The Third Team Series : Casino Alias (Part 2)


Previous Movie : Revenge Mission (12, 3, 4)  , Casino Alias (1)

Special Movie : Witch , Our Family

Third Team Agent Cast :

JI ChangWook, Bang Sung Joon,

Kim Minhee, Kim Woobin,

Park Cheonsa Ahn Jaehyun,

Cha Seungwon.

Supporting Cast:

Song Jiyeon, Lee Minho,

Kim Jaejoong, Other Artist (Cameo)

Created by : Alicia Kim /@Qraelf

Edited by : Ririnsetyo

 Thank you and happy reading ^^

 

 

 

“Miss me — Partner?” ucap Minhee dengan nada yang menyebalkan, Woobin memutar kedua bola matanya kesal melihat Minhee yang membanggakan diri sendiri karena telah menyelamatannya.

“Ups aa-aa, Dont Move!” Minhee menginjak punggung salah satu anggota gembong narkoba ketika ia berusaha untuk bergerak.

Woobin menarik paksa anggota tersebut, membawanya kedalam sebuah ruangan Laboratorium, diikuti Minhee dibelakangnya dengan tetap mengarahkan senjatanya. Woobin pun melakukan




Third team Secret Office

Jongsuk langsung meninggalkan rumah sakit setelah melihat siaran televisi yang mengabarkan bahwa di Crime Scene Building telah terjadi kebocoran gas. Ia mempercayakan Changwook pada Jaehyun dan segera meluncur ke Secret Office. Selama di perjalanan Jongsuk mencoba menghubungi 3 rekannya yang dia tahu ada di tempat kejadian, namun ia tak mendapatkan jawaban. Jongsuk pun menghubungi Seungwon lalu menceritakan semua yang terjadi pada ketua team mereka.

“Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?” Jongsuk berlari menghampiri Myungsoo yang masih sibuk didepan kamputer.

“Mereka mengambil alih kamera CCTV yang terdapat didalam gedung FCSII, aku berusaha untuk mendapatkan nya kembali, namun tidak mudah untuk ku lakukan. Malware yang mereka gunakan berbeda dari yang biasanya.”

“Ah!” Myungsoo menolehkan kepalanya pada Jongsuk yang sudah mengambil tempat bersebelahan dengannya. ” Aku melakukan Face recognition kepada petugas dari perusahaan gas tersebut, kau bisa melihat nya di komputer yang berada di hadapan mu.”

Jongsuk mengetikan kata sandi ID rahasia miliknya untuk dapat mengoperasikan komputer tersebut. “ini belum selesai?” Jongsuk menatap Myungsoo dengan kesal.

“Tangan ku cuma dua tuan Lee, sebaiknya kau bantu aku” Myungsoo mendengus menatap Agent NTS yang lebih tua darinya ini.

“Aigo?!” Jongsuk berniat memukul kepala analyst baru mereka yang seumuran dengan Jaejhyun. 3rd team membutuhkan analyst baru menggantikan Jaehyun yang banyak bertugas di lapangan.

” Myungsoo, apa kau tahu dimana Ajjhusi?”

“Aku tidak tau apapun. Dua hari yang lalu ia datang ke mari dengan tergesa-gesa, masuk kedalam ruangannya, dan pergi begitu saja, bahkan paman tua begis itu tak mengindahkan sapaan ku”

“Aku mendapatkannya.”

“Where?” Jongsuk membalikan tubunya pada layar besar.

“Lantai 4 dan 5!” Perintah Jongsuk.

“Got it!”

“Ada berapa petugas palsu yang berjaga di lantai dasar?” Tanya Jongsuk tanpa mengalihkan pandangannya,

“5 orang, berseragam”

“lantai 5?”

“2 orang namun berhasil di lumpuhkan oleh Sung Joon hyung.” Jawab Myungsoo seraya menampilkan wajah Sung Joon beserta kondisi lantai 5 Forensik gedung FCSI.

“Woobin, Minhee?!” Jongsuk tidak melihat keberadaaan Minhee dan Woobin dilayar CCTV. Myungsoo mengetikan dengan cepat di keyboard untuk berusaha menemukan kedua rekan nya itu.

“Aku tidak bisa menghidupan semua kamera yang terdapat dalam gedung FCSI.”

“FIND THEM!!”

“I got it, i got it! OMG this is not good!” Myungsoo membalikan tubuhnya menatap Jongsuk yang terdiam menatap layar besar. Jongsuk membulatkan matanya melihat salah seorang penjahat menodongkan senjatanya pada Woobin.

“Hubungi Siwon, aku akan segera ke sana.” Jongsuk membalikkan tubuhnya, berniat untuk segera berlalu. Namun niatnya terhenti, ia menatap sosok dingin Seungwon sudah berdiri di ambang pintu.

“Ahjussi?”

“Youre not going anywhere, mereka bisa menyelesaikan pekerjaan mereka. Masih banyak yang harus kita lakukan untuk membongkar Gembong Cocaine tersebut. ” Seungwon memberikan sebuah MAP tebal kepada Jongsuk.

“Myungsoo, kirimkan Ambulance dan Choi Siwon menuju gedung FCSI.”

“Laksanakan!” Myungsoo kembali mengetikan sesuatu dengan cepat guna menuruti perintah ketua 3rd team.




NATIONAL FORESIC And CRIME SCENE INVESTIGASTION BUILDING

“Sepertinya dia bingung” Minhee menatap salah satu anggota gembong narkoba yang terlihat kebingungan dengan senyum yang mengembang.

“Yak!! Bantu aku untuk merangkai ini semua, dasar pemalas?!”

“Aku kira kau memintaku untuk mengawasi pria ini.” Minhee menatap Woobin sekilas, dengan tetap mengarahkan senjatanya pada anggota gembong cocaine tersebut. “Kau tau Woobin ah, Jika Aku belum mempunyai kekasih mungkin aku akan mengencani dia” Minhee mendekatkan wajahnya, mengelus lembut wajah gembong narkoba yang terikat pada sebuah kursi, dengan mulut ditutup oleh LAKBAN berwarna silver

“Berhenti berbicara yang tidak-tidak, atau aku akan mengikat mu sama seperti aku mengikatnya!” ucap Woobin tanpa mengalihkan pandangannya dari kabel-kabel yang ia kaitkan dengan tabung Gas Nitrogen.

“Kau sudah selesai atau belum? Bukan kah ini keahlian mu? kenapa lama sekali?!” Keluh Minhee yang sudah tidak sabar.

“KAU CEREWET SEKALI!” umpat Woobin

“KAU TAMPAN SEKALI!” Minhee tersenyum seraya mengelus pipi Woobin dengan tangan kirinya.

“AKU TAHU!” Minhee mendengus karena melupakan satu hal, kalau sahabatnya ini sangat amat percaya diri.

“Cih kau hanya berani mengatakan itu jika berada bersama ku.”

“Sudah selesai bicaranya Sweet heart?!” Woobin menatap malas Minhee yang masih mengarahkan senjatanya pada gembong narkoba tersebut, menganggukan kepalanya cepat.

“Jelaskan”

“Sangat Mudah sekali” Woobin menyemprotkan Spray keudara hingga menunjukkan laser berwara merah muncul dari pintu sisi pintu. “Jika kau mencoba kabur atau seseorang berusaha menolong mu, melewati garis merah ini. BOM! Kau akan meledak dan membuat petugas kebersihan sangat tidak suka.” Ujar Woobin seraya menerima senjata dari tangan Minhee.

Minhee melambaikan tangannya pada anggota gembong narkoba tersebut, berlari menyusul Woobin yang sudah berteriak memanggil namanya.




6th Floor

Safety Room

“Permisi tuan, Anda harus segera meninggalkan gedung ini.”

Sung Joon yang baru saja mengunci pintu brangkas dengan kode-kode rahasia pun menolehkan wajahnya kepada seorang laki-laki berseragam dari perusahaan Gas.

“Sebentar aku harus menandatangani kertas ini.” Sung Joon tersenyum ramah menatap petugas tersebut. Setelah menandatangi Surat-surat yang ia perlukan, ia segera melangkahkan kakinya keluar dari safety room, namun langkahnya terhenti karena tidak sengaja melihat sebuah Handgun terdapat dibalik saku belakang petugas tersebut.

“Damn, senjata ku di ruang forensik” Sung Joon merutuki kebodohannya, ia pun segera menuju lift yang akan membawanya kembali menuju lantai 5. Sesampainya dilantai 5, Sung Joon berjalan dengan awas menuju ruang kecil yang terdapat di sudut lantai 5, mencoba untuk menghubungi Woobin, Minhee serta Agent yang berada diluar gedung namun tidak bisa.

“Sial, No signal.” Sung Joon pun mendengus kesal. Sung Joon pun teringat jika masih ada cara lain, yaitu mengunakan saluran darurat. Ia mengetikan sesuatu diatas layar komputer, berharap akan ada yang membalas pesan singkatnya.

“Ah Minhee” Sung Joon mendesah lega mendapati Minhee masih berada Forensic FCSI Building. Setelah melakukan pesan singkat dengan Minhee. Sung Joon pun memutuskan untuk menyusul Minhee dan Woobin. Ia tak mungkin membiarkan Minhee menghampirinya.

“Kreek!!” Sung Joon melirik kearah pintu yang ia biarkan terbuka, dengan perlahan ia meraih senjata yang terletak di laci meja tepat berada disisinya, berjalan menuju pintu dengan mengarahkan senjatanya kedepan, mencondongkan tubunya untuk melihat kesekitar.

“DOR!!”

“DOR!! DORR!!




“Woobin ah, Apa kau mendengarnya?” Minhee menghentikan langkahnya mendengar suara tembakan yang berasal dari lantai yang berbeda dengan mereka.

“Aku mendengarnya, aku harap Sung Joon baik-baik saja.”

Woobin meminta Minhee buntuk berada dihadapanya, ketika mendengar seseorang berlari dari lantai atas melewati tangga darurat. Mereka mengarahkan senjatanya kepada pintu yang menuju tangga darurat.

“Wow-wow its me!” Sung Joon mengangkat dua tangannya ke udara. Woobin dan MInhee menghela nafas lega ketika melihat Sung Joon yang kini berada di hadapan mereka.

“Apa kalian baik-baik saja?” Minhee dan Woobin menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Sung Joon.

“Apa yang terjadi diatas?” tanya Minhee yang kembali melangkahkan kakinya menyisir lantai 4 bersama Woobin dan Sung Joon.

“Aku berhasil melumpuhkan 1 orang kawanan perampok dan satu lagi aku biarkan mati perlahan didalam laci jenasah.” Sung Joon membanggakan dirinya.

“Cepar jalan, seharusnya kau yang berada didepan bukannya Minhee!” Woobin yang berada dibelakang pun menyusul Sung Joon untuk berada didepan Minhee.

“Chamkan! Apa kalian merasakannya?” Sung Joon mengejutkan kedua rekanya itu.

“Mereka mulai menembak pintu brangkas.” Minhee menatap keduanya dengan pandangan Cemas.

“Baiklah kita bagi tugas! Minhee, kau melalui Lift” Minhee menganggukan kepalanya.

“Sung Joon, kau keluarlah lewat basement, satu-satunya cara untuk keluar dari gedung ini dengan membawa narkoba tersebut melewati basement. Kau harus berusaha mencegahnya!” Sung Joon pun menganggukan kepalanya.

“bagaimana dengan mu?” tanya Minhee

“Aku akan menghadapi nya secara langsung.” ujar Woobin.

“Tota petugas gadungan ada 6 orang, kedua orang sudah berhasil di lumpuhkan oleh Sung Joon, satu orang lagi sedang kebingungan dalam tahanan laser ala Woobin, berarti ada tiga lagi yang masih berkeliaran.” hitung Minhee

“Gunakan Earphone kalian, Aku sudah mengaktifkan dengan saluran emergensi FCSI building” Sung Joon memberikan Earphone mini pada MInhee dan Woobin.

“Baiklah kalau begitu, lalukan pekerjaan kalian masing-masing.Usahakan agar kalian kembali dengan selamat.” Ujar Woobin sebelum berpisah dengan kedua rekannya.

Dengan bantuan sungjun minhee berhasil mencapai lift yg disabotase para gembong cocain dengan menaiki ventilasi udara.

 

“Aku butuh DIET, setelah kasus ini selesai aku akan membuat perhitungan dengan Minho yang membuat ku semakin gendut.” keluh Minhee yang merasa kesulitan merangkak didalam ventilasi udara berbentuk persegi dengan luas sekitar 50 cm. Woobin dan Sung Joon yang mendengar perkataan melalui mini earphone hanya bisa tersenyum seraya mengelengkan kepalanya

“Kau bisa menanyakan menu diet pada Jiyeon-ku, sejauh yg ak ingat ukuran pinggang Jiyeon tidak pernah berubah.”ucap Woobin dengan nada bangga

“Hyung kau menghapal ukuran Jiyeon? Luar biasa.” Sungjun terkekeh

“Aish bukan begitu maksudku, kau bisa melihatnya sendiri, kapan Jiyeon pernah mengemuk.”

“Yak kenapa kalian jadi membahas jiyeon?”

“Kau baru menyadarinya jika kau bertambah gemuk, bahkan sangat gemuk, pipi mu saja sudah mengembang 2 cm dari yang biasanya” ejek Sung Joon yang terengah-engah karena berbicara sambil berlari melewati tangga darurat menuju basement. Minhee pun menghentikan kegiatannya, mendengus seraya kesal memegang kedua pipinya.

“Yaa! Bang Sung Joon!” Protes Minhee.

“Hanya perasaan mu saja Sweet heart, kau tetap terlihat Georgeus dimata Minho dan diriku. Jangan dengarkan Sung Joon, dia selalu iri dengan penampilan mu yang sempurna.”

“Woobin-ah, Saranghae” ucap Minhee in the cute way. “Kau akan mendapatkan balasannya bang Sung Joon.!” Geram Minhee.

“Im Moving now!” Minhee menghela nafas berat saat berada di ujung ventilasi lantai 4, ia mendongak, menatap berapa tali liftyang menjuntai dari lantai paling atas hingga ke kebagian dasar bangunan. Setiap talinya terdiri dari 8 pintalan yang dililitlan bersama. Minhee mengenakan sarung tangan hitam yang selalu ada di dalam saku celana, mengapai tali baja dalam genggaman, dalam gerakan yang terlatih ia mulai merangkak naik menuju lantai 6. beruntunglah ia memiliki tubuh yang sangat langsing, hingga memudahkania untuk melalui celah kecil antara lift dan dinding di atas sana tanpa kendala yang berarti.

“Im in my position!” Minhee meraih senjata laras panjang yang sedari menggantung di tubuhya, membuka pintu bagian atas Lift, melihat Cocaine yang tersusun rapih sudah berada didalam lift.

“Sung Joon? Status?”

“Good, Aku baru saja menutup semua akses keluar melalui basement” Sung Joon menyeringai bersamaan dengan bunyi benturan terdengar keras.

“Bunyi apa itu?” Woobin pun terhenti.

“Bagian belakang mobil hyung menempel pada Emergency exit, dan bagian samping mobil Minhee menutupi Lift menuju basement.” Minhee dan Woobin langsung memeriksa kantung celana mereka, bersama saling merutuki kebodohan mereka karena Sung Joon berhasil mencuri kunci mobil mereka.

“Kau harus membayarnya dengan gaji mu anak muda!” Woobin mendengus kesal.

“Sepertinya Siwon sudah datang.” Sung Joon keluar dari kendaraan milik Woobin, mendengar sirine mobil polisi yang mendekat. Sung Joon berlari keluar basement menuju lobby utama tempat Siwon teman-temannya berada.

“Sweet Heart, Its Our Turn!”

“Copy that Handsome!”

Minhee melompat turun masuk kedalam lift, menaikkan sedikit kepalanya untuk mengintai gembong narkoba sedang mengeluarkan satu persatu cocaine dengan berat 1 kg yang terbungkus dalam plastik.

“Siap menembak!” Minhee mengarahkan senjatanya pada Salah satu gembog cocaine tersebut. “Menembak dalam hitungan 3 – 2 – 1”

.. DOR .. DOR…

Minhee bangkit dari posisinya dengan cepat ia menekan tombol Close pada Lift. Ia pun segera menyembunyikan dirinya dari tembakan yang diarahkan kepadanya bersamaan dengan pintu lift yang tertutup

“2 unsub down, Cocaine safe!! Sisanya aku serahkan padamu, Handsome. Sung Joon ah, aku menuju lantai dasar!”




“Copy That! Aku sudah berada di lantai 6” bisik Woobin yang baru saja membuka pintu emergency. Woobin pun mengendap-ngendap, mengedarkan pandangannya, memasang kedua telinganya dengan tetap mengarahkan senjatanya pada sekitar.

“Did you find him?”

“No one here” Bisik Woobin menjawab pertanyaan Minhee.

“Thats Weird” balas Minhee bersamaan dengan bunyi benda jatuh. Woobin pun segera menuju sumber suara dengan cepat.

“Dont Move!!”

Woobin mengarahkan senjatanya pada salah seorang gembong narkoba yang masih bertahan, ia menduga jika orang yang berada dihadapannya ini adalah pemimpin aksi pembobolan gedung FCSI. Woobin pun berjalan perlahan mendekati gembong narkoba yang menatap Woobin tajam, berusaha mencari cela untuk kabur darinya. Penjahat itu menatap sejata miliknya berada diatas meja yang terletak hanya 50 cm dari posisi ia berdiri saat ini.

“Dont do that, or i’ll Shoot you” Woobin memperingatkan.

“Aku tidak ingin masuk penjara, Aku hanya diminta oleh seseorang untuk mengambil kembali apa kalian ambil.” Woobin dapat melihat wajah rasa takut terpancar dari raut wajahnya.

“What your name, and Tell me Who send you?!”

“Joan. I dont know, he gave all equipment. Please let me do this, My family in danger! I cant life without them.” Joan menitihkan air matanya.

“Put Your hands behind your head.. No No.. Joan.. I’ll promise i cant save your Family..” Woobin berusaha menenangkan Joan yang ingin meraih senjata miliknya.

” No You Cant, you cant save my family.ia sangat berkuasa.”Joan meraih sejata yang berada disampingnya dengan cepat dan mengarahkan kepaa Woobin, dengan cekatan Woobinmenembakan isi peluru kearah joan berkali-kali satu peluru mengenai tangan

DORR!! DOOR!!!! DOORR!!!!

Woobin segera berlari menghampiri Joan yang terkapar dilantai, mengengam tangan Joan yang ingin mengucapkan sesuatu.” Ku..Mo..Hon.. Sela..mat..kan..kelu..arga ku..” ujar Joan terbata-bata.

“Dimana mereka menyembunyikan keluarga mu? Siapa yang mengutusmu? ” tanya Woobin. Joan mengelengkan kepalanya perlahan sebelum menutup kedua matanya.

“No No No..Stay With Me, Stay With ME!!! Joan!!!” Woobin meletakkan kedua jarinya pada leher Joan, ia menghela nafas setelah tidak menemukan denyut nadi.

Minhee, sungjun dan siwom kembali bergegas masuk ke dalam gedung FCSI untuk menyusul woobin, mereka trlihat berhenti d depan pintu lift, melihat tali baja pengerak lift bergerak, menampilkan angka di layar kecil d samping lify bergerak mundur, lift sedang bergerak turun. Mereka bertigapun mengarahkan senjata ke arah pintu lift, bersiaga untuk kemungkinan apapun yang terjadi setelah pintu lift terbuka. Namun saat pintu lift perlahan terbuka, saat itu juga mereka bertiga menarik nafas lega, menatap woobin yang perlahan keluar dari dalam lift.

“All Clear, Semua sudah terkendali, Ah ada 1 orang berada dalam tahanan laser yang aku ciptakan. Kau tinggal masuk tanpa harus takut tabung Nitrogen tersebut akan meledak.” Minhee menatap Woobin dengan mulut terbuka, terkejut ternyata semua laser yang diciptakan olehnya hanya cahaya tipuan belaka. “Kau kira aku akan meledakkan gedung ku sendiri? Aku tidak sebodoh itu, membiarkan gajiku dipotong oleh Ajjhusii karena hal itu” Woobin merangkul Minhee, memaksanya untuk berjalan mengikutinya.

“Hyung!! Noonnaa!!! Kalian baik-baik saja?!”

Jaehyun berlari menghampiri ketiga seniornya setelah Ajjhusi meminta dirinya untuk memastikan keadaan Woobin dan kawan-kawan. Ia meninggalkan Changwook dengan penjagaan ketat. Beberapa Agent NTS dan anggota kepolisan berjaga diseluruh dirumah sakit.

“Kami baik-baik saja, Siwon sedang mengurus semuanya.” Ujar Sung Joon yang berjalan beriringan dengan Woobin dan Minhee.

“I want to take a shower, Meet My lovely Minho. OH GOD! I miss him so much” Minhee meninggalkan Woobin dan yang lain, namun langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan Jaehyun, membalikan tubuhnya menatap kesal kearah Jaehyun dan yang lainnya.

“Not So Fast Noona, Ajjhusi wants to meet in Ops Now” Jaehyun menunjukan deretan giginya. Woobin hanya bisa mengerdikan bahunya, menarik Minhee yang enggan beranjak dari tempatnya.

“Come On Sweet heart, We still on Duty”

“Wait-wait!!” Minhee menghentikan langkahnya, Woobin, Jaehyun dan Sung Joon pun menatap Minhee dengan dahi berkerut. Minhee meraih telepone gengam yang terdapat pada saku celananya. ” AJHHUUSSSii!! AKU MAU RAPAT KALI INI DIADAKAN DI MEETING ROOM RUMAH KU!! TITIK!!”

“YA KIM MINHEEE!!!!” Minhee mengakhiri sambungan telepone nya dengan Seungwon begitu saja. Minhee tersenyum puas “Let Go to my house guys”




Minhee’s House

Meeting Room

 

 

 

Di ruangan luas bergaya minimalis dan terlihat sangat manis untuk seorang Kim Minhee, para anggota NTS tampak berjalan memasuki ruangan. Bercat putih berhias wallpaper motif Cerry blossom warna pink hampir menutupi seluruh dinding, ada sepuluh kursi berwarna jingga melingkari meja kaca berukuran besar di tengah ruangan, Vas bunga berbahan crystal dengan 5 tangkai bunga lily di dalamnya. Seungwon mengambil posisi duduk paling ujung, di samping kanannya duduk Kim Minhee, sebagai tuan rumah yang mendapat predikat tidak terlalu ramah. Setidaknya itulah pendapat Jaehyun saat Minhee meminta anggota termuda team mereka itu, untuk menyiapkan minuman dingin dari lemari pendingin di dapur ke atas meja.

 

 

Sung Joon masuk ke dalam ruangan, duduk di samping Minhee, disusul Jongsuk dan Jaehyun yang membawa minuman untuk mereka semua, duduk bersebelahan tepat di depan Minhee dan Sung Joon.

 

 

“Aku baru kali ini melihat ruang rapat bercorak pink seperti ini” Bisik Sung Joon pada Jongsuk. “Kau tidak bisa membayangkan teknologi yang terdapat didalamnya” balas Jongsuk yang sedari tadi tak bisa berhenti berdecak kagum dengan teknologi mutakhir yang menurutnya sungguh berlebihan untuk seorang wanita seperti Minhee.

 

 

“Jaga bicara kalian hyung, atau kau akan berakhir di kolam ikan piranha milik Jaejoong Hyung.” Ujar Jaehyun pelan membuat Sung Joon dan Jongsuk langsung terdiam.

 

 

Suara anggota NTS yang berbincang ringan timbul tenggelam, tertawa kecil untuk lelucon yang terlontar dari Sung Joon dan Jongsuk. Minhee sibuk bersama handphone di tangannya, mendelik sangar saat Sung Joon mencuri lihat apa yang terjadi di layar handphone miliknya. Namun suara para anggota NTS surut seketika saat anggota terakhir masuk ke dalam ruangan, Kim Woobin melangkah masuk dalam aura yang tidak bersahabat. Wajah kakunya mengeras, rahangnya bergerak seiring suara gemeletuk dari giginya yang beradu, tangan kanannya yang mengenggam hanphone menempel di telinga kanan, berbicara dingin pada seseorang di seberang sana.

 

 

“Jika aku bilang tidak, ya tidak!” Woobin menarik bangku tepat di sebelah Jaehyun hingga menimbulkan bunyi dencitan, semua orang kini menatapnya. “Jangan membantahku atau kau akan menerima akibatnya, kau mengerti!”

 

 

Woobin membanting handphonenya di atas meja, semua orang terkejut, menatap tak mengerti sosok Woobin yang terlihat sangat marah. Jaehyun yang duduk di samping Woobin masih sangat syok, mulut pria itu menganga, mata sipitnya membesar, mengerakkan tangannya pelan pada lengan Woobin hingga ia kini menatap Jaehyun dingin, kaku, menyeramkan.

 

 

“Wae?” Woobin mendelik, meremangkan bulu-bulu halus di tengkuk Jaehyun.

 

 

“Ada apa Hyung? Apa ada hal serius yang terjadi?” tanya Jaehyun hati-hati.

 

 

“Iya. Ini bahkan menyangkut kelangsungan hidupku.” jawab Woobin, menatap tak sengaja ke arah Seungwon. Semua mata kini menatap Seungwon, meminta penjelasan. Seungwon yang bingung tergagap, balik menatap para anggota NTS yang menatap buas ke arahnya.

 

 

“Ya…ya…ya… kenapa menatapku? Aku tidak melakukan apapun.” Seungwon membela diri, matanya mengerjab menatap Woobin. “Woobin-ah kenapa menatapku? Memangnya apa yang aku lakukan padamu.”

 

 

“Berniat berselingkuh dariku.”

 

 

“MWOYA????”

 

 

Semua orang menjerit tertahan, menatap Woobin dan Seungwon bergantian, Jaehyun yang paling syok, pria berwajah imut itu membekab mulutnya, mengeleng lemah lalu bersandar lemas di bahu Jongsuk.

 

 

“Aish! Yak! Hentikan.” Seungwon menarik nafasnya, memijat pelipis, berusaha menenangkan situasi aneh di antara team. “Kim Woobin katakan dengan jelas, jangan membuat teman-temanmu dan juga aku menjadi salah duga.”

 

 

“Ahjussi…” semua orang kembali menatap Seungwon. “Jiyeon berniat berselingkuh dariku.” semua orang menghembuskan nafas lega, kembali keposisi tenang mereka.

 

 

“Bagaimana mungkin?” Jaehyun bertanya. “Jiyeon Noona tidak mungkin melakukannya, Noona gadis yang sangat manis, Hyung?” Woobin mengangguk lemah.

 

 

“Dia bilang dia ingin pergi dengan laki-laki lain.” wajah kaku Woobin tertekuk.

 

“Apa laki-laki itu lebih tampan darimu?” Sung Joon ikut berbicara.

 

 

“Mungkin lebih romantis dan tidak kaku sepertimu, Woobin-ah.” Jongsuk menambahkan, membuat suasana hati Woobin semakin meradang.

 

 

“Itu tidak benar,” timpal Jaehyun seraya mengerjab pelan, tangannya mengusap lengan Woobin lembut. “Tenanglah Hyung, Noona tidak mungkin melakukannya.”

 

 

“Hey!” Minhee bersuara, membuat satu-satunya wanita di ruangan itu mendapat tatapan dari semua orang. “Menurut kalian, model Nail art mana yang bagus untuk aku pakai dikencanku bersama Minho akhir minggu nanti?” tanya Minhee ceria, memajukan tubuhnya dan menunjukkan beberapa model Nail art yang terpampang di layar hanphonenya.

 

 

“Yang ini bagus,” jawab Sung Joon, menunjuk Nail art bentuk bunga Cerry blossom.

 

 

“Yak! Kim Minhee!” Woobin kembali meradang, mata tajamnya merajam Minhee tanpa belas kasih.

 

 

“Waeyo?” ucap Minhee tanpa rasa bersalah.

 

 

“Hentikan!” Seungwon menarik nafasnya, kembali memijat pelipis, mencoba bersabar menghadapi anggota team yang terkadang bertingkah kekanakan. “Minhee bisakah kau memberi solusi untuk Woobin?” Seungwon merendahkan suaranya, menatap Minhee penuh harap. Tapi Minhee hanya mendengus lalu kembali ke posisi duduknya.

 

 

“Bintang kecil berlatar biru salju Frozen lebih cocok di kukumu Minhee Sayang,” ucap Seungwon seraya memberi tatapan pada Minhee untuk mengatakan hal yang lebih manis pada Woobin. Minhee tersenyum senang seketika, ia lalu berpaling pada Woobin. “Itu hanya dugaanmu Woobin, Jiyeon bukan gadis seperti itu. Dia tetaplah malaikat-mu yang cantik dan tidak akan pernah berpaling darimu, percaya padaku.” Minhee bersuara, lembut, meyakinkan dan menenangkan. Samar Minhee dapat melihat senyum lega di wajah Woobin.

 

 

 

“Sekarang pembicaraan ini kita tunda dulu, ada hal penting yang ingin Seungwon ahjussi sampaikan, benar begitu?”

 

 

Seungwon mengangguk, ia menatap Woobin. “Aku janji akan membantu masalahmu, setelah kita menyelesaikan misi ini, Woobin-ah. Aku akan berbicara pada Jiyeon-mu sebagai seorang ayah, dan menyakinkannya jika kau sangat pantas untuk menemani sisa hidupnya di dunia ini.” Woobin berseri, menatap Seungwon yang sudah mengangguk.

 

 

“Benarkah?”

 

 

“Tentu saja,” Jaehyun memotong, menahan Seungwon yang ingin membuka mulutnya.

 

 

“Ahjussi akan membantuku?”

 

 

“Tentu Hyung, Ahjussi sudah seperti ayah untuk kita semuakan,” Jaehyun kembali memotong, membuat Seungwon kembali hanya bisa menghembuskan nafasnya. Jaehyun selalu seperti itu.

 

 

“Baiklah. Kita mulai sekarang.”

 

 

Semua anggota NTS menatap Seungwon, wajah mereka serius mendengarkan penjelasan Seungwon. Sung Joon mengeluarkan note dari sakunya, mencatat hal penting dari yang Seungwon ucapkan, kini mereka semua menatap layar besar dengan Seungwon bergantian dengan Jongsuk memberi penjelasan dari yang mereka temukan.

 

 

“Seperti yang kalian tahu, Steven Chun adalah orang yang sangat berbahaya, siapapun berani mati untuknya..Siapapun.” Jongsuk mengetikan sesuatu pada laptop, memunculkan wajah Steven Chun pada layar raksasa yang terdapat pada ruang Meeting.

 

 

“Hai Guys?!” Myungsoo muncul di layar raksasa, melambaikan tangannya pada seluruh Agent.

 

 

“What You Got handsome?” Tanya Cheonsa yang membuat Jaehyun kesal karena Cemburu. Jaehyun tidak suka berbagi kasih sayang seluruh Hyung dan Noona untuk siapapun termasuk untuk Myungsoo.

 

 

“Seperti yang Woobin katakan mengenai Joan dan keluarganya. aku meng kroscek kembali bukan hanya Joan namun seluruh keluarga petugas gadungan tersebut. Mereka semua mempunyai masalah keuangan, bahkan diantaranya termasuk Joan dan keluarganya terlilit hutang yang sangat besar. ”

 

 

“Aku berhasil melihat Email dan panggilan masuk dan keluar, setelah ku cocokan dengan database, telepone tersebut berasal dari macau.” Jelas Myungsoo lagi

 

 

“Jadi apa yang harus kita lakukan?” Minhee memeriksa kembali cat kuku yang sudah terpoles diseluruh kuku nya. Ia bosan dengan seluruh penjelasan yang diutarakan oleh Seungwon, Myungsoo ,ataupun Jongsuk. Minhee tipical Agent yang cukup sekali penjelasan ia langsung paham dan tau apa yang harus ia lakukan.

 

 

“Minhee ya!” Seungwon menghela nafas menatap Minhee yang sangat tidak tertarik dengan rapat kali ini.

 

 

“Sung Joon, kau akan menemani Minhee melakukan penyamaran, Cheonsa kau tetap di hotel untuk memantau keadaan lokasi, serta berhubungan dengan Myungsoo di korea. Sedangkan Aku, Jongsuk dan Woobin akan memantau kalian dari jauh.” Jelas Seungwon.

 

 

“Lalu bagaimana dengan ku?” tanya Jaehyun.

 

 

“Are you good for gambler?” Sung Joon menatap Jaehyun.

 

 

“Perhaps, tapi aku bisa berhitung dengan sangat cepat.” Jaehyun tersenyum menunjukan seluruh deretan giginya.

 

 

“Great! Buckle up guys Wheels in 2 hours!” ujar Seungwon bangkit dari kursinya meninggalkan ruang rapat diikuti beberapa Agent lainnya. Minhee bangkit dari kursinya menatap Woobin yang masih berada dalam posisinya dengan kesal. “Kau itu bodoh atau apa? memang masalah mu dengan Jiyeon akan selesai jika terus berdiam diri seperti ini?” Woobin menatap Minhee yang bertolak pinggang dihadapannya.

 

 

“Lalu?”

 

 

“Temui dia bodoh, atau kau akan kehilangan dia untuk selamanya!” Woobin membulatkan kedua matanya, membayangkan apa yang dikatakan Minhee akan terjadi. Ia segera bangkit dan pergi menemui Jiyeon.

 

 

“Berjanji padaku, untuk tidak menertawakan Woobin nanti… Hmmm.. i dont tell him, Jiyeon will going with you.. heem.. Yes He is on the way now.. take care baby.. i love you too. ” Minhee pun mengakhiri percakapan melalui telepon.




 

 

Jiyeon’s Apartement

 

 

Woobin melangkah kasar memasuki apartement, aura kemarahan menguar dari wajah Woobin yang mengeras. Mata sipitnya yang tajam menatap Jiyeon yang baru saja keluar dari kamarnya, membuat langkah Woobin terhenti tanpa rencana. Ia memperhatikan Jiyeon dari ujung kepala hingga kaki, gadis itu sudah siap untuk pergi. Jiyeon mengenakan atasan abu-abu lengan panjang dengan rok pendek bermotif, wajahnya yang putih sudah terpoles make-up tipis hingga terlihat semakin cantik.

 

“Oppa….” Jiyeon terkejut mendapati Woobin yang sudah kembali ada di apartementnya, ia senang, tidak menyangka jika Woobin akan kembali secepat ini.

 

“Wae? Kau terkejut dan tidak suka jika aku kembali lebih cepat? Tenanglah aku hanya ingin memberitahumu, jika aku akan ke Macau untuk beberapa hari, jadi kau bebas berkencan dengan pria manapun.” ucap Woobin dingin, menatap memicing Jiyeon yang justru hanya mengerjab, gadis itu tidak mengerti dengan apa yang Woobin bicarakan.

 

“Nde? Siapa yang mau berkencan?” Jiyeon melangkah mendekat, binggung dengan sikap Woobin yang dingin.

 

“Omong kosong, kau mau pergi kemana?”

 

“Aku… aku ingin melihat Festival Sakura dengan….”

 

“Siapa laki-laki itu?” Woobin memotong kalimat Jiyeon, membuat gadis itu semakin binggung, ia mengeryit tidak tahu dengan laki-laki yang Woobin maksud.

 

“Apa?”

 

“Tidak usah berpura-pura, bukankah kau bilang akan pergi dengan seorang laki-laki? Kau ingin berhianat di belakangku, Song Jiyeon?”

 

“Oppa kau salah mengerti,” Jiyeon tersenyum, namun Woobin tak bergeming. “Aku tidak pergi dia laki-laki lain, bagaimana bisa Oppa berfikir seperti itu? Aku pergi dengan….”

 

“Diamlah.” Woobin menaikkan nada suaranya.

 

Namun Jiyeon justru tertawa, ia mendekati Woobin, memeluk erat tubuh menjulang Woobin hingga pria itu memaku dan sediki lupa jika ia sedang marah pada Jiyeon. “Oppa kau lucu sekali,” Jiyeon mendongak, kembali tertawa menatap wajah Woobin yang masih tak bergeming.

 

“Jangankan untuk melakukannya, berfikirpun aku tidak pernah.” Jiyeon melepaskan pelukannya, mengusap wajah Woobin masih dengan senyum hangatnya yang manis.

Bel pintu terdengar Jiyeon dan Woobin terlihat saling memandang, Jiyeon segera menarik lengan Woobin, memaksa laki-laki itu untuk mengikuti langkahnya. Ia membuka pintu lebar-lebar, tersenyum manis pada sosok pria tinggi berwajah tampan di depannya. Pria itu tersenyum hangat, ia terlihat terkejut sebelum akhirnya tersenyum ke arah Woobin yang berdiri menegang di samping Jiyeon.

 

“Eoh, Woobin kau sudah kembali? Apa itu berarti Minhee-ku juga sudah kembali?”

Woobin mengangguk samar, ia melirik Jiyeon yang hanya diam, seketika rasa sesal menyelimuti hati Woobin. “Tidak, aku hanya sebentar di sini. Aku hanya ingin memberitahu Jiyeon jika besok aku akan ke Macau.”

 

“Hemm… kami ingin ke Festival Sakura, kau pernah bilang jika Jiyeon sangat suka Sakura dan karena hanya aku yang kau izinkan untuk menemaninya, jadi aku mengajaknya.”

Woobin menutupi wajahnya, tertawa pelan dengan wajah yang terlihat merona. Ia malu saat Jiyeon menatapnya, mengabaikan Minho yang terlihat binggung.

 

“Kalian baik-baik saja?” Minho bertanya ragu.

 

“Aku kira Minhee sudah memberitahukannya padamu.”

 

Jiyeon tersenyum, mengangguk pelan untuk menjwab pertanyaan Minho barusan. “Woobin Oppa berfikir aku berselingkuh, benar begitu Oppa?”

 

“Maafkan aku… aku hanya….” Woobin mengaruk tengkuknya, melirik Minhoo yang tengah menertawakannya. “Aish! Memalukan.” gumam Woobin sesaat sebelum menarik Jiyeon ke dalam pelukannya.

 

“Katakan pada kekasih mu, aku akan membalas nya nanti.” Woobin tersenyum malu menatap Minho yang juga menahan tawanya.

 




The Venetian Macao Resort Hotel

 

 

Venetian macau merupakan salah satu Icon negara kecil Ex Koloni portugal. Hotel yang memiliki Mall dan Casino terbesar diseluruh Asia. Interior Hotel bergaya eropa yang sempurna, dengan salah satu Hall utama dibuat sedemikian rupa menyerupai Venezuela dengan sungai-sungai terdapat didalamnya. Myungsoo memesakan 2 kamar Bella Suite dengan connecting door menggunakan Alias untuk rekan-rekannya. Minhee berhasil memaksa seluruh Agent untuk mengganti pakaiannya dengan gaun dan hasil rancanganya. Ia beranggapan jika mereka harus terlihat berkelas di seluruh Venetian.

 

Setelah pintu kamar ditutup oleh Bell Boy yang mengantar third team menuju kamar. Para Agent pun segera meletakan perlengkapan mereka dengan cekatan, menyusun 6 laptop diatas meja makan, memasang satu kabel dengan kabel lainnya, menyusun koper berisi senjata laras panjang, dan beberapa alat untuk penyamaran. Minhee mengeluarkan Koper kecil berisi dua Handgun kesayangannya, memeriksa dengan seksama untuk digunakan malam ini. Woobin bahkan memeriksa beberapa alat yang berhasil ia buat beberapa hari yang lalu berupa mini bom dan Granat jika diperlukan. Seungwon memilih untuk menemui Kepala Pertahanan Macau untuk melihat apakah Polisi dapat diajak bekerja sama atau tidak.

 

 

“We Are Conected with Myungsoo Now” ujar Cheonsa tak melepaskan pandangannya dari MACBOOK AIR yang beradada dihadapannya.

 

 

“Earplugs Satelite are Active too” Jaehyun menambahkan.

 

 

“Aku berhasil mendapatkan seluruh CCTV yang terdapat di hotel, Mall serta Casino yang berada di basement.” Ujar Cheonsa. Minhee menghampiri Cheonsa, untuk melihat apa yang berhasil ia dapatkan.” Stop Right there. ” Minhee menujuk kepada salah satu bagian yang terdapat pada layar. Cheonsa mengikuti permintaan Minhee.

 

 

“Zoom In, Please” Minhee mengeraskan wajahnya menatap seseorang dari layar Laptop milik Cheonsa

 

 

” Minhee ya, ada apa?” Cheonsa mengalihkan pandangannya menatap Minhee yang terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.

 

 

“Apa kau mengenalnya?”

 

 

“Tidak!” Minhee melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan perasaan tidak menentu, Woobin menghampiri Cheonsa, kemudian menyusul Minhee yang masih berada di lorong lantai 12.

 

 

“Apa yang kau lakukan?” Woobin menarik lengan Minhee, membuat mengadap Woobin.

 

 

“He is here, He is here. I need to meet him!” geram Minhee

 

 

“For What? Asking him, makes you look terible in front of him?” Woobin menatap tidak suka kearah Minhee, ia tidak setuju dengan apa yang akan Minhee lakukan.

 

 

“I just need to know Why…. Why he left me behind?!” MInhee menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan air matanya. Woobin menarik Minhee kedalam pelukannya. ” You already have Minho, who loves you so much and i know that you Love him too.” Minhee menganggukan kepalanya.

 

 

“So, Who Cares about Hong Jonghyun damn Ass?” Minhee tertawa mendengar Woobin berbicara dengan nada meremehkan.

 

 

“Thats My Sweet heart, Are We God Now?!” Woobin menatap Minhee dengan senyum yang mengembang.

 

 

“Yes We Good.”

 

 

“Great!”

 

TO BE CONTINUED

 


Please Say Hello To Our New Comer ” HONG JONGHYUN”, Si Ganteng yang bikin hati meleleh dan Mencuri semua perhatian ku dari Minho dan Woobin.. Siapakah Hong Jonghyun sebenarnya, apa hubungannya dengan Minhee?? #eh


 

 

 

 

 


Advertisements
Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. ZNabila

     /  December 24, 2016

    Berasa nonton film. Ceritanya bagus kak, bikin nagih..

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: