ANGEL

WoobinoOOOo

SPECIAL MOVIE

ANGEL

Story From : The Third Team Series

Kim Woobin, Kim Minhee, Song Jiyeon

Next Story : DEVIL

“Dia adalah Malaikat Hati yang telah mencuri seluruh Cinta dan Hidupku.” 

July 16, Midnight

Bukan kebiasaan Kim Woobin untuk mengingat hari kelahirannya sendiri, sejak dulu dia tidak pernah mau repot-repot untuk merayakan hari yang menurut sebagian orang di muka bumi ini sangat penting. Sejak dulu jika bukan karena orangtuanya terkhusus sang ibu yang selalu menyiapkan pesta ulang tahun untuknya, Woobin tidak akan pernah ingat jika hari itu dia bertambah usia. Namun seiring berjalannya waktu, kebiasaan Woobin pun sedikit berubah. Tepatnya sejak ia bertemu Song Jiyeon, seorang gadis yang ia klaim sebagai malaikat hati yang telah mencuri seluruh cinta dan hidupnya, seorang gadis yang selalu ikut merayakan ulang tahun Woobin selama 5 tahun terakhir ini.

Tapi sialnya di saat Woobin sudah terbiasa dengan perayaan ulang tahun yang kerab ia rayakan dengan sang kekasih, tahun ini justru gadis itu pula yang melupakannya. Di mulai sejak semalam, tepat saat jarum jam menunjuk angka 12, Woobin yang sengaja terjaga dengan senyum mengembang berlebihan, tak mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Sang Malaikat. Jiyeon tidak berkunjung ke rumahnya seperti yang sudah-sudah, tidak mengiriminya pesan singkat ataupun meneleponnya seperti di tahun awal hubungan mereka atau saat Woobin sedang bekerja di luar Korea.

Hari ini Woobin ada di Korea, di dalam kamarnya, duduk bersandar di atas ranjang, menatap nanar telepon selular yang diam tak bergerak di atas nakas di samping ranjang. Woobin hanya mendapat ucapan dari orangtuanya, pelukan dan juga kue ulang tahun ukuran besar bikinan Sang Ibu. Sahabat dan rekan kerja Woobin yang dia perkirakan akan memberi ucapan sangat terlambat, justru menjadi orang pertama yang memberinya kata selamat setelah orangtuanya.

Oh! Lalu kemanakah Sang Malaikat Hati berada?

Kenapa dia tidak hadir di hari penting Kim Woobin?

Mungkinkah gadis cantik bermata bening itu telah melupakan Kim Woobin?

Dari atas ranjang tidurnya Woobin mengerang, bantal biru berbentuk bulat pemberian Sang Malaikat sejak tadi sudah menjadi sasaran kekesalan Woobin hingga bentuknya mengenaskan. Woobin benar-benar kesal bukan kepalang, dan Woobin akan membuat perhitungan pada gadis-nya malam ini juga.

Malam ini juga?

Benarkah?

Kim Woobin, ayolah! Ini bahkan sudah dini hari? Sang Malaikat hati-mu pasti sudah berada di alam mimpi.

Namun Woobin tidak peduli, dalam satu gerakan Woobin sudah menyambar jaket dan kunci mobil, berjalan tergesa menuruni anak tangga untuk selanjutnya berada di dalam garasi. Ia hanya menuliskan pesan di depan pintu kamar orangtuanya jika ia keluar rumah, karena ada urusan pekerjaan yang sangat penting dan orangtua Woobin sudah terbiasa dengan itu.

****

Jiyeon’s Apartement

02.00 AM

Dengan cepat Woobin menekan kode pintu, menarik napas sesaat sebelum masuk ke dalam apartement milik sang kekasih. Sunyi. Itulah suasana yang menyambut Woobin pertama kali saat ia menginjakkan kaki di dalam apartement, ia melirik jam tangan besar yang melingkar di pergelangan saat lampu otomatis menyorot tubuhnya, sorot lampu dengan pendeteksi manusia yang mengikuti kemanapun ia bergerak. Woobin menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Sang Malaikat, ia menarik knop pintu dengan sangat perlahan, tak mau jika Sang Malaikat terganggu oleh kedatangannya.

Hey, bukankah Woobin sedang kesal?

Secara reflek senyum Woobin mengembang kala sepasang mata dinginnya menatap Jiyeon yang tengah tidur pulas di atas ranjang, kebiasaan Woobin sejak ia bertemu Sang Malaikat Hati 5 tahun silam, kebiasaan yang jika ditanya alasannya, maka Woobin tak punya jawabannya. Ia hanya merasa ingin tersenyum jika melihat sang gadis pujaan, walau bagaimanapun situasi yang tengah menaugi hatinya.

Kini Woobin sudah duduk di tepian ranjang, memandang lekat lekukan wajah Jiyeon dengan pahatan nyaris sempurna. Kulit putih sehalus mutiara, hidung mancung, alis rapi yang melengkung sempurna, bibir semerah cerry dan sepasang mata bening sangat indah yang tertutup rapat. Tak tahan hanya memandang, tangan Woobin pun bergerak, menelusuri tiap inci wajah yang selalu membuatnya merindu. Woobin kembali tersenyum saat Jiyeon mengeliat pelan karena sentuhannya, ia pun membungkuk, mendaratkan kecupan lembut nan dalam di atas kening Jiyeon, lalu turun ke hidung dan berakhir di bibir.

Saat Woobin baru saja akan menjauhkan wajahnya, tanpa diduga sepasang mata bening favorit Woobin terbuka, mengerjab pelan, samar menatap sosok Woobin yang masih berjarak sangat dekat, bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan.

Oppa…,”

Sapaan samar dalam suara serak khas seseorang yang baru terjaga dari alam bawah sadar, membuat Woobin mengangguk dengan senyum mengembang. Tangan pria itu membelai wajah Jiyeon lembut, menelusuri helaian rambut hitam panjang gadis pujaan hingga semuanya terlihat jelas di sepasang mata bening yang kini sudah membulat, meluapkan keterkejutan akan kedatangan Woobin yang tidak terduga.

“Ada apa? Apa ada sesuatu hal yang buruk terjadi?” Jiyeon bangkit dari posisi tidurnya,  menatap khawatir Woobin yang masih bungkam.

Oppa sakit?”

Woobin mengeleng saat tangan dingin Jiyeon menyentuh keningnya, pria kaku dan tidak romantis itu justru menarik tubuh kecil Jiyeon hingga menghilang di balik kedua lengannya. Woobin menyandarkan kepalanya di atas kepala Jiyeon, ia benar-benar sudah lupa jika ia sedang kesal pada Jiyeon.

Oppa, kau membuatku takut.” Jiyeon mengeryit dari balik dekapan Woobin yang mengerat, saat pria itu justru hanya tertawa, menciumi puncak kepala, pipi dan bahunya bertubi-tubi.

“Sejujurnya aku sedang kesal padamu, Jiyeon-ah.” ucap Woobin tanpa melepaskan pelukannya.

“Kesal? Memangnya aku melakukan kesalahan?”

Heemm…,”

Woobin menahan tubuh Jiyeon saat gadis itu berniat ingin lepas dari pelukannya, kembali membawa kepala Jiyeon bersandar di dada bidangnya yang hangat.

Oppa…,”

“Kau melupakan hari ulang tahunku.” ucap Woobin kemudian.

“Tidak.”

“Kau lupa Jiyeon,”

“Aku tidak lupa Oppa, aku bahkan sudah membuatkan kue untukmu.”

“Apa?” Woobin menunduk, menatap Jiyeon yang sudah mendongak. “Lalu kenapa kau tidak datang ke rumahku? Kau juga tidak mengirim pesan ataupun meneleponku?”

“Maaf…,” wajah Jiyeon berubah sayu, ia kembali menunduk.

“Ada apa Jiyeon?”

Jiyeon bungkam, ia hanya memaikan kancing kemeja biru kotak-kotak yang dikenakan Woobin.

“Song Jiyeon.”

Dan seketika Jiyeon tertawa hingga Woobin melepaskan pelukannya, menatap tak mengerti pada Jiyeon yang semakin tertawa terbahak.

Oppa maafkan aku, ini ide dari Minhee.” ucap Jiyeon masih dengan tawanya yang belum reda.

“Minhee?” kening Woobin mengeryit, matanya memicing tajam dan dingin.

“Minhee benar-benar penasaran, dia ingin sekali melihat Oppa memarahiku. Jadi dia memintaku berpura-pura melupakan ulang tahunmu, dengan harapan Oppa marah padaku. Maaf.” Jiyeon menghentikan tawanya, tersenyum manis menatap wajah Woobin yang mengeras.

“Seharusnya aku tidak memberitahumu tentang kue, tapi karena Oppa tidak memarahiku, aku jadi melupakan rencana yang dirancang Minhee.”

“Kau… Song Jiyeon, bagaimana mungkin kau…,” ucapan Woobin terputus saat bibir Jiyeon menyentuh bibir pria itu, mengecupnya lembut, singkat, ringan seperti kapas, namun mampu membuat tubuh Woobin memaku.

“Selamat ulang tahun, Woobin Oppa. Aku sangat mencintaimu.” ucap Jiyeon dengan senyum lebarnya, tangan gadis itu terulur, menarik bahu bidang Woobin dan memeluknya erat.

“Maafkan aku dan Minhee,” Jiyeon mengeratkan pelukannya. “Berjanjilah untuk tidak marah pada Minhee.” ucap Jiyeon kemudian, gadis itu memilih menyandarkan kepalanya di bahu Woobin saat tangan Woobin bergerak memeluk punggungnya.

“Untuk yang satu itu aku tidak bisa berjanji.” jawab Woobin seraya mengeratkan pelukannya.

“Woobin Oppa…,”

“Tidak ada negosiasi, Song Jiyeon.”

Oppa…,” Jiyeon melepaskan pelukannya, menatap Woobin penuh harap.

“Tidak!”

Opp…,”

Kalimat Jiyeon terhenti di udara saat Woobin kembali menyatukan bibir mereka dalam kecupan hangat yang lembut. Woobin menarik pinggang Jiyeon hingga berada di dalam rangkulannya, mengecup berkali-kali bibir Jiyeon hingga pada akhirnya gadis itu memejamkan matanya, membalas kecupan Woobin dalam lumatan ringan hingga puluhan detik berikutnya.

Dan setelah ini Jiyeon benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada Kim Minhee, karena Jiyeon bisa memastikan jika Woobin pasti akan murka pada sabahatnya itu.

Oh! Kim Minhee yang malang.

THE END

Seharusnya FF ini publish di hari Ultah Woobin tgl 16 kemarin, tapiii karena hari itu Saiiya kepo mau mudik maka pem-publish-an-pun ditunda. Saiiya udh minta Alicia buat publish-in ternyata Mbak Rempong yg satu itu lagi sibuk ama kerjaan mulia tiada tara (?) alias Nge-BABU LOL

Jadilah baru Publish hari ini hehehheh

OKai… Enjoy Manusia KECE

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: