin ganteng tapi kata temen-temen Saiiya Woobin gak ganteng, jadi anggap aja mereka benar… Kim Woobin bukan pria tampan.

Yang gak kenal Woobin heemm… ya gak perlu kenallah bayangin aja sesuai apa yang kamu inginkan, anggap aja lagi baca Fiksi dan bukan lagi baca FanFiction.

Enjoy

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. The Third Team Series : Casino Alias (Part 2) | Kim's Cinema
  2. The Third Team – Casino Alias (Part 3 – End) | Kim's Cinema

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: