IDENTITY! – Eps 1

 

identity

Cast :

Park Hae Jin,Kang Ha Neul,Park Chanyeol,Kim Minhee ,

Oh Sehun, Jeno Lee,Mark Lee,Ji Jin Hee,Choi Ji Woo,

Lee Soo Jin, Lee Jong Gi,Lee DongHae

 

Seorang wanita cantik, 25 thn, tampak menyeruak dari pintu kedatangan bandara Incheon, bersama ratusan penumpang lainnya. Dia tampak lelah, perjalanan 20 jam dr amerika menguras setengah kesadarannya. 20 tahun adalah waktu yg dia habiskan di negara adi kuasa itu, kini dia kembali ke tanah kelahiran dengan senyum lebar meski kepalanya sedikit pusing

 

“Aku pulang, aigoo Koreaku sayang.” Katanya, menyibak rambut panjangnya yg kali ini dia warnai coklat hazelnut, menggantikan warna sebelumnya, ungu. Perlu diketahui gadis it punya hobi gonta ganti warna rambut, meskipun dia it tidak baik untuk rambutnya.

 

“Lotte Hotel Myeongdong , Please” katanya pada supir taksi setelah dia melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya yang bangir. Dia menyerahkan koper pada supir taksi yang mendadak tersenyum terlalu lebar, membukakan pntu lalu buru-buru duduk d balik kursi kemudi. Gadis itu tersenyum, dia sadar kalau dirinya sangat cantik dengan pakaian apapun.  Minhee sangat menikmati perjalanan darat menuju Hotel tempatnya akan menghabiskan hari sebelum benar-benar pulang kerumah keluarganya.

 

Sementara itu seorang pria dengan umur kisaran 45 tahun, tampak kebingungan. Berdiri di depan pintu apartemen dia panik, sadar bila apartemen it kosong. Keponakannya hilang—-nyaris hilang, karena meskipun dia sudah mencoba telepon (tidak diangkat), mengecek ke tempat keponakannya bekerja, bertanya kepada teman-temannya atau pada siapapun yg kenal dengan keponakannya, tapi tetap saja hasilnya nihil.

Semakin kalut, dia menghubungi seseorang. “Hyung, dia pergi—-tidak, dia, benar-benar pergi.”

 

 

“Hallo , aku sudah memesan kamar atas nama Kim Minhee atau Andrea Kim”kata Minhee pada resepsionis hotel yang tersenyum ramah kepadanya. Lotte Hotel, salah satu hotel mewah yang ada di daerah Myeongdong.

 

“Pembayaran sudah di lakukan untuk dua malam, kamar terletak di deluxe one  1536. Bell Boy akan mengantar anda menuju kamar  dan  Selamat beristirahat Nona Kim” ucap resepsionis seraya memberikan kunci kamarnya pada Minhee.

 

Minhee tersenyum memandang kearah luar jendela, seakan tidak sabar untuk memulai hidup baru di tanah kelahiran , tentu saja ia juga tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya. Minhee memilih untuk meneruskan liburannya selama dua hari  sebelum akhirnya kembali ke SKY HOUSE  tempat dimana ayah, ibu dan Ke Enam saudara  laki-lakinya berada. Merasa lelah, akhirnya dia melemparkan tubuhnya keatas tempat tidur, menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghempaskan kasar . “Korea – korea  ,  ternyata udaramu jauh lebih nyaman dibandingkan dengan di Washington” ucap Minhee kemudian menutup kedua matanya karena kelelahan.

 

Tanpa Minhee ketahui, di Sisi Kota Seoul ada Ayah berusia hampir menginjak  umur 60 tahun,  mendesah frustasi mendengar satu-satunya anak perempuan berhasil kabur dari pengawasan nya. “Dongwha … sambungkan aku dengan anak-anak ku sekarang.”  Ji Jin Hee  sang Ayah menekan tombol orange pada telepone ruang kerjanya yang menyambungkan langsung kepada sekertaris pribadinya

 

“Baik Tuan”

 

Park Hae Jin – 30 tahun, merupakan anak laki-laki tertua di SKY HOUSE saat ini bekerja sebagai CEO perusahaan SKY ENTERPRISE, salah satu perusahaan terbesar nomor 2 dibidang Teknologi. Hae Jin sangat mahir bela diri serta menggunakan senjata api. Hae Jin yang sedang dalam rapat penting pun membulatkan matanya kerkejut setelah mendapat kabar dari Sekertaris Ayahnya mengenai keberadaan Minhee.

 

Kang Ha Neul, 29 Tahun, anak laki-laki kedua di SKY HOUSE berprofesi sebagai Dokter Bedah terkemuka di Korea selatan, bahkan sepak terjangnya sudah terdengar hampir diseluruh penjuru Dunia. Kang Ha Neul mahir dalam Wushu serta Muaithay. Kang Ha Neul tersenyum senang mendengar kabar jika Minhee meninggalkan Washington tanpa memberitahu siapapun. “Thats My Minhee”  Ha Neul yang  baru selesai Operasi pun meninggalkan rumah sakit ketika membaca pesan singkat masuk kedalam Handpone nya.

 

Park Chanyeol – 25 Tahun, anak laki-laki Ketiga di SKY HOUSE, umurnya sama dengan Minhee, berprofesi sebagai kepala Detective Kepolisian Kota Seoul.  Ia baru saja selesai membawa salah satu gembong narkoba kedalam sel tahanan. Chanyeol terseyum membalas sapaan rekan kerja serta bawahannya saat berpapasan dengannya, namun senyumnya menghilang diganti dengusan kesal setelah membaca pesan singkat masuk di telepon gengamnya.”Kenapa saudari kembarku selalu saja membuat masalah” gerutu Chanyeol kesal berlari kedalam kendaraan pribadinya.

 

Oh Sehun23 Tahun, Anak laki-laki ke Empat, yang masih berstatus sebagai Mahasiswa di Universitas Negeri Seoul semester terakhir jurusan hukum.   Selain keahlianya sebagai Playboy, Sehun juga mahir menggunakan Komputer dengan spesifikasi luar biasa, bahkan saking Jeniusnya, tak jarang kepolisian, NTS bahkan sang ayah meminya bantuannya untuk meretas atau mencari sesuatu melalui dunia maya.

 

Minhee paling sayang dengan Sehun serta kedua adik bungsu yang masih duduk di tingkat Sekolah menengah Atas yaitu Lee Jae No atau biasa dipanggil Jeno Lee serta kembarannya Lee Min Hyung yang biasa dipanggil Mark Lee  , keduanya sedang belajar  bagaimana mempertahankan diri mereka masing-masing serta menggunakan senjata api dengan baik dan benar.

 

Sementara Minhee sendiri adalah Jaksa Muda Korea yang ditunjuk khusus oleh pemerintah Korea yang berada di Washington DC untuk membantu warga Korea yang berada disana jika mengalami masalah hukum. Sejak kecil Minhee di pindahkan secara paksa oleh kedua orang tuanya ketika berumur 5 tahun. Minhee yang saat itu tidak mengerti apapun hanya bisa  menutut tanpa bisa melakukan perlawanan.

 

Seluruh penghuni SKY HOUSE memang didik keras ala militer oleh sang kepala keluarga Ji Jin Hee  yang berprofesi kepala angkatan darat kemiliteran Korea selatan yang langsung dibawah Menteri Pertahanan Korea Selatan.  Ji Jin Hee bahkan sengaja memberikan marga yang berbeda untuk ke enam anak-anaknya, dengan alasan keamanan.

 

Sementara itu sang ibu  Choi Ji Wo yang mengabdikan dirinya untuk menjadi ibu rumah tangga secara  seutuhnya tentu menginginkan hal sebaliknya, ia ingin hidup senormal mungkin demi anak-anaknya,  ia juga menginginkan semua buah batinya berkumpul dalam satu rumah ,hingga ia  tidak perlu bolak balik ke Washingdon DC hanya untuk menemui Minhee  putri kesayangannya.

 

0da0f7d074c02eec14c4136489a5b578
Minhee tersenyum  senang melangkahkan kakinya menyelusuri Myeongdong, mencoba hampir seluruh jajanan pasar yang di jajakan disana, ia juga keluar masuk toko kecantikan untuk mencoba dan membeli beberapa product yang dibutuhkannya.

 

“Bibi , Tolong Ttopokkinya satu porsi..” pinta Minhee tanpa melepas kaca mata hitamnya, dengan pakaian Casual hitam, Celana Jeans biru pudar dipadu padankan dengan sepatu kets putih dan tas hitam membuat nya terlihat segar dan bebas bergerak. Minhee memakan makanannya dengan lahap tanpa menyadari seseorang tengah berdiri bersebelahan dengannya.

 

“Sepertinya nikmat” ucap laki-laki itu kemudian memesan 1 porsi ttopokki persis seperti yang Minhee pesan.

 

“Tentu saja, Ini ttopppokii yang paling enak yang pernah ku makan, bahkan lebih enak dari yang dibuat oleh Kembaranku “ Ucap Minhee tanpa melihat siapa yang ia ajak bicara dan terus melahap ttopoki di hadapannya. “benarkah?!”  Tanya laki-laki itu lagi. Tiba-tiba Minhee menghentikan kegiatan makannya, ketika mendengar nada tidak menyenangkan dari laki-laki disebelahnya, bukan nadanya yang dipermasalahkan oleh Minhee, namun suaranya sangat mirip dengan saudara seumurnya yaitu Park Chanyeol. Minhee mengumpat dalam hatinya, seraya perlahan mengeluarkan uang dari dalam sakunya untuk ia letakkan disebelah piring ttopoki miliknya.

 

“One .. two.. Three…” Hitung Minhee dalam hati kemudian lari begitu saja.. “Bibi , uangnya ada disana!!” Teriak Minhee berlari meninggalkan warung ttoppokki.

 

“Yaa!!! Kim Minhee!!!!!!” Teriak Chanyeol berlari menyusul Minhee, terjadi kejar-kejaran di pasar Myeongdong yang tak pernah sepi pengunjung dari dalam serta luar negeri. “Sial, kenapa anak itu lari nya cepat sekali  “ gerutu Chanyeol.

 

Minhee berlari ke penjuru tempat menghindar dari tangkapan Chanyeol, pada akhirnya memutuskan kembali kedalam Lotte hotel. Ia menekan tombol lift dengan cepat berharap lift itu segera terbuka seraya mengedarkan tatapannya mencari keberadaan Chanyeol. Minhee berhasil keluar dari Lift berjalan tergesa menuju kamarnya, ia mengeluarkan kunci kamar Hotel dengan tergesa-gesa, “tliiitt” Terdengar bunyi menandakan pintu kamar terbuka, dan ternyata ia tidak sendirian.

 

“Hallo – Nona Kim!”  Kang Ha Neul melambaikan tangannya guna menyambut kedatangan adik perempuan satu-satunya. Minhee membulatkan matanya terkejut mendapati hampir seluruh saudaranya ada di dalam kamar hotel yang ia tempati. Park Hae Jin menatapnya tajam seperti Singa yang siap menerkam mangsanya, Sementara Oh Sehun menyeringai, seakan mengatakan We Got You Sweetheart. Minhee melangkahkan kakinya mundur secara perlahan bersiap untuk kabur dari SKY HOUSE family member namun sial, Chanyeol sudah berdiri dibelakangnya, menekan kedua pundak Minhee untuk mencegah saudara kembarnya kabur.

 

“kau tidak bisa kemana-mana Sweetheart! Silahkan terima Hukuman mu!” bisik Chanyeol mendorong Minhee untuk duduk di tempat tidur.

 

“Hallo …” Minhee melambaikan kedua tangannya, senyum manis mengembang , seakan tidak menyadari jika ia sedang berada di kandang harimau.  Hae Jin mengelengkan kepalanya frustasi melihat adik perempuannya bersikap seakan semua baik-baik saja, memilih untuk bangkit dari tempat duduknya.

 

“Kau! Ikut kami pulang sekarang!” Hae Jin meninggalkan ruangan disusul oleh Ha Neul dibelakangnya, sementara Chanyeol dan Sehun menarik Minhee dan mengawalnya ketat agar Minhee tak mempunyai kesempatan untuk kabur.

 

SKY HOUSE

Seoul

 

Minhee berlari  mencari keberadaan sang ibu— Choi Ji Wo saat tiba dalam rumah mereka.

 

“Ibu!!!!!!”

 

Choi Ji Wo menghentikan kegiatannya di dapur, berlari menghampiri Minhee dan memeluknya penuh kasih sayang, memberi kecupan disetiap jengkal wajah anak perempuannya hingga membuat Minhee tertawa geli.

 

“Ibu – Aku pulang, dan aku takkan pernah pergi lagi dari sini meninggalkan ibu sendiri, walau Ayah sendiri yang mengusirku!”  Minhee melirik kearah Ji Jin Hee tengah asik membaca koran sore nya.

 

Tanpa Minhee ketahui oleh siapapun, dibalik kertas koran yang menutupi wajahnya, sang ayah tersenyum lega mendengar suara Minhee, menandakan jika Putrinya itu dalam keadaan sehat. Ji Jin Hee juga menginginkan hal yang sama , berkumpul dengan seluruh keluarganya dengan utuh, namun sayangnya pekerjaan sebagai Kepala angkatan Darat membuatnya harus menyembunyikan keberadaan  Minhee, karena Minhee adalah kelemahan terbesar buatnya.

 

“Minhee ya .. sebaiknya kau menyapa ayahmu dulu.” Bisik Choi Ji Wo melirik kearah suaminya, Minhee mengelengkan kepalanya takut, karena ia tahu Ayahnya akan menghukum dirinya atau paling ringan adalah mengirimkannya kembali ke Washington DC.

 

“Ayo,tidak apa-apa sayang.” Bujuk Choi Ji Wo. Minhee melirik kearah Hae Jin,  Ha Neul, Chanyeol dan Sehun ,Ke empatnya menganggukan kepalanya bersamaan. “Ayah, Aku pulangl” ucap Minhee perlahan menghampiri Ji Jin Hee seraya menundukan kepalanya pasrah. Ji Jin Hee menutup korannya dengan kasar, menatap marah kearah Minhee singkat sebelum meninggalkan ruang makan yang tersambung dengan dapur menuju ruang kerjanya.

 

“Ibu…” Rajuk Minhee menatap melas kearah Choi Ji Wo.

 

“Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan Minhee ya – susul ayah.” Ha Neul mengelus kepala Minhee lembut, disusul Choi Ji Wo menganggukan kepalanya membenarkan.

 

Minhee melangkahk an kakinya dengan malas menuju ruang kerja milik ayahnya Ji Jin Hee yang masih terlihat muda untuk ukuran seorang Ayah beranak 6, membuka pintu kayu dengan tinggi 3 Meter.
c6c843422be7a4ac7958789552bc2784

 

 

“Ayah…” ucap Minhee lirih berdiri tepat di depan meja kerja Ji Jin Hee .

 

Satu menit, dua menit, tiga menit tidak ada tanggapan dari sang Ayah, Minhee pun memberanikan diri untuk memanggilnya kembali.

 

“Ayah…”

 

Ji Jin hee  menghentikan kegiatannya memeriksa beberapa dokumen yang ditinggalkan oleh Donghwa, menatap garang kearah Minhee. “SIAPA YANG KAU PANGGIL AYAH?!” bentak Jin Hee membuat Minhee semakin menundukan kepalanya takut.

 

“Berapa umur mu sekarang?!”

 

“25 Tahun” jawab Minhee pelan.

 

“25 Tahun dan kau masih saja membuat onar? Kau sadar apa yang kau lakukan itu salah bukan?!” Ji Jin Hee menaikan nada bicaranya.

 

“Aku merindukan mu.” Lirih Minhee, kali ini membuat JI Jin Hee terdiam tak bisa berkata-kata. Ia senang  karena Minhee sama sekali tidak membencinya, namun disisi lain ia takut jika rasa sayang Minhee akan berubah jika mengetahui apa yang sudah ia lakukan.

 

“istirahatlah karena besok pagi-pagi sekali kau akan kembali ke Washington bersama dengan Chanyeol dan Sehun.” Ucap Jin Hee. Minhee yang berada tepat didepan meja kerja sang ayah pun terkejut, suhu darah dalam tubuhnya naik mendadak membuatnya tak bisa menahan emosi. “Tidak!!!” tolak Minhee, Jin Hee membulatkan kedia matanya terkejut  mendengar Minhee membentaknya.

 

“Tidak ada penolakan, kau akan tetap pergi!”ucap  Jin Hee penuh penekanan menatap tajam kearah Minhee.

 

“Tidak – Aku tidak pernah akan meninggalkan rumah ini! – “ Minhee merendahkan nada bicaranya, menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya “ – Atau Ayah hanya akan menemukan jenasah ku”

 

“KIM MINHEEEEE!!!!” Bentak Jin Hee, seraya melayangkan tangan kanannya pada pipi Minhee, sehingga menimbulkan suara yang cukup kencang. Jin Hee sendiri terkejut ,ia menatap nanar kearah tangan kanannya, kemudian kembali menatap Minhee yang masih tetap berdiri ditempatnya.

 

“Ayah!!!!” panggil Hae Jin dan Ha Neul bersamaan. Mereka masuk keruang kerja  Jin Hee tanpa permisi terlebih dahulu setelah mendengar suara teriakan Ayahnya, diikuti oleh Choi Ji Wo ,  Sehun dan Chanyeol dibelakangnya.

 

“Minhee ya , kau tidak apa-apa?”Choi Ji wo menghampiri  Minhee yang masih mematung di tempatnya.

 

Perlahan Minhee menaikan kepalanya, menatap tajam penuh amarah kearah Jin Hee. “Jika Ayah bersi keras mengirim aku kembali ke Washington, sama saja kau menginginkan aku untuk menyingkir dari kehidupan kalian —  Jadi buat apa aku hidup jika aku harus berpisah dari keluarga ku sendiri.” Minhee melakukan penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.

 

“IKUT PERATURAN KU ATAU KAU BOLEH KELUAR DARI RUMAH INI!!” Jin Hee tersulut emosi serta rasa kalut yang datang bersamaan.

 

“Ayah!!!!” Protes Chanyeol dan Sehun.

 

“Tidak ada yang boleh pergi dari rumah  ini tanpa seizinku!” Perintah Ji Wo dengan nada penuh penekanan.

 

“Tidak  ada yang boleh mengusir siapapun dari rumah ini terutama anak-anak ku tanpa persetujuan ku!! Jika Minhee kembali ke Washington, Aku akan ikut bersama Minhee dan meninggalkan kalian semua sendirian!” Ancam Choi Ji Wo.

 

Minhee meninggalkan ruang kerja begitu saja tanpa mengindahkan panggilan kedua kakak-kakaknya,  melangkahkan kakinya keluar dari Sky House , melewati Jeno dan Mark yang menyapa nya , si kembar baru saja kembali dari sekolah saling menatap satu sama lain melihat tingkah kakak perempuannya.

 

“Sepertinya terjadi sesuatu..” ucap Jeno bersamaan dengan suara Chanyeol berteriak.

“Ayo kita kesana..” Ajak Mark di jawab anggukan Jeno.

 

“Ayah .. kenapa Noona pergi begitu saja?” suara Mark mengintrupsi pembicaraan antara  ayah dan anak keluarga berbeda marga ini, namun tidak ada jawaban.

 

“Kemana kakak mu?” tanya Ha Neul menatap Jeno dan Mark bergantian.

 

“Tidak tahu,  bahkan Noona tidak membalas sapaan kami”Jawan Jeno. Ha Neul dan Sehun bergegas mencari keberadaan Minhee.

 

“Jeno,Mark – kalian tidak lupa hari ini ada les  menembak bukan?” si kembar menganggukan kepalanya.”Ayo, ibu akan menyiapkan makan siang untuk kalian” Ajak sang  Ji Wo melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja suaminya, ia menghentikan langkahnya sejenak menatap Ji Jin Hee “ Sebaiknya kalian menemukan Minhee, Aku  tidak pernah main-main dengan ucapanku!”

 

Chanyeol menatap sang ayah penuh tanya, ia yakin bahwa ada  sesuatu yang dirahasiakan darinya. “Ayah … Mau sampai kapan kau mengasingkan saudariku?” Chanyeol duduk kursi tepat didepan meja kerja ayahnya, sementara Hae Jin memilih duduk di Sofa menatap sang ayah menunggu jawaban.

 

“Aku tidak pernah mengasingkannya, aku hanya melindunginya.” Jawab Hae Jin. Chanyeol mendesah “itu menurutmu, tapi bagaimana menurut Minhee?” Chanyeol membenarkan posisi duduknya kemudian melanjutkan pembicaraanya menatap Hae Jin dan sang ayah bergantian, menatap kesal kearah Hae Jin yang diam saja, sementara itu Hae Jin hanya tersenyum melihat kearah Chanyeol, membiarkan adiknya kali ini untuk mengambil alih membela saudarinya.

 

“Ayah, apa kau pernah datang ke acara sekolah Minhee?” Chanyeol bertanya kepada Jin Hee .  ”Jawabannya Tidak .. sepertinya setiap pertanyaan ku nantinya akan dijawab sama, yaitu Ayah tidak pernah meluangkan waktu untuknya. Tapi ayah selalu meluangkan waktu untuk ku dan saudara ku lainnya.” Lanjut Chanyeol.

 

“Chanyeol ah .. Jangan berbelit-belit.” Hae Jin  mengingatkan. Chanyeol membuang nafasnya kasar. “Aku tidak akan membiarkan Minhee ku kembali ke Washington, sudah saatnya ia berada bersama keluarga kita, merasakan kasih sayang yang selama ini tidak ia dapatkan dari kami — Kami sudah besar ayah, kami akan melindungi Minhee dari siapapun dan apapun.” Chanyeol bangkit dari kursinya, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meninggalkan Hae Jin dan Jin Hee begitu saja.

 

“Chanyeol benar ayah, Minhee sudah besar, kami juga sudah dewasa, sudah saatnya kami melakukan apa yang harus dilakukan sebagai seorang anak dan kakak untuk saudara-saudari kami. Percayalah, semua akan baik-baik saja —- walaupun Minhee harus tahu kenyataan yang sebenarnya.” Hae Jin  melangkahkan kakinya mendekati meja kerja Jin Hee.

 

“Ayah – kau sangat menyayangi Minhee lebih dari siapapun dirumah ini, dan jauh di lubuk hati mu ,  kau sangat menginginkannya untuk tinggal bersama kita  bukan?” tanya Hae Jin.  Jin Hee memalingkan wajahnya menatap Hae Jin yang sangat mengetahui perasaanya.

 

“Aku akan membawa Minhee pulang , dan mulai hari ini,  kita akan melindunginya bersama-sama”

 

“Who said that you can drink that drink”  Minhee mendesah kesal ketika seseorang meraih gelas Wisky dari tanganya,  menolehkan kepalanya malas menatap Ha Neul yang menegak habis cairan yang berada di gelasnya.

 

“Apa ini yang diajarkan Paman Kim selama kau di washington – huh?” tanya Ha Neul

 

“Itu bukan urusan mu kakak tua” Sungut Minhee kesal, Ha Neul tersenyum menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi perempuan dihadapannya ini. “aku masih kakak mu Minhee ya.. jadi aku masih punya kuasa atas dirimu” Ha Neul menuang kembali isi botol Wisky pada gelasnya.

 

“Cih.. “ Dengus Minhee.  “Bicara dengan tembok!” Minhee meraih paksa gelas Wisky yang berada  ditangan Ha Neul.  “Seharusnya bersikap seperti layaknya seorang kakak sejak beberapa tahun yang lalu!” cibir Minhee. Ha Neul tak bisa membantah perkataan Minhee.

 

“Kami masih terlalu muda saat itu, dan kami tidak bisa melakukan apapun untuk menentang Ayah – Vodka Murni please “ Ha Neul memesan sebotol Vodka pada bartender. Minhee kembali menyeringai. “Apa saat ini kalian berani menentang Ayah – Aku rasa  tidak?” Minhee kembali mencibir Ha Neul.

 

“Dia tetap Ayah mu , Ayah Kita – jadi kau tetap harus bersikap sopan padanya “ Hae Jin ikut bergabung bersama kedua adiknya. Kini Minhee berada di antara kedua kakak laki-lakinya.

 

“Pulang lah , sudah saatnya kau bergabung bersama kami, berada di tengah-tengah kami” Hae Jin tersenyum menolehkan kepalanya menatap Minhee.

 

“Apa  Ayah tidak marah lagi?” tanya Minhee penasaran. Ha Neul tertawa dibelakangnya, membuat Minhee meliriknya kesal.

 

“Pulang lah – Ayah akan menjadi urusan kami.” Jawab Ha Neul. Minhee tersenyum girang, mengecup singkat pipi Ha Neul kemudian memeluk Hae Jin tiba-tiba.

 

“Ya.. Berapa umur mu?” Hae Jin menahan tawanya melihat sikap Minhee.

 

“Aku merindukan kalian semua – sangat” tiba-tiba Minhee terisak membuat Hae Jin dan Ha Neul  bertatapan, tersenyum menyadari jika Minhee yang terkenal tegas dan galak di lingkungannya tetaplah  adik kecil manja dan menggemaskan.

 

“kau lucu sekaliii, sangat mengemaskan” Ha Neul mengelus lembut kepala Minhee.

 

“Aku tidak mengemaskan!! Kim Ha Neul “ Sungut Minhee membuat kedua kakaknya tertawa. Ketiganya terlarut dalam percakapan yang menyenangkan, minum lagi dan lagi hingga membuat mereka harus menghubungi driver untuk mengantar  mereka pulang kerumah.

 

 

Seluruh keluarga berkumpul breakfastroom pavilliun SkyHouse, ibu khusus menyiapkan sarapan special untuk seluruh keluarga ketika mengetahui dari salah satu maid bahwa Minhee kembali bersama Hae Jin dan Ha Neul.

 

“Morning Ayah..” Sapa Juno dan Mark , keduanya menghampiri ibu untuk  memberikan kecupan selamat pagi. “Morning Ibu “.

 

“Morning sayang , Ibu sudah menyiapkan sarapan spesial untuk kalian” ucap Choi Ji  Wo dengan senyum mengembang.

 

619503601e1a16f27c9f442ba0f41c19

 

“Huahhh.. ini sarapan kesukaan Minhee Noona..” ucap Jeno berbinar-binar manatap Mark.

 

“Sok Tau, dari mana kau mengetahui semuanya ini kesukaan Minhee?” Tanya Sehun yang sedari tadi sudah berada di ruang makan.

 

“Tentu saja kami tau, kami kan adik kesayangannya Minhee noona – tidak ada yang kami tidak ketahui, dari mulai makanan kesukaan sampai dengan kriteria laki-laki idamannya kami tau” Jawab Mark  bangga.

 

“Cih… Sok dewasa” Cibir Sehun mengunyah makanannya santai.

 

“Ibu , berarti Minhee Noona akan tinggal disini bersama kita kan bu?” Tanya Mark Exited, di jawab anggukan oleh Ibu  mereka.

 

“Ngomong-ngomong , dimana Hae Jin, Ha Neul dan Minhee?” Chanyeol mengecup Ibu singkat, mengacak-ngacak rambut si kembar sebelum duduk pada kursi yang biasa ia tempati, meraih sepotong roti untuk dioleskan cokelat favourite nya.

 

“Hyungggg…” Protes kedua adik kembarnya, seraya menata kembali rambut mereka yang berantakan.

 

“Sepertinya masih tidur , yang ku tahu mereka pulang dalam keadaan mabuk  semalam “ jawab Sehun meminum banana milk favourite nya

 

“Mwo?!” Chanyeol, Choi Ji Wo dan Ji Jin Hee bersamaan. “Dasar anak nakal, ini semua karena ayah, jika tidak ketiga anak manis ku tidak akan seperti itu..” Omel Choi Ji Wo. Chanyeol, Jeno, Mark dan Sehun hanya bisa meringis mendengar ibu  mereka terus-terusan menyalahkan Ayah mereka.

 

Setelah si kembar pergi kesekolah mereka diantar oleh Sehun mennggunakan BMW X6 SUV Black miliknya, dan Chanyeol pergi ke kantor polisi menggunakan White Range Rover  kesayangannya.

 

Ji Jin Hee dan Choi Ji Wo melangkahkan kaki mereka menuju kamar Hae Jin untuk melihat keadaan ketiga anak mereka. Sky House Parents bukan typical yang akan menghukum anak-anak mereka jika melakukan perbuatan yang memang pantas dilakukan oleh anak-anaknya, selama masih dalam batas wajar.

 

Kedua orang yang berpredikat sebagai ayah dan ibu Sky House hanya bisa menghela nafas, menahan tawa melihat bagaimana posisi ketiga anaknya sedang tertidur pulas.

Minhee tertidur diatas perut Hae Jin bagian kanan dengan kaki yang terbuka lebar, sementara itu Ha Neul tidur dengan memeluk Hae jin seperti guling.

 

“Aku bahkan tidak menyangkan jika anak-anak ku ini sudah tumbuh dewasa, tampan dan cantik jika melihat mereka seperti ini lucu dan menggemaskan” Tawa Ji wo. Jin Hee diam-diam ikut tersenyum, perlahan ia mendekati Minhee,  membenarkan posisi kakinya, membelai lembut kepala putri semata wayangnya.

 

“Dia sudah tumbuh menjadi wanita hebat, jauh dari bayangan ku” Jin Hee tak melepaskan pandangannya dari Minhee, ia merasa bersalah telah melayangkan pukulan pada putri sematawayangnya. Ji Wo mengangguk setuju.

 

“ aku tidak menyadari, betapa cantik dan spesialnya anak perempuanku ini,  ia bahkan bisa membuat si kaku Hae Jin mabuk-mabukkan” Jin Hee menahan tawanya, tangan nya tak berhenti mengelus kepala Minhee.

 

“Tapi bu, semakin Minhee berada di dekat ku, aku semakin takut akan kehilangannya. Bagaimana jika itu terjadi?” mendadak nada Jin hee terdengar lirih.

 

“Kau tidak akan kehilangannya, sayang.  Minhee mu akan selalu menjadi milik mu, puteri kecilmu yang tak pernah hilang dari jarak pandang mu, bahkan ketika  Minhee berada di washington kau tak membiarkannya sendirian walaupun kau melakukannya diam-diam”
“Aku akan memindahkannya ke kamar” Jin Hee mengangkat Minhee ala bridal style perlahan, berusaha untuk tidak membuat puteri kecilnya terbangun,membawanya ke kamar yang ternyata sudah ia siapkan untuknya.

 

Jin Hee merebahkan Minhee diatas tempat tidur ala puteri kerajaan yang ia siapkan sendiri khusus untuk puteri kesayangannya, Jin hee bahkan tahu jika Minhee sangat menyukai warna Mint atau Hijau tosca,  lebih tepatnya Jin Hee selalu tahu apa yang tidak ataupun yang disukai oleh Minhee.

 

d1e07bbccd6f188441e4726e3b5940c2

 

Menatap Minhee membuat Jin Hee melupakan tugasnya sebagai Abdi Negara, perlahan Jin Hee merebahkan dirinya bersebelahan dengan Minhee dan tertidur bersama nya. “Ayah merindukan mu sayang” bisik Jin Hee kemudian terlelap.

 

Minhee membuka matanya, tersenyum melihat wajah sang ayah tertidur disebelahnya. “Aku juga merindukan mu” kemudian kembali menutup matanya. Tanpa diketahui  oleh ayah dan anak  ini, Sang Ibu beserta kedua anaknya tesenyum senang, ketika rencana yang mereka bertiga susun akhirnya membuahkan hasil.

 

“Mom , You are so great..” Puji Ha Neul ber-Hi5 dengan sang ibu.

 

 

Di sisi lain kota Seoul , ada seorang  laki-laki tampan berumur hampir sama dengan Ji Jin Hee,   berumur 50 Tahunan sedang mengadakan meeting dengan anak buahnya yang berkisar 10 orang. Laki-laki tersebut bernama Lee Soo Jin.

 

“Tuan, ini laporan terakhir mengenai keluarkan Kepala Pertahanan JI Jin Hee.” Kim Jong Kook menyerahkan laporannya kepada Bos besar yang baru saja kembali ke Korea sejak  24 Tahun memilih tinggal  dan mengurus semua bisnisnya yang berada di berbagai negara termasuk Korea Selatan dari Negara Tirai Bambu menyusul isteri dan kedua anaknya.

 

Lee So  Jin adalah salah satu Mafia papan atas yang dianggap sangat berbahaya, ia mempunyai bisnis terlarang dibidang Senjata Api, Narkotika, Perdangan Manusia yang tentu saja ilegal berbalut rapih dengan Bisnis Property miliknya. Bisnis Property berlabel Anna’s Group juga merupakan salah satu Bisnis Property terbesar di korea selatan. Sepak terjang Lee So Jin sudah tercium oleh penghuni Sky House, namun sayangnya mereka belum bisa berbuat banyak karena kurangnya bukti yang kuat untuk menjebloskannya kedalam penjara.

 

“Ji Jin Hee.. Sepertinya kau hidup sangat bahagia, terbukti dengan 6 anak laki-laki yang mengelilingi mu. Bagaimana perasaan mu jika ku ganggu sedikit ketenangan mu?” seringai So Jin kemudian menatap kaki tangannya dengan tatapan licik.

 

“Lalu apa yang harus saya lakukan , Tuan?”

 

“untuk saat ini pantau terus seluruh anggota Sky House , laporkan padaku gerak-gerik mereka hingga ku perintahkan untuk  mulai menghancurkan mereka satu persatu.” Perintah Lee So Jin, bersamaan dengan ketukan pintu ruang kerja nya.

 

“Ayah….”

 

Lee So Jin bangkit dari kursi kebesaraanya, mendekati  kedua anaknya yaitu Lee Jong Gi  Pria berumur 29 Tahun, bekerja sebagai CEO Anna’s Land, sedangkan anak bungsunya  bernama Lee Dong Hae , 25 Tahun merupakan calon Dokter Spesialis Jantung.

 

“kenapa ayah datang tiba-tba?” Donghae memeluk singkat ayahnya bergantian dengan Jong Gi sang kakak.

 

“Aku merindukan kalian –semenjak kepergian ibu , aku sangat kesepian”Jawab Soo Jin.

 

“Apa ayah akan tinggal disini bersama kami?” tanya Jong Gi dijawab anggukan oleh Soo jin membuat senyum merekah pada  wajah kedua anak keluarga Lee tersebut.

 

“Aku senang sekali mendengarnya,  karena sudah saatnya kami yang menjaga ayah.” Ucap Jong gi disetujui  oleh Donghae. Mereka bertiga memutuskan untuk keluar makan siang bersama selayaknya keluarga dan memilih salah satu restaurant Favourite Donghae yang berada di Shilla Hotel.

 

Minhee melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung SKY ENTERPRISE, disaat karyawan me-tapping Id card mereka pada pintu masuk lantai 1, Minhee hanya perlu menekan tombol rahasia khusus dimiliki oleh orang  penting SKY ENTERPRISE.

 

Seluruh karyawan yang berpapasan dengan nya  tak berhenti berdecak kagum dengan pakaian serta paras cantik milik adik dari Park Hae Jin ini, ditambah lagi kenyataan ia menekan beberapa angka yang merupakan akses rahasia SKY ENTERPRISE.

 

“Selamat Siang Nona Kim “  Sapa sekertaris Hae Jin yang khusus menjemput Minhee tepat di depan Lift lantai dimana Hae Jin berada, setelah melihat tanda VVIP Guest pada layar Komputer miliknya saat  Minhee berada  di lantai 1

 

“Selamat Siang – Dimana Park Hae Jin?” tanya Minhee melanjutkan langkahnya santai, sesekali menundukan kepalanya tersenyum menyapa karyawan Sky enterprise yang sama sekali tidak mengenal siapa Minhee sebenarnya.

 

“Silahkan Nona ..”

 

Minhee menganggukan kepalanya, membuka pintu ruang kerja Hae jin perlahan, ia mengintip terlebih dahulu keadaan sekitar sebelum benar-benar masuk kedalam ruang kerja kakaknya.

 

Hae Jin yang sedang berbicara dengan wanita didepannya pun segera menangkap keberadaan Minhee dari sudut matanya, menahan senyum. “Masuk lah” ucapnya menolehkan wajahnya.

Minhee tersipu malu melangkahkan kakinya mendekat kearah Hae Jin. “Anyeong… “ ia melambaikan tangannya.

 

acee8b37b80f488cf37ceb16a67fd105

 

“Your Hair?” tanya Hae Jin heran melihat rambut Minhee yang di tata sangat berbeda dari biasanya.

 

“Mommy’s Do” Jawab tak menghentikan langkahnya mendekati Hae Jin, kemudian memberikan kecupan singkat di pipi sebelah kanannya tidak memperdulikan wanita yang berada dihadapan kakaknya.

 

“i like it , so pretty sweetheart .” balas Hae Jin membuat Minhee mendesis,  kemudian Minhee menatap wanita yang menurutnya asing dengan tatapan tanya. Hae Jin menyadari tatapan Minhee dan mulai mengenalkan Minhee padanya.,

 

“Oh.. Perkenalkan ini rekan kerja ku – Park Sora “ ucap Hae Jin tersenyum ramah. Sora menjulurkan tangannya mengindahkannya dengan cepat Minhee memperkenalkan diri.

 

“Kim Minhee, teman dekat Hae Jin –Oppa“ balas Minhee mengelayut manja pada lengan Hae Jin. Perkataan Minhee membuat Sora kesal. Sora yang sejak SMA mengejar-ngejar Hae Jin dengan berbagai cara, bahkan ia rela pergi ke US hanya untuk bisa satu kampus dengannya.

 

Tidak ada satu orang pun mengetahui siapa keluarga dari Park Hae Jin dan anak-anak Sky House sebenarnya,karena Sky house dan pengikutnya menyembunyikan rapat-rapat mengenai identitas seluruh keluarga, bahkan di sekolah Mark dan Jeno nama orang tua mereka pun disamarkan. Ji Jin Hee menempatkan beberapa Bodyguard kelas kakap untuk melindungi keluarga mereka dari marabahaya dengan sangat rapih tanpa diketahui oleh siapapun, Bodyguard yang dilatih dan dipilih secara khusus.

 

“Oppa —“ Panggil Minhee manja.

 

“Hmm” jawab Hae Jin melepaskan tautan lengan Minhee padanya, melangkahkan kakinya kebalik meja kerjanya, duduk kembali dikursinya menatap Minhee dengan senyum mengembang diwajahnya, melirik singkat kearah Sora yang cemberut kesal.

 

“Aku Lapar…” ucap Minhee

 

“Makan” Jawabnya dingin.

 

“Baiklah … “ Minhee mengeluarkan telepone gengam dari dalam tasnya, mengetikan sesuatu kemudian memasukannya kembali bersamaan dengan telepon gengam milik Hae Jin yang berbunyi.

 

Biipppp ..

 

“Akan ku adukan tingkah mu ini pada Ayah – makan bersama ku atau Ayah yang akan memarahi mu 😛 “ Ancam Minhee. Hae Jin mendesah melirik Minhee kesal, namun Minhee hanya menjulurkan lidahnya.

 

“Baiklah.. kita makan sekarang” Ucap Hae Jin bangkit dari tempatnya. “Maafkan aku Sora ssi – sepertinya pembicaraan kita berhenti sampai disini, aku harus menemani gadis manja ini makan siang.” Ucap Hae Jin ramah.

 

“Baiklah .. aku akan mengatur jadwal untuk pertemuan kita selanjutnya.” Balas Sora berusaha menyembunyikan kekesalannya, kemudian meninggalkan ruangan Hae Jin dengan perasaan kesal terutama kepada Minhee, wanita Jalang yang akan merebut Hae Jin darinya.

 

Setelah memastikan pintu tertutup rapat, Minhee mendekati Hae Jin. “Aku tidak suka dengan wanita itu.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku rasa dia menyukai mu, dan karena itu aku tidak suka”  jawab Minhee. Hae Jin mengerutkan dahinya  menatap  Minhee. “Jangan Mulai Minhee-ya, sudah waktunya aku menikah, jika kau seperti itu, aku rasa aku akan jadi perjaka tua.”  Hae Jin menghela nafas.

 

“Kau tidak akan menjadi perjaka tua, tentu saja kau akan menikah – tapi tidak dengan wanita itu. Aku punya firasat buruk tentangnya.”

 

“Sok Tau!” Hae Jin meninggalkan Minhee keluar dari ruangannya.

 

“Ya!! Park Hae Jin – Tunggu Aku!” Teriak Minhee berlari menyusul Hae Jin.

 

“Park Hae Jin!!” Panggil Minhee kesal. “Kenapa jalannya cepat sekali!” gerutu Minhee mempercepat jalannya.

 

“Yakkk… PARK HAE JIN!!!” Minhee berlari, kemudian bergelayut manja di lengan kakaknya. Tidak mengindahkan tatapan terkejut para karyawan yang menatap kearahnya.

 

“Kakak Ku yang tampan, baik hati dan sangat menyayangi ku bolehkah kau jalan pelan sedikit?” rajuk Minhee membuat Hae Jin tertawa, tawa yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun kecuali orang terdekatnya. Seluruh karyawan berbisik-bisik mengenai keberadaan Minhee dan Hae Jin, apalagi disaat Hae Jin tertawa yang langsung menjadi Trending Topic di SKY ENTERPRISE.

 

 

“Sepertinya Ayah menyuruh orang-orangnya mengikuti mu” ucap Minhee santai dari kursi penumpang. Ia melirik singkat ke arah spion sebelah kanan dari tempatnya berada. Hae Jin melirik kearah Spion tengah dan kiri mencari keberadaan kendaraan yang dimaksud oleh Minhee.

 

Hae Jin memperhatikan mobil itu dengan seksama, merasakan sesuatu yang aneh karena sang Ayah takkan pernah membiarkan anak-anaknya mengetahui keberadaan SHS. “Kencangkan sabuk pengaman mu!” Perintah Hae Jin. Minhee melihat kearah Hae Jin, ia menangkap bahwa mereka semua bukan suruhan sang Ayah. Hae Jin menginjakkan pedal gasnya dalam-dalam membuat Maserati Grandturismo hitam miliknya melaju dengan kecepatan tinggi.
474d2f1fad98a2ba5404388eb66cb492

 

Minhee memeriksa laci mobil Hae Jin. “Apa yang kau cari?”  tanya Hae Jin tak di jawab oleh Minhee.

 

“Kim Minhee!”

 

“Senjata – dimana senjata mu?!” tanya Minhee.

 

“untuk apa?” Tanya Hae Jin

 

“Cepat!!”

 

“ Dibawah Jok tempat mu”

 

Minhee segera mengambil Handgun milik Hae Jin, memeriksa isi peluru yang ada didalam nya, menarik kokang , siap untuk mengeluarkan timah panasnya. “Jangan gegabah Minhee ya, kita bisa menghindari mereka.” Ucap Hae Jin tanpa menurunkan kecepatanya

 

“Mereka? Bisa kau jelaskan siapa mereka sebenarnya?” Tanya Minhee tajam, menunggu jawaban. “Aku yang seharusnya yang menanyakannya padamu.” Balas Hae Jin.

 

“Aku baru saja tiba Park Hae Jin!” sungut Minhee meraih telepone gengam nya menghubungi Sehun yang berada di kampusnya. Sehun baru keluar dari kelas mengeluarkan telepone gengam dari Jaket jurusan yang ia kenakan, tersenyum melihat nama Minhee muncur di layar IPHONE 7 miliknya.

 

“Nonna..bukan kah kau mau menganggu Hae Jin Hyung?” Ucap Sehun, namun  senyumnya menghilang begitu mendengar suara Minhee yang terdengar berbeda di telinganya.

 

“Ada apa Noona?” tanya Sehun berlari menuju mobilnya.

 

“Kami diikuti oleh dua mobil yang tidak dikenal”

 

“Dimana kalian?” tanya Sehun memasang Earphone pada telinganya.

 

“Yak! Kau bisa melihat keberadaan kami dari Komputer canggih mu itu bukan?! Bantu kami menghindar atau aku akan menembakkan peluru ini kearah mereka!!” teriak Minhee kesal.

 

“Jangan coba-coba! Ini bukan Gone in 60 second “ Terdengar suara Hae Jin memarahi Minhee.

 

“Cih – Selera Film mu tua sekali!” Sindir Minhee.

 

Sehun menghela nafas mendengar ocehan para manusia aneh, ia berhasil masuk kedalam mobil pribadinya, membuka laptop  mengetikan sesuatu diatas keyboard dengan cepat membantu Minhee dan Hae Jin, dan mengirimkan pesan singkat ke Chanyeol. Sehun masuk kedalam sistem lampu lalu lintas Kota Seoul, di layar laptopnya kini terdapat dua layar yaitu keberadaan Mobil Hae Jin dan sistem lalu lintas.

 

“Aku melihat kalian.. belok kanan pada lampu merah didepan kalian! 5 – 4- 3- 2- 1 – Sekarang!” Perintah Sehun kemudian membuat lampu lalu lintas dengan cepat berubah menjadi merah.

 

“Mereka masih mengejar !! “Ucap Minhee yang sedari tadi memasang mode speaker Phone pada telepone gengam miliknya.

 

“Sehun ah!!!” Teriak Minhee tak mendapat respon dari Sehun yang masih sibuk dengan Laptop Miliknya.

 

“Ayah akan marah jika tahu aku melakukan ini..”ucap Sehun tak sedikitpun memalingkan wajahnya dari layar laptop.

 

“Katakan!!” Perintah Hae Jin dan Minhee bersamaan.

 

“Aku akan membuat lampu lalu lintas berwarna hijau bersamaan, Hae Jin Hyung harus sigap namun koseksuensinya adalah kecelakaan akan terjadi.” Jelas Sehun.

 

“Itu terlalu berbahaya – dan kau akan mendapatkan hukuman berat!” jelas  Hae Jin

 

Jari-jari sehun menari dengan cepat pada keyboard laptopnya ketika melihat panggilan masuk di layar  diakhiri dengan menekan tombol enter. “You are online Chanyeol!” ucap Sehun menyatakan bahwa Chanyeol bergabung dalam pembicaraan mereka.

 

“Sehun Ah ! “ Berapa jarak Hae Jin Hyung ke Kantor polisi terdekat?” Tanya Chanyeol.

 

“Hemmm…   10 Km  atau lebih tepatnya 30 Menit dari sekarang.” Jawab Sehun cepat melihat kondiisi tidak terlalu macet.

 

“Hae Jin Hyung, berapa jarak mereka dengan kendaraan kalian?”

 

“they’re close” jawab Minhee menolehkan kepalanya kebelakang, melihat dua sedan hitam sedang menyalip kendaraan di depannya.

 

“Sehun! Cari rumah sakit atau sekolah terdekat – Hae Jin hyung ikuti aba-aba Sehun , aku akan menyusul kalian” ucap  Chanyeol berlari menuju kendaraan miliknya, segera ia menancap gas , tanpa memutus telekomunikasi.

 

“Got It …” Jawab Sehun segera mencari apa yang diinstruksikan oleh Chanyeol.

 

“Sekolah Mark dan Jeno…” ucap Hae Jin mengingat bahwa mereka tidak jauh dari sekolah si kembar.  Sehun langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Hae Jin. “Aku sudah masuk dalam sistem keamanan sekolah, aku akan membuka pintu pagar belakang dari sini – sebelum lampu merah, tepat setelah tous les jours ada gang yang cukup untuk 1 mobil, ikuti aba-aba ku, dalam hitungan ke 3 belok secara patah masuk kedalam sana bersamaan dengan lampu merah akan ku ubah langsung menjadi Hijau.”  Ucap Sehun. Hae Jin  menacapkan Gas nya kembali ,bersiap menunggu aba-aba namun sehun belum juga memberikannya.

 

“SEKARANG!!” Teriak Sehun membuat Hae Jin terkejut, ia segera membanting Stir ke kiri, menginjak pedal rem serta menarik rem tangan secara bersamaan membuat mobil tersebut melintir dengan cepat dan tepat sasaran kemudian Hae Jin kembali menginjak pedal Gas masuk kedalam gang tersebut.

 

“Yaaa!!Kau bisa berhitung tidak?!!!” Omel Minhee.

 

“Aku sudah membuka pintu gerbang belakang sekolah – masuk dan tinggalkan mobil kalian.” Sehun mengabaikan suara kakaknya yang terdengar sangat marah.

 

Setelah berhasil masuk kedalam sekolah, Hae Jin segera memarkirkan kendaraanya bergabung bersama kendaraan lainnnya. Hae Jin dan Minhee segera keluar dari kendaraan dan meninggalkannya begitu saja, sementara itu Jeno dan Mark yang sudah diberikan aba-aba oleh Sehun langsung membungkus mobil Hae Jin dengan sarung Mobil milik mobil mereka ,kemudian kembali ke kelas dengan santai seakan-akan tidak terjadi apapun.

 

 

 

TO BE CONTINUED!

Hallo – Welcome to My New Story  IDENTITY

tadinya cerita ini bercerita tentang Happy Family , ngga ada  konflik ribet kayak yang lain

tapi ternyata, malah kejar-kejaran, senjata  dan berakhir ala detective .. Jadi — Selamat membaca 🙂

nb: untuk yang nungguin Tangled dan Third team ( ceritanya sudah on Progress kok ) hehehe

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: