Mirror

14838

Special Movie

“Mirror”

Cast : Kim Minhee and Kim Woobin

Created By : Alicia kim

Edited By : Ririn Setyo

Seguk International School

Mata sipit Woobin memicing tajam, dari atas bangku kelas yang di dudukinya ia menatap tak suka ke arah Minhee, duduk di bangku kelas di depan sana, tertawa bersama teman-teman sekelas mereka.   “Cih dasar muka palsu.” umpat Woobin kesal tanpa mengalihkan pandangan dari Minhee yang kini tengah menyisir rambut panjang hazelnutnya dengan jari-jari yang di hiasi nail art motif bunga sakura.

Woobin memang tidak mengenal Minhee dengan baik, ia hanya tahu jika gadis itu sering kali pulang terlambat dan duduk menyendiri di taman sekolah jika pelajaran sekolah telah usai. Terhitung selama mereka berada di kelas yang sama sejak 1 tahun yang lalu, mereka hanya beberapa kali terlibat dalam obrolan singkat yang tidak penting, karena Woobin bukanlah tipical orang yang peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Namun semuanya berubah ketika Woobin sering mendapati Minhee menangis sendirian di taman sekolah, pasca kedua orang tua gadis itu meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Gadis itu terlihat sangat rapuh dan menyedihkan, berbanding terbalik dengan apa yang sering gadis itu perlihatkan di depan teman-temannya.   Woobin memilih merebahkan kepala di atas meja, menghadap tembok, mencoba untuk tidur. Woobin adalah pria pemalas yang hobi sekali tidur di setiap ada kesempatan. Saat jam kosong, jam istirahat, bahkan di saat jam belajar sekalipun, Woobin kerap kali kedapatan tidur lelap tanpa memusingkan hukuman dari gurunya setelah itu.

“Sial.. kenapa aku terus memikirkan gadis itu?” Woobin mengumpat, suara Minhee yang tertawa hambar berhasil menganggu pikirannya.  Woobin bangkit dari kursinya ketika melihat Minhee melangkah keluar menuju ruang ganti wanita, mata pelajaran olahraga sudah tiba bersamaan dengan Bell tanda jam istirahat telah usai. Woobin berdiri acuh tak jauh dari pintu ruang ganti, menunggu Minhee yang sudah ia perkirakan akan keluar paling akhir dari teman-temannya yang lain seperti 2 minggu sebelumnya.

Woobin menyeringai saat Minhee keluar dari balik pintu ruang ganti dan melewatinya begitu saja tanpa sapaan, gadis itu hanya terlihat menatapnya sekilas sebelum melangkah dengan kepala yang tertunduk. Wajah gadis itu datar, pandangan matanya kosong, langkahnya tertatih. Woobin seperti melihat mayat hidup.   “Minhee ssi.” Minhee menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya, tersenyum menatap Woobin yang berjalan ke arahnya.   “Woobin ssi, ada apa?”   Minhee tersenyum lembut namun sayangnya senyum itu terlihat palsu di mata Woobin.

Tanpa di duga Woobin menarik Minhee kembali masuk ke dalam ruang ganti, tak merasa peduli saat Minhee berteriak, meronta ketakutan ketika Woobin mengunci pintu dari dalam. “Apa yang kau lakukan?”   Minhee terkejut saat Woobin meraih lengannya kasar, menyeretnya hingga berdiri di depan sebuah cermin besar yang terdapat di sudut ruang ganti.

Minhee berusaha meronta, ia ingin membalikan tubuhnya dan melepaskan cengkraman Woobin pada kedua lengannya, namun tenaga Woobin lebih besar hingga Minhee mau tak mau tetap pada posisinya, menatap Woobin dari balik kaca besar di depannya.

“Kau lihat siapa yang ada di kaca itu?” Minhee menatap pantulan wajah Woobin dan dirinya, ia terlihat binggung dan takut dalam waktu yang bersamaan. Terkurung bersama seorang siswa laki-laki yang tidak begitu di kenalnya tentu bukanlah sesuatu hal yang patut disyukuri.

“Siapa yang kau lihat disana Kim Minhee!” tanya Woobin lagi saat Minhee tak juga memberikan jawabannya.

“Kau dan… aku” jawab Minhee, pelan nyaris seperti dengungan.

“Anggap aku tidak ada, jadi siapa yang kau lihat?” Minhee semakin binggung, sesekali ia terlihat masih saja mencari celah untuk lepas dari cengkaram Woobin, namun Minhee pada akhirnya menyerah saat Woobin mengucapkan ancamannya.

“Jangan mencoba untuk melawanku atau aku akan menciummu.” gertak laki-laki dengam tinggi 188 centimeter itu, wajahnya yang kaku nyaris menyeramkan itu terlihat menyeringai sadis selayak seorang pembunuh berdarah dingin. Minhee mengangguk pasrah, ia memilih untuk mengikuti apa yang Woobin inginkan.

“Jadi apa yang kau lihat di cermin itu?”

“Aku.”

“Bukan, tapi kepalsuan!” Minhee mengeryit, ia tidak mengerti apa yang tersurat dari perkataan Woobin saat ini.   “Apa maksudmu?”

“Kau tentu tahu apa maksudku Minhee, apa kau tidak lelah menggunakan topengmu itu? Mungkin kau bisa menipu semua orang dengan topeng bahagiamu itu, tapi kau tidak bisa membohongi hatimu dan aku.”   Minhee terpaku, merasa wajahnya memanas seperti di lembari bola basket. Ia kesal, merasa jika Woobin terlalu mencampuri dunianya. Mata coklat Minhee menajam, ia mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Menatap Woobin dengan nafas yang perlahan memburu, menahan luapan rasa yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

“Menangislah jika kau ingin menangis tidak perlu malu untuk menunjukkan rasa sedihmu atau kelemahanmu didepan orang lain. Apa yang kau takutkan? Apa yang kau hindari? Dan sampai kapan kau akan melakukannya?”

“Berhenti mencampuri yang bukan urusanmu, Kim Woobin. Memangnya siapa kau?”

“Aku memang bukan siapa-siapa, aku hanya ingin kau menyadari siapa kau yang sebenarnya. Perhatikan baik-baik dirimu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kau marah dengan siapa Minhee ya?” Minhee mengerjab, ia terlihat sedikit menyerah untuk bersikukuh menyembunyikan semuanya pada Woobin.

“Tentu saja aku Kim Woobin, memang siapa lagi?” jawab Minhee pelan, ia mulai terlihat putus asa.   “Sebagai gadis periang atau sebagai gadis menyedihkan yang menjadi penyebab kematian orangtuamu dan sebagai penyebab kekasihmu pergi meninggalkanmu begitu saja?”  Minhee terkejut merasa tak percaya jika Woobin tahu apa yang ia rasakan saat ini. Ia terdiam menatap pantulan dirinya dicermin, tak berniat mencari tahu darimana Woobin tahu semua hal tentang peraaaannya. Satu persatu butiran air mata jatuh dari kedua matanya, ia terisak pelan, merasa jika semua hal yang di jalaninya terlalu berat.

“Aku tanya padamu, kau marah pada siapa?”

“Keadaan.” jawab Minhee berusaha menahan isakkanya.

“Jika kau marah dengan keadaan, berarti kau marah dengan siapa Minhee ya?” Tanya Woobin dengan suara yang berbeda, lebih tenang dari sebelumnya.   Minhee semakin terisak, air matanya semakin tak terbendung. Minhee tahu yang dimaksud oleh Woobin namun ia tak bisa mengatakanya, ia merasa terlalu bersalah dan malu.

“Aku menunggu jawabanmu.”   Perlahan Woobin melepas cengkramannya, ia mundur beberapa langkah, menyandarkan tubuhnya pada loker pakaian ganti tanpa mengalihkan pandangannya. Minhee menundukkan wajahnya menutup kedua matanya sebelum kembali menatap dirinya sendiri.

“Tuhan.” jawabnya terisak.

“Sampai kapan kau akan marah pada TUHAN atas semua yang terjadi pada dirimu? Aku tahu kau selalu pulang terlambat dan berdiam diri di taman sekolah, kau juga datang lebih awal sebelum yang lain datang hanya untuk menyibukkan dirimu. Kau menyakiti dirimu sendiri Minhee-ya, menghukum dirimu sendiri atas sesuatu yang bukan kesalahanmu.”

“Satu hal yang harus kau ingat bahwa TUHAN tidak akan memberi ujian diluar dari batas kemampuan umatnya.”

“Kau harus bersyukur karena masih bisa merasakan kasih sayang kedua orangtuamu sedangkan aku, mengingat wajah mereka saja aku tidak bisa. Jangan gantikan memori Manismu bersama kedua orangtuamu dengan sibuk menyalahkan TUHAN atas takdir yang tergaris untukmu.” Woobin kembali menghampiri Minhee menyentuh pundak Minhee lembut, selembut tatapannya saat ini, ia tersenyum tulus saat Minhee menatapnya dari pantulan kaca.

“Minta maaflah pada kedua orangtuamu, pada tubuhmu dan pada mereka yang menyayangimu dan berterimakasihlah pada mereka semua, terutama pada TUHAN yang masih mengizinkan dirimu bernafas di dunia hingga saat ini.”   Tangis Minhee pecah begitu saja, ia terduduk dilantai, memeluk tubuhnya sendiri seakan meminta maaf pada dirinya atas apa yang sudah ia lakukan selama ini. ia merasa bodoh dan berdosa dengan semua yang ia lakukan. Woobin benar selama ini ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja didepan semua orang karena tak mau terlihat lemah dan dikasihani, menyadari bahwa selama ini ia kesepian bukan karena tidak ada yang ingin berteman dengannya tapi karena ia yang membatasi semua orang untuk tidak masuk ke dalam dunianya.

“Ayah, Ibu, Maafkan aku.. Maafkan aku..” gumam Minhee disela-sela tangisnya. Woobin menghela nafas tersenyum menatap punggung Minhee yang bergetar dengan hebat. Ia tidak mencoba untuk memberikan Minhee pelukan atau berusaha membantu Minhee untuk bangkit dari posisinya karena Woobin tahu jika ia melakukan hal itu, Minhee tidak akan mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini.

Next Day Seguk International School

“KIM WOOBIN!!”   Teriakan Minhee menghentikan seluruh kegiatan Siswa-Siswi yang sedang bersenda gurau sebelum Bell tanda pelajaran dimulai berbunyi. Tanpa memperdulikan bisikan-bisikan dari teman-teman sekelasnya, Minhee berjalan hingga berdiri disamping tempat duduk Woobin, memandang laki-laki yang tengah menyandarkan kepalanya di atas meja, menghadap tembok, sedang asik bermimpi bersama Ipod yang menempel di kedua telinganya.

Woobin si siswa menyebalkan, berandal dan selalu membuat onar, membuat nyaris tidak ada satu orang pun yang ingin berteman dekat dengannya dengannya. Merasa terganggu karena seseorang memukul punggungnya hingga mengacaukan mimpi indahnya, Woobin merdecak kesal, bangkit dari posisinya seraya menendang kursi hingga terjungkal dalam posisi terbalik. Ia membalikan tubuhnya, bersiap melayangkan pukulan pada siapapun yang berani mengganggunya, namun Woobin mendapati tubuhnta terpaku, menatap Minhee yang berdiri di hadapanya. Gadis itu tersenyum manis, menyodorkan sebatang cokelat dengan pita merah di ujungnya.

“Hai, Aku ingin memberikan Cokelat ini sebagai ucapan terimakasih karena aku baru menyadari jika kau adalah orang yang tetap berada bersamaku ketiks orang-orang sudah meniggalkan rumah duka saat kedua orangtuaku meninggal.” Minhee kembali tersenyum, melihat Woobin yang terkejut.   Woobin mendesah kesal, menaikan sebelah alisnya, menyeringai mendengar perkataan Minhee selanjutnya.

“Dan kau adalah orang pertama yang berhasil membuatku terlihat buruk didepan diriku sendiri, karena itulah aku ingin kau membayar semua yang sudah kau lakukan padaku kemarin.”

“Cih Apa-apaan ini, bukannya berterimakasih malah memintaku untuk membayar, dasar gadia aneh.” Umpat Woobin dalam hati. Ia menatap kesal gadis yang sama sekali terlihat tidak cantik di matanya itu dan bersiap untuk memaki dengan seluruh energinya sendiri.

“Bayarannya adalah mulai hari ini kau akan menjadi sahabatku seumur hidup, Kim Woobin.”  Titah Minhee

“Cih yang benar saja.” Woobin mengerutkan dahinya, menatap Minhee yang ia anggap sudah gila. Selama ini tidak ada yang sunguh-sungguh ingin berteman dengannya apalagi menjadikannya sahabat. Gadis itu benar-benar tidak waras, pikir Woobin dalam benaknya.

“Aku tidak terima penolakan, suka atau tidak kau akan tetap akan menjadi sahabatku. Seumur hidup, kau mengerti Kim Woobin?” ucap Minhee dengan penuh penekanan, sebelum meninggalkan Woobin yang terkejut di belakang sana.

“YA!! KIM MINHEE, KITA HARUS BICARA!!!” Woobin berlari meyusul Minhee setelah tersadar dari rasa terkejut dan tatapan aneh-aneh teman sekelasnya.

“KIM MINHEE!!!!!”

The End

Finally.. Finally..

Another Couple Project Alicia Kim with Ririn Setyo is now Showing!!! The Story Kim Woobin and Kim Minhee become Bestfriends..(Bukan Minhee namanya kalau ngga egois dan semena-mena, bukan Woobin namanya yang akhirnya pasrah hahaha) 

Enjoy!

Advertisements
Leave a comment

4 Comments

  1. cara temenan yang aneh tapi mereka emang sahabat yang kocak abis kalo lg dapat misi di lapangan

    Like

    Reply
  2. Jiyong

     /  June 28, 2015

    Pasti narasinya bikinan temennya Eonni kkkk #sotoy

    Eonni bikin Woobin Jiyeon dong pas kencan pertama, atau pas Woobin nyatakan cinta kkk lanjutan Witch

    Semangat ^^

    Like

    Reply
    • Hahhaha…aku bikinnya semua sendiri, terus temenku yg nyebelinnya kyk mak lampir lah yg edit sehingga semuanya jdi lebih bernyawa..
      Buat woobin jiyeon, kita blum ada idenya..

      Like

      Reply
  3. Keren.. Minhee maksa banget sama woobin buat jadi sahabatnya.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: