The Third Team Series – Gapgrass Syndrome (Part 1)


“Capgras Syndrome – Part 1”

Third Team Cast :

JI ChangWook, Bang Sung Joon,Kim Minhee, Kim Woobin,

Park Cheonsa, Ahn Jaehyun, Hong Jonghyun.

Supporting Cast:

Song Jiyeon, Lee Minho,Kim Jaejoong, Kim Myungsoo

Other Artist (Cameo)

 By : Alicia Kim

 

Seoul International Hospital

South Korea

“Minhee ya”

Minhee bangkit dari kursi tunggu ruang ICCU, ia bernafas lega melihat Minho menghampirinya. Memeluk Minhee dengan erat, seakan ingin memberikan energy positif yang terdapat pada dirinya kepada wanita terpenting dalam hidupnya saat ini.

“How’s Woobin?” Minhee melepaskan pelukannya, menoleh kedalam ruang ICCU. Terdapat Jiyeon sedang berdoa menatap Woobin yang belum sadarkan diri. “Masih sama, belum sadar.. ” Jawab MInhee dengan nada bergetar. ” Oh My..He Saved me…” Isak Minhee untuk kesekian kalinya, merasa bersalah karena dirinya adalah penyebab dari terbaring nya Woobin dirumah sakit.

“Heii.. dia melakukan itu karena menyayangi mu, jadi jangan tunjukkna air mata mu didepannya, kau harus kuat, lebih kuat dari Jiyeon dan dirinya saat ini.” Minho kembali menarik Minhee kedalam pelukkannya, membiarkan Minhee kembali menangis sampai keadaannya membaik. Minho langsung kembali dari perjalanan bisnis nya ketika Minhee menghubunginya dalam keadaan Menangis, ia bahkan tak bisa mendengar apapun yang Minhee katakan karena isak tangisnya.

“Minhee, Kau tak mau menjawab telepone mu?”

Minhee meraih telepone genggamnya, ia mengeluh ketika melihat nama Operation Room 3rd team terdapat di layar telepone gengamnya. ” Kim Minhee Speaking.” Jawabnya.

“Noona, We have a Case.” Minhee mendesah kesal seraya menatap kembali kedalam ruang ICCU setelah mendengar pemberitahuan dari Myungsoo. “Apa hanya aku Agent yang kalian miliki? Hubungi yang lain dan lakukan apa yang harus kalian lakukan. Aku takkan melakukan apapun sampai Woobin membuka matanya, mengerti!!” Minhee mengakhiri pembicaraanya dengan Myungsoo. Bagaimana mungkin Minhee bisa bekerja ketika Woobin masih terbaring didalam sana tanpa kepastian kapan ia akan membuka matanya.

“Minhee ya, you have a case. aku rasa Woobin takkan suka jika mengetahui kau tak melakukan pekerjaan mu dengan baik hanya karena dirinya.”Minhee menghela nafasnya, membayangkan Woobin seperti yang dikatakan Minho, akan memakinya dengan senang hati arena sikapnya yang tak profesional.

” kau benar, bahkan bulu kudukku sudah berdiri seakan-akan ia sudah bangkit dari tidurnya, memakiku karena hal itu.” Tawa Minhee yang terdengar sumbang, Minhee kembali menghela nafasnya menatap Minho. ” Baiklah, aku akan menuju Ops sekarang.” Minho tersenyum mengelus lembut pipi kekasih hatinya .

“Thats My Girl, Im Proud Of you Darling and Woobin Will Too.” Minhee memberikan pelukan hangatnya pada Minho. ” Aku titip mereka padamu.” Minho menganggukan kepalanya tersenyum, mencium kening Minhee singkat sebelum membiarkannya meninggalkan rumah sakit.

Minho menatap punggung Minhee yang semakin menjauh, menghela nafasnya berharap Minhee akan kembali dengan selamat. ” Take Care Sweet heart.”

****

The Third team Quarters

Meeting Room

“Sorry Im late..” Minhee mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Sung Joon dan Jongsuk. ” Kita belum memulainya.” Bisik Sung Joon dibalas anggukan oleh Minhee. “Nice To See you, By The way.” Bisik Jongsuk, dibalas senyuman oleh Minhee. Third team memilih untuk mengadakan pembahasan kasus di ruang rapatdilengkapi dengan layar besar, serta meja rapat persegi panjang untuk para Agent.

“Apa yang kita punya?”tanya Minhee menandakan rapat harus segera dimulai, Minhee mengambil alih kepemimpinan 3rd team selama Woobin tidak ada.

“Ada pembantaian di sebuah perusahaan kecil bernama Inerlock yang berada didaerah Busan. Korban adalah seluruh pekerja termasuk Direktur utama, total semuanya adalah 30 orang” Cheonsa bangkit dari kursinya mendekati layar besar dengan remote control berada di tangan kirinya, menampilkan beberapa foto para korban pembantaian pada Layar besar berukuran hampir 200 inc.

“Itu banyak sekali.” Gumam Sung Joon tanpa mengalihkan pandangannya dari layar besar.

“Yap, 19 diantaranya di tembak, 6 diantaranya di tusuk dibagian khusus hingga mati.”jelas Jaehyunmembolak-balikkan laporan yang diberikan Cheonsa kepadanya sebelum rapat dimulai

” A gun and a Knife, Thats Highly unusual” ujar jongsukserius menatap layar besar, menampilkan gambar tempat kejadian perkara, darah berceceran dimana-mana serta tubuh korban masih berada di tempatnya.

“Bisa jadi pembunuhan di lakukan oleh dua orang.” Ujar Hong Jonghyun. Minhee mengerutkan dahinya menatap Jonghyun karena ikut dalam rapat Third Team. ” Ajjhussi memintanya untuk membantu kita menangani kasus ini, mengingat kondisi Woobin.” Bisik Sung Joon seakan mengerti apa yang ada dalam kepala Minhee.

“Apa ada keterkaitan dengan kasus yang pernah kita tangani?” Tanya Minhee, Cheonsa mengelengkan kepalanya ” ini adalah kasus pertama dan karena itulah kepala NTS meminta kita untuk menanganinya.”

“Bisnis mereka?” tanya Sung Joon

“Perusahaan kecil bergerak dibidang pengamanan jaringan dan sistem internet perusahaan, perusahaan yang mereka tangani bukan perusaahaan besar sekelas Hyundai Corporation atau Samsung, melainkan perusahaan kecil dan menengah serta perusahaan yang baru saja merintis bisnisya.” Jelas Jaehyun

“Mereka baru saja pindah ke gedung baru, lebih besar dari sebelumnya, so they didnt have a time to set up their system yet.” Minhee menghela nafas mendengar lanjutan dari pernyataan Cheonsa, berarti jangan berharap ada security camera atau hal-hal lain penunjang sistem keamanan pada perusahaan tersebut.

“Bagaimana mungkin tak ada orang yang mendengar atau melihat sesuatu yang mencurigakan? Berapa lama mereka ditemukan?” Tanya Jonghyun tanpa menatap dari layar besar.

“Gedung baru terletak sedikit terpencil dari gedung lain. menurut laporandisini, berdasarkan suhu tubuh para korban, kemungkinan besar sekitar 3 jam setelah penembakan terjadi” jawab Jaehyun

“The Killer was prepared, semua tersusun dengan rapih, dari letak para korban masih berada di meja kerjanya sedikit menandakan bahwa Emosi pembunuh pun ikut bermain. Bukan begitu Mr Lee?” Minhee mengalihkan pandangannya menatap Jongsuk.

Jongsuk belum bergeming menatap satu persatu foto yang terpampang di layar besar ” Analisa mu tepat Minhee ya, Cukup sulit untuk melakukan pembunuhan seperti ini di tempat kerja. Kalian lihat posisi para korban? Berada di mejanya, Ceo tidak berada diruangan, berada tepat tak jauh dari sekertarisnya menandakan bahwa pembunuh ini adalah orang biasa yang mungkin saja dikenal oleh para korban.”Jelas Jongsuk seraya memainkan bolpoin ditanganya.

“Sakit Jiwa, Marah akan ketidakadilan yang ia rasakan bisa memicu siapapun untuk melakukan perbuatan keji seperti ini.” Ujar Sung Joon diikuti oleh Anggukan Minhee dan Agent lainnya.

“Salah satu Karyawan mereka belum di temukan, bernama Philips Owen – Warga keturunan Amerika Korea, baru dua bulan bekerja diperusahaan itu.” tambah Cheonsa menekan tombol pada remote, menampilkan wajah Philips Owen pada layar besar.

“Seperti yang dipaparkan oleh Jongsuk tadi, apa ada karyawan yang tidak bahagia? Atau mungkin ada pertengkaran yang terjadi didalam perusahaan?” tanya Changwook.

“tidak tahu, tapi gadis cantik berotak jenius teman kalian ini akan segera menemukannya” Senyum Cheonsa mengembang, membanggakan dirinya sendiri. seluruh team memutar kedua bola matanya meninggalkan ruang rapat begitu saja.

“Heii!!” umpat Cheonsa kesal

****

Minhee, Jongsuk, Sung Joon dan Jaehyun turun dari mobil escalade milik NTS yang menjemput mereka dari helipad terdekat, setelah 30 menit perjalanan menggunakan helicopter dari Seoul menuju busan. Sung Joon menghela nafas menatap bagian luar gedung telah ramai oleh para polisi lalulintas bertugaskan khusus untuk mengamankan bagian luar gedung, serta para wartawan yang haus akan berita, sedang melakukan laporan langsung.

“Berita ini akan menjadi headline diseluruh stasiun berita” bisik Sun Joon pada Jongsuk.

“Agent Kim? Aku Kim Sungkyu dari Kepolisian Busan. Aku sangat menghargai kalian datang dengan cepat” Minhee dan ketiga NTS Agent disambut oleh Salah satu detective kepolisian busan.

” Absolutely. Perkenalkan, Agent Bang Sung Joon, Lee Jongsuk dan AhnJaehyun, ” Ujar Minhee , ketiga agent berjabat tangan singkat dengan Sungkyu kemudian mereka berjalan beriringan memasuki gedung tempat kerjadian perkara.

“Setelah mendengar pembantaian ini, hampir sebagian penduduk kota memilih untuk tetap berada dirumah dengan alasan sakit.” Jelas Sungkyu tak menghentikan langkahnya.

“Sangat manusiawi, jika aku mereka aku pun akan melakukan hal yang sama.” Timpal Jongsuk.

” Media sangat gila begitu mendengar berita ini, kalian harus membantu menangkan mereka dan para warga.” Ujar Sungkyu.

“Tentu saja, setelah kami mendapatkan kesimpulan.” Ujar Minhee masuk terlebih dahulu kedalam gedung bersama dengan Sungkyu diikuti yang lain.

Minhee, Sung Joon, Jongsuk dan Jaehyun sudah berada didalam ruangan tempat pembantaian berlangsung. Mereka berpencar untuk mendapatan informasi lebih, Sung Joon bersama Jaehyun memeriksa ruangan CEO sedangkan Minhee dan Jongsuk berada tempat para pegawai.

“ada kabar mengenai Pegawai yang masih belum ditemukan?” tanya Minhee

“Ia adalah salah satu programmer baru di kantor ini, bukan warga korea dan Visa bekerja sedang dalam proses perpanjangan. Kami juga belum menemukan kepastian. Menurut tetangga disekitar tempat tinggalnya mengatakan bahwa melihat mobil Philips berada di pelataran parkir rumahnya” Jelas Sungkyu.

“Ini adalah Korban pertama yang kami temukan – Nathan Lee.” Jelas Polisi patroli bernama Jackson Hwang, sedari tadi menjaga keadaan didalam gedung bersama beberapa polisi lainnya.

“Dari posisi tubuh tergambarkan bahwa dia adalah salah satu yang terakhir dibunuh, mencoba melarikan diri,hampir mencapai pintu keluar dengan kata lain dia adalah orangterakhir datang atau mungkin datang terlambat dari waktu jam masuk yang ditentukan oleh perusahaan.” jelas Jongsuk. Jackson Hwang menganggukan kepalanya setuju dengan analisa Jongsuk, ia menuntun Jongsuk pada Korban kedua dan ketiga bernama Shim Younghee dan Park Jihyun.

“Younghee berusaha untuk kabur namun Jihyun tidak.” Gumam Jongsuk menatap percikan darah pada Karpet sebagai alas diseluruh ruangan.

“Bagaimana anda bisa tahu?” Jackson mengerutkan dahinya, penasaran timbul didalam benaknya bagaimana mungkin hanya melihat darah bisa diketahui kondisi korban saat pembantaian terjadi.

“Setengah bagian tubuh Jihyun berada dibawah mejanya, berarti ia mencoba untuk bersembunyi namun pembunuh tersebut menemukannya. Kau bisa lihat patern yang terdapat di karpet ini, darah akan mengalir dan meresap pada tempat yang tak terhalang, jadi besar kemungkinan badan dan kaki korban mengarah pada bawah meja kerjanya. ” Jelas Minhee.

“Jadi 6 orang ditikam hingga mati, ia mungkin kehabisan peluru dalam senjatanya, menghitung jumlah korban tembak. Aku berasumsi ia menggunakan 2 hangun, dan menikam sisanya setelah ia kehabisan peluru tersebut.” Jongsuk berjalan tak jauh dari tempat Minhee berdiri saat ini, memperhatikan bercak darah disudut lainnya.

“2 handgun? Apa mungkin pembunuhnya dua orang?” tanya Jackson. Minhee mengalihkan pandangannya menatap Jackson ” Bisa jadi, namun aku melihat kesamaan pada jejak kaki yang ditinggalkan oleh pembunuh tersebut, jejak kaki satu dengan yang lainnya berukuran sama , dan melihat kekejian ini akan sangat sulit untuk pergi tanpa meninggalkan jejak.”

“Dengan kata lain, pembunuhnya adalah satu orang.” Ujar Jongsuk menebak maksud perkataan Minhee

“kita runtut dari awal, Jika pembunuhnya satu orang, ia menghabiskan seluruh pelurunya untuk melenyapkan nyawa seluruh korban dan tak mempunyai persediaan lain sehingga ia harus menggunakan pisaunya, dengan kata lain ini bukan pembunuhan yang direncanakan.” Minhee terdiam menatap patern dari sepatu dilantai karpet tersebut,

“Kecuali jika ia mempunyai satu atau dua target, dan korban lainnya merupakan saksi sehingga mau tak mau harus dilenyapkan.” Jongsuk dan Minhee saling bertatapan, menyeringai karena berhasil menarik satu kesimpulan.

****

“Semua ini adalah kontrak kerja yang dimiliki oleh Inerlock dengan beberapa perusahaan dan pegawai lainnya.” Ujar Sung Joon membolak balikkan kertas yang berceceran dilantai.

“What the Unsub Looking For?”Jaehyun menghentikan mengira-ngira apa yang dicari oleh pembunuh tersebut, tidak ada hal aneh ditemukan di dalam lemari besi dihadapannya saat ini.

“bisa jadi, ia mencari sesuatu untuk menutupi kejahatannya?”Sung Joon membanting kesal dokumen-dokumen dihadapanya.

” Come on Hyung. Everythings digital these days, though. The hard copy’s just a backup. ” ujar Jaehyun pindah menuju nakas berada disudut ruangan.

“Bisa jadi, ia mencari suatu catatan tua atau sesuatu yang tidak ada dalam data computer.”

“Hah?! Hyung Check this out” Jaehyun mendesah, setelah menemukan sesuatu dalam kotak kayu berkuruan tidak terlalu besar, ia membawa kotak tersebut pada meja kerja CEO, Sung Joon melangkahkan kakinya mendekati Jaehyun.

“Jadi, CEO kita Xiu Baekmin merasa cukup khawatir dengan keselamatannya” Ujar Jaehyun merujuk pada Hangun serta amunisi cadangan temuannya.

“Dan saat kejadian tersebut berlangsung, ia tak punya waktu untuk kembali kedalam ruangan dan mengambil senjata miliknya” Sung Joon mengacak-ngacak rambut Jaehyun, bangga atas temuan yang berhasil ditemukan oleh Magnae 3rd team tersebut.

“Hyung!!! Kau membuat ketampanan ku berkurang.”keluh Jaehyun merapihkan rambutnya kembali dengan cepat.

“Wait a minute..” Sung Joon melangkahkan mendekati salah satu dinding kantor CEO tersebut, menunjuk kearah figura, dan kembali menatap Jaehyun.” Mungkin ini adalah satu alasan kenapa ia bisa mempunyai Handgun.”

“Ia adalah seorang perwira atau lebih tepatnya Mantan Perwira angkatan Darat” ujar Jaehyun membaca figura yang ditunjuk oleh Sung Joon, berupa piagam penghargaan khusus untuk perwira terbaik.

****

Seseorang bernama Adrian Lee menghubungi kediaman ayah dan ibunya menggunakan telepone yang terdapat di kendaraan miliknya.

“Hallo”

“Ayah ini aku”

“Adrian, Aku dan Ibu baru saja membicarakan tentang mu, kapan kau akan kemari? Kami sangat merindukan mu.” Sang ayah tersenyum menatap wajah sang isteri, terlihat raut wajah bahagia keduanya mengingat sudah lama mereka tidak berkumpul bersama

“Sayang, ajak Isteri dan anak mu untuk mampir kemari, ibu merindukan mereka.” Terdengar suara Ibu dari Adrian mengambil alih telepone dari suami.

“Oke mom, aku akan menghubungi isteri ku. Bisa tolong kembalikan telepone nya ke ayah? Aku masih ingin berbicara dengannya.” Sang Ibu pun mengembalikan telepone rumah Wireles kembali kepada suaminya.

“Adrian, its me.”

“Dadd Listen to me, Apakah ada yang menghubungi mu dan bertanya tentang aku?”

“Tentang apa Adrian?” Sang Ayah pun berjalan menjauh dari sang Isteri, mengerutkan dahinya heran tentang pertanyaan serta suara Adrian berbeda dari biasanya

“Tentang aku.”

“Tidak ada, apa yang terjadi nak?” Sang Ayah mulai khawatir tentang kondisi anaknya.

“There is a situation, Important Mission.”

“Misi apa, Adrian jangan membuat aku khawatir”

“Kau tenang saja ayah, aku akan mengatakan semuanya ketika aku bertemu dengan mu. 30 menit lagi aku tiba dirumah.” Adrian mengakhiri percakapan dengan ayahnya begitu saja.

****

Authopsy Room

Busan Police Departement Office

“This woman name Shim Younghee” Jelas Petugas Authopsy kepolisian Busan bernama Lee Donghae. “Clean and fast, hanya itu yang bisa aku sampaikan. Dia diiris melalui karotic kiri dan abdominal aorta, arteri utama membuat wanita ini kehilangan darahnya dengan sangat cepat”

“Ditikam dengan medium movement?” tanya Changwook

“Yup, semua korban ditikam menggunakan pisau yang sama dan mengalami luka serupa.” Jelas Donghae.

“Bagaimana dengan korban penembakan?” Hong Jonghyun pun mengajukan pertanyaan.

“Mereka semua ditembak dibagian dada, kecuali CEO kita – Xiu Baekmin” Donghae berjalan menuju lemari penyimpanan jenasah, membuka lemari tersebut , menarik salah satu laci penyimpanan, serta membuka kain yang menutup seluruh tubuh Xiu Baekmin. ” 4 peluru bersarang di dadanya dan 1 peluru tepat di kepalanya.”

“Execution Style”gumam Jonghyun tanpa mengalihkan pandangannya dari jenasah Baekmin, ia merasa mengenali pola membunuh seperti ini .

” Berlebihan dibanding dengan yang lain. Somebody was angry with the boss.” Ujar Changwook.

“Atau mungkin seseorang sedang melatih keterampilannya lagi.”

“Apa maksud mu Jonghyun ssi?” Changwook menatap Jonghyun. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari ruang authopsy. ” Aku bisa pastikan pola membunuh seperti ini biasa di lakuakan oleh Angkatan darat jika melakukan misi. Mereka akan menembak lawanya dengan pola yang sama untuk mempercepat kematian dan mencegah lawan bangkit untuk menyerang mereka kembali.”

“Mempermudah agar para perwira tak harus menyingkirkan senjata lawan.” Ujar Changwook dijawab anggukan oleh Jonghyun.

****

Adrian’s Home

“Aku Pulang, Ayah Ibu?!!” Teriak Adrian ketika baru menginjakan kakinya diruang tamu.

“Hai Son, akhirnya kau datang juga. Ibu mu ada di lantai 2 sedang menyiapkan kamar untuk mu.” Jelas sang ayah dengan ekspresi senang.

“Ayaah!!!!! Ibu!!!!!!” Sang Ayah menatap putera sematawayangnya dengan dahi berkerut, mendengar Adrian meneriakan nama kedua orang tuanya lagi

“Adrian?”

“Apa yang kau lakukan pada Ayah dan Ibu ku?” Rahang Adrian mengeras, tatapan nya berubah menjadi awas dan penuh dengan kemarahan menatap sang Ayah.

“Adrian, Aku ini ayah mu, kenapa kau berteriak seperti itu?”

Adrian mengeluarkan senjata semi automatik mengarahkannnya pada Sang Ayah. ” Adrian apa yang kau lakukan dengan senjata itu? Nak. Aku ini ayahmu!” Sang ayah benar-benar ketakutan melihat senjata mengarah padanya.

****

Back To Inerlock Office

“Blood Splatter overlay patterns, menunjukkan bahwa korban pertama berada di meja ini, lalu korban kedua berada di meja dibelakangnya dan Korban pertama berada di sini.” Jongsuk berjalan dari satu meja ke meja lainnya memperhatikan pola darah kemudian berhenti pada ceceran darah yang berada tak jauh dari meja.

“Baekmin adalah korban pertama?” Tanya Sung Joon keluar dari ruang kerja CEO diikuti Jaehyun.

“Sepertinya begitu, karena pola darah ini lebih kecil dibanding dengan lainnya” Jelas Lee Jongsuk Mahasiswa yang berhasil lulus dengan nilai sempurna dari Kedokteran Forensik Korea Selatan.

“Means, Pembunuh melakukan penembakan tanpa merasa perlu khawatir dengan para korban lain atau mungkin tanpa memberikan peringatan kepada semua orang yang ada disini.” Minhee mengdarkan pandangannya pada seluruh bercak darah didalam ruangan.

“Tidak mengancam , itu kenapa Baekmin tidak berusaha meraih Handgun miliknya didalam ruangan. Apa mungkin salah satu karyawan yang melakukannya? Karyawan yang dinyatakan hilang?” Jaehyun menatap Sung Joon dan para Agent pergantian.

“Kenapa karyawan? Tertarik dengan kontrak milik inerlock, tidak masuk diakal, Apa mungkin, ia tertarik dengan salah satu informasi perusahaan ?” Tanya Sung Joon lagi.

“I dont Think so, Aku rasa ia mempunyai tujuan lain selain membunuh.” Jongsuk mengelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Sung Joon.

****

Changwook dan Jonghyun berada didalam kendaraan menuju tempat kejadian perkara menyusul para Agent setelah mendapatkan informasi mengenai hasil autopsy pada para korban pembantaian. Telepone milik Changwook berbunyi, tanpa melihat caller id Changwook pun sudah mengetahui siapa yang menghubunginya.

“Hello Baby Girl”

“Yak!! Oppa, Kau ini tidak pernah konsisten. Beberapa hari yang lalu kau memanggil Minhee Eooni dengan panggilan seperti itu, kali ini kau menggunakannya unttukku. Sebenarnya siapa baby girl mu?” Cheonsa mendengus kesal. Jonghyun mengerutkan dahinya menatap Changwook dengan wajah penuh pertanyaan. Changwook menjawab dengan gerakan bibis tanpa mengeluarkan suara. “Team kami selalu menempatkan anggota wanita sebagai ratu, dan inilah akibatnya – cemburu tanpa alasan.” Jonghyun menahan tawanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia mengerti, walaupun sebenarnya ia sendiri tidak mengerti.

“Aku memeriksa seluruh daftar nama klien dimiliki oleh Inerlock,Salah satu badan intelegent korea adalah satu dari sekian banyak Klienmereka. Sebenarnya tak ada yang perlu di laporkan,mengingat semua sempurna, tidak ada complain, semua senang dengan pelayanan mereka.” Jelas Cheonsa.

“Tak ada cacat sama sekali?” Tanya Jonghyun.

“Tidak ada.”

“Bagaimana dengan online, apa ada keluhan?” Tanya Changwook

“Clean, aku sudah memeriksa semuanya, Blog,website bahkan Forum. Mereka benar-benar bekerja dengan baik.” Jelas Cheonsa lagi.

“Thankyou darl.” Changwook mengakhiri pembicaraanya dengan Cheonsa

****

Minhee berjalan keluar gedung Tempat kejadian perkara diikuti oleh para Agent dan dua orang police Officer serya memikirkan semua analisa yang diungkapkan oleh rekan-rekannya. ” Dengan pembunuhan yang menurutku berlebihan telah dilakukan pada Baekmin, aku dapat menarik satu garis, jika semua ini dilandaskan dengan sesuatu yang bersifat pribadi.”Minhee menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya menghadap kedua rekannya dan police Officer. Jongsuk berdiri bersebelahan dengan Minhee bersiap mengutarakan kesimpulan miliknya.

” Pegawai yang hilang telah ditemukan, ia memang sudah mengambil Cuti untuk beberapa hari, melakukan pemeriksaan rutin terhadap dirinya pasca kecelakaan motor beberapa bulan lalu menyebabkan kaki sebelah kirinya patah. Dan itu sudah di confirmasi oleh pihak rumah sakit, bahkan Philip Owen masih berada disana.” Jelas Detective Choi Minho.

” So It wasnt Someone connected to the workplace, Who is it?” tanya Sung Joon.

“Kau tahu, mengingat posisi dan pattern darah didalam sana, bisa jadi seseorang dengan latar belakang militer seperti sang CEO” ujar Jongsuk

” atau professional killerdisewa oleh pesaing bisnisnya. ” Jackson Hwang berusaha mengutarakan pendapatnya.

“Pembunuh bayaran hanya akan membunuh Baekmin, namun membunuh seluruh pegawai aku rasa itu bukan ciri khas pembunuh bayaran, terlihat tidak profesional.” Jelas Jaehyun.

“Baekmin mantan anggota militer dan mempunyai hubungan dekat dengan anggota militer lainnya, bukan hanya angkatan darat, tapi angkatan laut ataupun udara.” Sung Joon kembali angkat bicara.

“bisa jadi seseorang dari masa lalu menaruh dendam padanya. Tidak mengancam dan membaur dengan mudah dengan para pegawai, dia bersenjata dan sangat berbahaya. He most likely will kill again, either himself or other Very Soon” Ujar Minhee menatap khawatir kearah rekan-rekannya.

****

Adrian’s Parents House

Seoul

Alunan Musik Heavy Metal terdengar diseluruh penjuru rumah dari sebuah Boombox Tape terdapat dikamar orang tua Adrian. Terlihat Adrian sedang memeriksa seluruh isi tas dari basement rumah, ia menggeram kesal karena tak menemukan apa yang ia cari. Adrian pun mengecilkan volume Boombox tape tersebut, berjalan mendekati sebuah lemari besar. Ia menyeringai menatap tajam melihat isi lemari tersebut, ia mengikat kedua tangan dan kaki orang tuanya dengan tali tambang, mulut mereka ditutup oleh lakban hitam, ekspresi ketakutan terpancar dari kedua orang tua berumur sekitar 67 tahunan itu.

“Apa yang kau ketahui tentang Nort Niagra?!” teriak Adrian, menarik kasar lakban hitam yang membungkam mulut sang ayah.

“agh, North Niagra? Apa Maksudmu?” Sang ayah mengelengkan kepala cepat, menatap takut kearah Adrian, sang Ibu bahkan menangis ketakutan melihat tingkah anak tunggal yang sama sekali berbeda, seperti kerasukan setan. Adrian mengarahkan Senjata Semi Automatic kearah ayah dan ibunya, senjata yang sekali tembak dapat mengeluarkan 4 hingga 10 peluru sekaligus.

“Adrian, Nak. Aku mohon hentikan. Ibu mu mempunyai penyakit jantung. Aku mohon berhenti bermain-main nak.” Ujar Sang Ayah dengan suara bergetar ketakutan menatap luke dan sang isteri bergantian.

“Jika kau membutuhkan bantuan ku untuk semua masalah mu, kami dengan senang hati akan membantu mu. Aku mohon hentikan nak.”

” Ini adalah kesempatan terakhir anda, Apa yang anda lakukan pada Jenifer Lee dan Anthony Lee segera beri tahu aku mengenai Nort Niagra.” Adrian menatap tajam kearah sang Ayah.

“Demi Tuhan, Aku adalah Anthony Lee, Aku adalah Ayahmu nak.” Isak sang Ayah.

Adrian menutup kembali pintu lemari tersebut, berjalan menjauh mendekati Boombox tape, memutar tombol Volume tape hingga alunan musik Heavy Metal mengalun dengan sangat amat keras. Adrian kembali memutar tubuhnya menghadap lemari kayu berukuran tinggi 3 meter dan lebar 1,5 meter. Ia mengarahkan senjata semi automatic kearah lemari tersebut dan menembakkan isi senjata tersebut bekali-kali.

TTTRRRTTTT…TTTRRRTTTT…TTTRRRTTTT..TTTRRRTTTT..TTTRRRTTTT!!!!!!!!

Adrian tersenyum puas menatap Pintu Lemari yang berlubang akibat peluru-peluru dari senapannya. Tanpa rasa bersalah ia meninggalkan kediaman kedua orang tuanya begitu saja, tak sadar siapa yang ia telah hilangkan nyawanya.

****

Telepone gengam Sung Joon berbunyi ditengah-tengah percakapan antara dirinya dengan beberapa petugas kepolisian. ” Speak Cheonsa”

“Sung Joon Ah, Pembantaian terjadi di kota Seoul? Korban kali ini adalah seorang suami dan ister” ucap Cheonsa. Sung Joon menatap Minhee dan Jaehyun sedang berbincang bersama Minho tak jauh dari dirinya saat ini.

“What? When?!”

“1 jam yang lalu, Polisi sudah berada disana, Korban sudah di evakuasi dan menurut MAX, peluru nya cocok dengan dibusan.” Jelas Cheonsa berada di Operation room Khusus 3rd team Gedung pusat NTS bersama Myungsoo. Max adalah salah satu ahli forensik kepercayaan 3rd team untuk membantu mereka.

“Kami akan segera kesana, siapkan Hellicopter dan Hellipad gedung Pusat.” Perintah Sung Joon mengakhiri pembicaraanya dengan Cheonsa.

“Pembunuhan dengan MO yang sama terjadi di seoul.” Ucap Sung Joon terburu-buru. Para Agent pun bergegas menuju Escalade mereka.

“Hubungi Jonghyun dan Changwook, Kita bertemu di Hellipad.” Perintah Minhee dijawab anggukan oleh Jaehyun.

****

Andrian’s Parents House

Seoul

“Are We sure The Killer is their son?” Jonghyun berjalan tepat dibelakang Jongsuk. “Menurut data yang diberikan Cheonsa, Adrian Lee menghubungi Inerlock pagi ini.” Jawab Jongsuk tanpa menghentikan langkahnya masuk kamar utama keluarga Lee.

Petugas Kepolisan Kota Seoul sudah berada didalam untuk melakukan olah TKP, dengan menggunakan peralatan lengkap, Minhee , Sung Joon, Changwook dan Jaehyun pun melakukan pemeriksaan Ulang mencari sesuatu yang menarik, mereka mencari sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari para petugas Olah TKP. Para Agent 3rd team mencari Pattern untuk mendukung dugaan mereka terhadap gangguan Psikologis Adrian Lee.

“Boombox? Wow? Sangat tidak bisa.” Ujar Jonghyun menemukan sebuah Boombox terdapat didalam kamar utama, ia mengeluarkan sarung tangan karet berwarna biru dan menekan tombol play, membuat alunan kencang Musik Heavy Metal terdengar bukan hanya diseluruh penjuru ruangan melainkan seluruh rumah.

“Heii!!!” Teriak Minhee kesal, karena terkejut. Ia membulatkan matanya kesal menatap Jonghyun seakan memintanya untuk segera mematikan tape tersebut.

“Smart!” Minhee mengusap kedua kupingnya cepat, alunan musik tersebut berhasil membuat kedua telinganya berdengung. ” Ia mencoba menutupi suara tembakan menggunakan musik ini.” Minhee meninggalkan Jonghyun dan Jongsuk begitu saja keluar dari kamar utama.

“Mungkin saja, atau ia menggunakan musik ini untuk menyiksa kedua orang tuanya, bisa kau bayangkan bagaimana mungkin 67 tahun suka dengan alunan Heavy metal seperti itu.” ujar Jongsuk seraya menunjuk Minhee melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama, seperti memberitahu, anak muda seperti Minhee saja tidak suka bagaimana dengan orang tua berumur.

Jonghyun menganggukan kepalanya mengerti maksud Jongsuk dengan kata Meyiksa. “Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa mereka diikat dan disimpan didalam lemari? Kenapa mereka tidak membunuhnya saja? Lebih mudah bukan?” Jonghyun mendekati lemari, berjongkok memusatkan tatapannya pada Jenasah kedua orang tua Adrian yang masih dalam keadaan terikat.

“Maybe he was Trying to get information from them?” jawab Jongsuk, membuat Jonghyun bangkit dari posisinya “About what?” Jongsuk mengelengkan kepalanya tidak bisa menjawab pertannyaan Jonghyun, bertepatan dengan suara telepone gengam Jongsuk berbunyi.

“Silahkan Cheonsa, You On Speaker.” Jongsuk melangkahkan kakinya menuju lantai satu diikuti oleh Jonghyun tempat dimana sisa Agent berada.

“Ok, Adrian Lee berasal dari unit yang sama dengan CEO Baekmin di Angkatan Darat Korea. Mereka berdua sempat dikirim ke pakistan dan Iraq , dan berkomunikasi untuk suatu misi. Aku mengirimkan email pada kalian semua.” Jelas Cheonsa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang terdapat di Operation Room 3rd team di Gedung Pusat NTS.

“Apa dia punya keluarga?” Tanya Jonghyun

“Dia mempunyai Isteri dan anak. Mereka telah terpisah selama bertahun-tahun. Isteri bernama Yuri Choi dan anaknya bernama Andrea Lee berumur 8 tahun tinggal di Incheon.” Jawab Cheonsa tanpa menghentikan kegiatan jarinya pada keyboard komputer.

We Need to bring her in protective custody, perintahkan polisi sekitar untuk membawanya menemui Unit NTS terdekat untuk mereka berdua ke Gedung pusat NTS, perintahkan Myungsoo untuk me-wawancarai keduanya” Ujar Minhee bergabung dengan Jongsuk dan Jonghyun berbicara dengan Cheonsa. Sung Joon, Changwook dan Jaehyun pun menghentikan kegiatan mereka sejenak memperhatikan percakapan antara Jongsuk dan Jonghyun serta Cheonsa.

“Done and Done” Cheonsa mengakhiri pembicaraanya dengan Jongsuk dan Agent lainnya.

“Looks like he served 15 years, mendapatkan penghargaan di tahun 2005, dan sekarang ia bekerja disebuah perusahaan Bio Technologi. Ia bahkan tak pernah menjadi karyawan Inerlock.” Papar Changwook.

“Jadi apa yang terjadi dengan orang ini?” tanya Sung Joon

“ia terpisah dari isterinya sekitar 3 tahun yang lalu, tapi itu bukan pemacu ia melakukan hal ini.” ucap Jaehyun melihat beberapa foto yang terpajang disalah satu dinding ruang keluarga , terlihat foto-fofo keluarga bersama Adrian, Yuri dan Andrea masih terpajang disana.

Well, He’s Unstablle, dia mengamuk untuk beberapa hal tertentu. Bagaimana jika sesuatu membuat mentalnya terganggu? I mean, sesuatu yang secara mental menghidupkan kembali memorinya akan Situasi pertempuran?” Sung Joon mengungkapkan pendapatnya.

“it Could be Post-Traumatic Stress” Changwook mengangkat sebuah foto Adrian menggunakan pakaian Angatan Darat lengkap dengan senjata laras panjang dari nakas yang terdapat tepat disebelah televisi.

“Semua orang bisa terlihat seperti musuh untuknya.” Ujar Minhee.

“This was a Close-knit family” Changwook meraih satu lagi bingkai foto, menunjukkannya pada para Agent. Foto saat keluarga Lee berlibur dipulau Jeju, ekspresi bahagia terpancar dari wajah seluruh keluarga ini.

” Seberapa buruk penyakit yang diderita Adrian sampai ia tega membunuh keluarga nya sendiri?” tanya Jonghyun.

“Post Traumatic Stress Disorder, jarang merubah orang biasa menjadi pembunuh. Tapi tentara dengan PTSD telah terkenal.S eperti beberapa tahun lalu terdapat Tentara yang membunuh isterinya sendiri dengan mencekik lehernya hingga kehilangan nyawanya, ketika mengalami mimpi buruk atau teringat dengan masa lampau saat masih bertugas.” Jelas Jongsuk melangkahkan kakinya meninggalkan rumah keluarga Lee diikuti oleh Agent lainnya menuju kendaraan mereka.

“Tahun 2005, seorang dokter hewan yang pernah bertugas di pakistan, menyerang dua orang saat berada di Los Angeles, ia percaya bahwa kedua orang itu adalah musuh mereka.” Tambah Jongsuk lagi

“Dengan kata lain, Adrian memiliki Flashback yang berkelanjutan?” tanya Changwook membuat para Agent menghentikan langkahnya.

Pathological disassociation adalah salah satu pertanda bahwa Adrian memiliki PTSD yang kompleks, meskipun Adrian sudah kembali tinggal di Korea selama 8 Tahun, ingatan tentang kejadian itu bisa saja terjadi, namun pasti ada sebab kenapa ingatan itu bisa muncul kembali. Jarang ada ingatan yang muncul begitu saja tanpa sebab.” Papar Jongsuk lagi. Seluruh Agent terdiam memikirkan pemaparan yang diberikan oleh Jongsuk.

“Well, Terlihat ia telah sukses mengubah hidup yang asalnya dari medan perang, hingga seperti saat ini, menjadi penduduk sipil biasa. Apa kalian punya bayangkan dari mana perubahan ini berasal?” tanya Jonghyun

“Itulah yang harus kita cari tahu.” Ujar Jongsuk disetujui oleh para Agent lainnya.

“Sir!!” Teriak salah seorang petugas kepolisian. Jongsuk serta Jaehyun mengendarai Escalade menuju Kantor Pusat NTS, sementara Minhee, Jonghyun ,Sung Joon serta Changwook tetap berada di tempat menghampiri salah satu petugas kepolisian menuju Garasi rumah keluarga Lee

“Aku menemukan ini.”

“Thankyou” ucap Jonghyun meraih sebuah buku Agenda dari petugas kepolisian. Sung Joon memeriksa isi kardus yang berada disisi Minhee tempat buku itu ditemukan. Jonghyun memperhatikan isi buku yang berada di tangan Minhee.

“Guys, aku buku ini adalah kenangan baginya, lihat ia menuliskan semuanya dalam buku ini.” ujar Jonghyun masih sibuk membaca isi dari buku agenda.

” Ia tidak datang kemari untuk membunuh, ia datang untuk mencari sesuatu, sesuatu yang berharga dari masa lalunya.” Ujar Minhee menarik kesimpulan, ia meninggalkan Jonghyun dan Sung Joon melangkahkan kakinya menuju sebuah Mobil Ford sedan berwana Biru Metalik, menghampiri Changwook.

“Dalam buku ini tertulis, ia sedang dalam misi.” Ujar Jonghyun lagi

“Mendapatkan sesuatu Oppa ku yang tampan?” Changwook menghentikan kegiatannya, tersenyum menatap Minhee yang menghampirinya.

“Apakah itu kata lain dari Senang melihat ku kembali bersama kalian?” Changwook menyipitkan kedua matanya, tersenyum menggoda kearah Minhee. Minhee pun tertawa, menganggukan kepalanya bersamaan.

“Mobil ini terihat bersih, seperti baru saja di cuci dan di vakum dibagian dalamnya.” Ujar Changwook melihat keadaan mobil tersebut dari kaca mobil bagian luar. “tak terlihat cat bekas tabrakan atau karat, dan kecelakaan yang menyebabkan bumper depan mobil ini rusak dapat aku pastikan adalah kecelakan terakhir.”

“Aku setuju, Tentara menyukai kerapihan, dan takkan membiarkan bumper ini begitu saja tanpa diperbaiki sesegera mungkin.” Ujar Minhee

” Mungkin saja dipicu oleh kondisi nya saat ini, Aku akan meminta Cheonsa untuk mencari tahu kejadian apa yang dialami oleh mobil ini.” ujar Changwook segera menghubungi Cheonsa menggunakan telepone gengamnya.

“Jadi, Adrian meninggalkan mobil nya dan tidak menggunakan mobil milik kedua orang tuanya, menghambat siapapun untuk melacak keberadaan dirinya. Sungguh tentara sekali.” Ujar Minhee, mengitari mobil milik Adrian.

“Berjalan kaki atau mencuri kendaraan orang lain menjadi pilihan untuknya. Itupun jika ia mampu berfikir secara rasional untuk menghindari siapapun yang dianggap musuh olehnya” Sung Joon bergabung dengan Minhee.

“Aku baru saja mendapat kabar dari polisi Incheon, Jika Isteri dan anak Adrian sudah berhasil diamankan, mereka dalam perjalanan menuju kantor pusat.” Ujar Siwon yang baru bergabung dengan third team.”Sorry Im late, ada sedikit urusan mendadak di Kantor polisi tadi.” Minhee dan yang lainnya mengangguk memaklumi.

” Adrian sangat tidak diduga, ia bisa saja mengamuk kapan saja dan dimana saja. Kita harus memberi tahu Press mengenai hal ini agar semua orang dapat mengantisipasi apa yang harus mereka lakukan jika bertemu atau berada satu tempat yang sama dengan Adrian.” Papar Minhee, disetujui oleh yang lain.

“Siwon kau siap? Karena ini adalah tugasmu.” Siwon tersenyum menganggukan kepalanya. Para Agent meninggalkan lokasi kecuali Changwook yang harus memberi pengarahan pada Siwon tentang Profile Adrian Lee.

Didepan rumah kediaman keluarga Lee, Siwon memberikan Presscon dihadapan hampir 10 Wartawan Televisi dengan Microphone dan Kamera on dihadapannya.

“Adrian Lee adalah Seorang mantan Tentara Angkatan Darat Korea Selatan, kami percaya jika ia menderita Post Trauma Sindrom disorder atau PTSD. Ia mungkin mengalami trauma yang memicu ingatannya kembali pada saat berada di Medan Perang, membuat kami berkesimpulan ia mengalami Pathologis Disassociation yang menyebabkan dirinya percaya jika ia berada didalam situasi pertempuran. Yang berarti siapapun untuknya adalah Musuh potensial yang harus segera dimusnahkan”

“Jangan meremehkan kemampuannya, walupun kondisi jiwanya lemah, ia memiliki keterampilan yang luar biasa dalam hal teknikal perang dan pertahanan hidup yang ekstreem. Dia dipersenjatai dan sangat berbahaya. Ia percaya ia sedang berada dalam sebuah Misi, jadi jika ia merasa terancam, ia akan membunuh jadi jangan mencoba mendekati orang ini atau melakukan sesuatu padanya” Jelas Siwon seraya mengenggam Bingkai Foto wajah Adrian Lee.

****

NTS headquarters

The Third Team Base

12 th Floor

“Satu hal yang menganggu ku saat ini adalah Korban pertama, CEO Inerlock- Baekmin. Diberikan penghargaan atas perang yang sudah dilakukan pada Tahun 2002 oleh Angkatan Darat Korea selatan.” Jonghyun berjalan keluar dari ruang rapat dengan Minhee. Perkataan Jonghyun merujuk pada Piagam penghargaan yang ditemukan oleh Sung Joon bersama Jaehyun saat memeriksa ruang Kerja CEO Inerlock

“We weren’t at war, that time” Minhee menghentikan langkahnya.

“Exactly, Kau harus melakukan suatu pengorbanan ekstreem seperti kehilangan keluarga atau anggota tubuh demi Korea Selatan untuk mendapatkan Second-higest medal of Valor” jelas Jonghyun lagi.

“Bahkan Woobin belum tentu akan mendapatkan piagam tersebut jika ia sadar nanti.” Gumam Minhee terdengar oleh Jonghyun. Ia menghela nafasnya, mengerti bagaimana perasaan Minhee saat ini, namun ia berusaha membuat Minhee kembali fokus pada Case yang mereka tangani.

“Jadi apa yang ia lakukan sampai ia layak untuk mendapat mendali tersebut?” Tanya Jonghyun.

“Guys, Cheonsa menemukan sesuatu tentang Adrian Lee, ada beberapa data yang terkunci dan hanya bisa dibuka oleh Angkatan darat. Aku harus pergi ke departement pertahanan untuk mendapatkan berkas lengkap mengenainya.” Changwook membuka berkas berisi informasi yang diberikan oleh Cheonsa, menginterupsi percakapan Minhee dan Jonghyun ” ia bukan hanya tentara biasa, melainkan tentara dengan kualitas terbaik dan berada di garis utama.”

” let me gues, Baekmin Too..”

“Kau benar Jonghyun ssi, Baekmin adalah leader team satu, sedangkan Adrian adalah wakil Team lead. Unit mereka adalah ADGU, mereka terlibat lebih dari 23 misi rahasia negara” JelasChangwook membaca berkas ditangganya.

“Apakah ada Misi ditahun 2002?” Tanya Minhee

“Only One, Operation Nort Niagra” Jawab Changwook.

“Tolong cari Tahu mengenai Nort Niagra”Pinta Jonghyun

“Got it!” Jawab Changwook yang masih belum beranjak dari tempatnya

“That means, Changes the Profile?” ucap Minhee

“Definetly.” Jonghyun menghela nafasnya.

“Bagaimana bisa, apa ini berpengaruh?” Changwook penasaran

“Tentara Garis utama atau garis depan disaring dengan hati-hati untuk kemungkinan besar setiap anggotanya akan menderita PTSD dikemudian hari.” Jelas Minhee

“Lalu kenapa, pasukan terlatih bisa membunuh komandan dan kedua orang tuanya sendiri?” Tanya Changwook masih tidak menemukan jawabani.

“Aku tidak tahu, yang pasti dengan fakta ini kita akan semakin sulit untuk menemukannya.” Jawab Jonghyun.

“Dan sangat sedikit orang yang bisa menghentikannya.” Minhee menghela nafasnya dengan kasar.

“Teams, Adrian Lee, Just evaded a roadblock near his Wife’s House” Ujar Cheonsa terdengar panik, berusaha menormalkan nafas sebelum melanjutkan perkataanya ” Polisi kembali menyusuri daerah tersebut namun tak menemukan tanda-tanda kehadiranya” Mendengar hal itu Jonghyun dan Changwook serta Minhee bergerak untuk kembali melakukan tugasnya masing-masing.

****

Sung Joon menemani Isteri dan anak dari Adrian Lee yang berhasil mereka Evakuasi sebelum kedatangan Adrian,dengan perlahan ia masuk kedalam ruangan istirahat para Agent, menutup Gorden kayu menggunakan remote control, berjalan menghampiri Yuri Choi yang terlihat gelisah menanti kabar mengenai suaminya .

“Mam, apakah anda melihat adanya perubahan sifat atau perilaku Adrian selama beberapa bulan terakhir?” Sung Joon mengambil tempat bersebelahan dengan Yuri.

“Aku terakhir bertemu dengannya saat ia mengantar Andrea kesekolah , dan ia terlihat baik-baik saja.”

“Apa ia pernah menyebut atau memberitahumu tenang Nort Niagra?” tany Sung Joon dengan nada lembut. Sung Joon memang ahli dalam hal ini, ia lebih sabar dan sifat penyayangnya muncul jika harus menginterogasi apapun mengenai keluarga. Lain hal nya dengan Minhee yang lebih ahli menggunakan senapan senjata tajam atau apapun yang berhubungan dengan Tactical Operation. Para Agent pun tak jarang menyalahkan Minhee karena Bergaul dengan Woobin setelah mengetahui bagaimana berandalnya Woobin saat sekolah dulu.

“Seingatku tidak pernah, apa itu?”

“Misi yang pernah ia lakukan saat masih aktif menjadi tentara.” Jelas Sung Joon

“Adrian tidak pernah membagi kehidupan militernya dengan saya, Adrian selalu tahu bagaimana memisahkan antara kehidupannya sebagai tentara dan Ayah dari Andrea.”

“Apa karena hal itu anda berpisah?”

Pertanyaan Sung Joon mengundang perhatian Andrea yang sedari tadi sibuk dengan games favouritenya, ia menghentikan permainannya mendengarkan dengan seksama jawaban dari Sang Ibu.

“Dia adalah laki-laki yang baik, dia juga ayah yang baik untuk Andrea. Tapi aku lebih merasa ia menikah dengan kehidupan militernya dibandingkan dengan Ku.”

“Anda bukan prioritas utama baginya?” tanya Sung Joon lagi

“Seseorang pernah mengatakan jika menikah dengan tentara adalah hal yang cukup sulit, karena mereka mempunyai dunianya sendiri yang tak tersentuh oleh siapapun. Dan itu memang benar adanya.” Yuri menghela nafasnya, suaranya bergetar berusaha menahan isakan.

” Mom, is daddy gonna be oke?” Andrea menghampiri Yuri, Yuri mengalihkan pandangannya menatap anak perempuan satu-satunya, tak bisa memberikan jawaban dengan cepat membuat Andrea menangis karena khawatir dengan keadaan ayah yang sangat ia sayangi.

“kemari sayang ku.. trust me, he’s gonna be fine.”

To be Continued

Third Team Series Muncul lagi, hehehhe

ini Mungkin berbeda dari cerita sebelumnya, Cerita ini lebih analisis kasus.

penulisnya ngga semangat soalnya Woobinnya lagi libur dulu dari tugas negara.

Semoga tidak bosan kawan-kawan.. ^^

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: